Pilkada telah usai. Para pemimpin telah terpilih. Saatnya pembuktian
janji-janji yang telah diumbar kepada rakyat. Saatnya melanjutkan
pembangunan yang telah dilakukan pemimpin sebelumnya.
Saatnya menciptakan kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya tanpa hiruk-pikuk yang menjenuhkan. Saatnya mengabdi dan bekerja untuk rakyat. Pada konsepnya, keberhasilan dalam pembangunan ekonomi tidak harus sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil dan hanya berorientasi dalam bentuk angka belaka. Lebih dari itu, pembangunan ekonomi ialah persoalan realita yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.
Pembangunan ekonomi haruslah memerhatikan upaya peningkatan kualitas kehidupan dan kebebasan yang dinikmati. Itulah yang disebut kesejahteraan. Kesejahteraan dengan konsep adil tanpa perbedaan, sesuai Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ada tiga aspek pembangunan dari segi ekonomi yang dapat membuat publik puas atas kinerja para pemimpin, dan pemimpin tersebut dianggap telah berhasil memimpin dengan baik. Aspek pertama, yaitu keberhasilan pemimpin tersebut menurunkan angka kemiskinan.
Kemiskinan bukanlah suatu kejahatan, namun kemiskinan adalah akar dari kejahatan. Bagaimana tidak, kemiskinan menjadi momok menakutkan bagi setiap orang. Tidak ada seorang pun di belahan dunia ini mau hidup miskin. Semua orang ingin hidup sejahtera dan makmur. Karena itu, pemimpin haruslah bersungguh-sungguh menciptakan kehidupan rakyat yang sejahtera. Aspek keberhasilan kedua, mengurangi kesenjangan. Bila kemiskinan berhasil dikurangi, dengan otomatis kesenjangan akan ikut menurun.
Diukur bila tingkat pendapatan meningkat, sejalan dengan meningkatnya konsumsi. Bukan konsumsi terus meningkat, sementara pendapatan tetap stagnan atau bahkan berkurang. Dapat dikatakan pemerataan ialah kunci sukses pemerintahan. Namun, indeks rasio gini yang mengukur ketimpangan kian waktu tidak mengalami perubahan yang signifikan. Solusinya di sini pemerintah haruslah menekan angka kemiskinan sehingga akan berdampak secara otomatis pada penurunan angka kesenjangan.
Aspek ketiga, keberhasilan pemimpin dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Pada dasarnya, bila dinalarkan secara sederhana, kita sadari bahwa bila seseorang telah bekerja, bagaimanapun ia mempunyai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Masalahnya di sini, tenaga kerja tidak dapat diserap oleh lapangan pekerjaan yang tersedia. Pemerintah harus bisa membuat lapangan pekerjaan sebagai solusi itu. Dari tiga aspek yang saling berkaitan di atas tampak jelas bahwa sebenarnya keinginan rakyat itu sangatlah sederhana walau beberapa pandangan menilai keinginan rakyat itu cukup kompleks.
Saya kira, yang menyebabkan kekompleksan itu ialah pemimpin atau pemerintah itu sendiri, yang terlalu tergoda melakukan penyelewengan kekuasaan. Ditambah pula absennya sistem hukum yang mapan makin memudahkan para pemimpin untuk terperangkap dalam praktik yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat.
Muhammad Husein Heikal
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 7 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-07
Saatnya menciptakan kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya tanpa hiruk-pikuk yang menjenuhkan. Saatnya mengabdi dan bekerja untuk rakyat. Pada konsepnya, keberhasilan dalam pembangunan ekonomi tidak harus sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil dan hanya berorientasi dalam bentuk angka belaka. Lebih dari itu, pembangunan ekonomi ialah persoalan realita yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.
Pembangunan ekonomi haruslah memerhatikan upaya peningkatan kualitas kehidupan dan kebebasan yang dinikmati. Itulah yang disebut kesejahteraan. Kesejahteraan dengan konsep adil tanpa perbedaan, sesuai Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ada tiga aspek pembangunan dari segi ekonomi yang dapat membuat publik puas atas kinerja para pemimpin, dan pemimpin tersebut dianggap telah berhasil memimpin dengan baik. Aspek pertama, yaitu keberhasilan pemimpin tersebut menurunkan angka kemiskinan.
Kemiskinan bukanlah suatu kejahatan, namun kemiskinan adalah akar dari kejahatan. Bagaimana tidak, kemiskinan menjadi momok menakutkan bagi setiap orang. Tidak ada seorang pun di belahan dunia ini mau hidup miskin. Semua orang ingin hidup sejahtera dan makmur. Karena itu, pemimpin haruslah bersungguh-sungguh menciptakan kehidupan rakyat yang sejahtera. Aspek keberhasilan kedua, mengurangi kesenjangan. Bila kemiskinan berhasil dikurangi, dengan otomatis kesenjangan akan ikut menurun.
Diukur bila tingkat pendapatan meningkat, sejalan dengan meningkatnya konsumsi. Bukan konsumsi terus meningkat, sementara pendapatan tetap stagnan atau bahkan berkurang. Dapat dikatakan pemerataan ialah kunci sukses pemerintahan. Namun, indeks rasio gini yang mengukur ketimpangan kian waktu tidak mengalami perubahan yang signifikan. Solusinya di sini pemerintah haruslah menekan angka kemiskinan sehingga akan berdampak secara otomatis pada penurunan angka kesenjangan.
Aspek ketiga, keberhasilan pemimpin dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Pada dasarnya, bila dinalarkan secara sederhana, kita sadari bahwa bila seseorang telah bekerja, bagaimanapun ia mempunyai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Masalahnya di sini, tenaga kerja tidak dapat diserap oleh lapangan pekerjaan yang tersedia. Pemerintah harus bisa membuat lapangan pekerjaan sebagai solusi itu. Dari tiga aspek yang saling berkaitan di atas tampak jelas bahwa sebenarnya keinginan rakyat itu sangatlah sederhana walau beberapa pandangan menilai keinginan rakyat itu cukup kompleks.
Saya kira, yang menyebabkan kekompleksan itu ialah pemimpin atau pemerintah itu sendiri, yang terlalu tergoda melakukan penyelewengan kekuasaan. Ditambah pula absennya sistem hukum yang mapan makin memudahkan para pemimpin untuk terperangkap dalam praktik yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat.
Muhammad Husein Heikal
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 7 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-07
Wah, keren ini!
BalasHapusWah, keren ini!
BalasHapusSelamat kawan, salam mahasiswa!
BalasHapus