Anggapan bahwa “Siapa pun pemimpinnya, hidup saya begini-begini saja.
Siapa pun pemerintahnya, tidak ada pengaruhnya bagi saya. Toh, siapa
pun yang menang pemilu/ pilkada, saya tetap makan nasi”, dan sebagainya
merupakan ungkapan dari seorang apatis yang tidak memikirkan dengan
matang bahwa apa yang ia putuskan di bilik suara akan berdampak pada
nasibnya selama beberapa tahun ke depan.
Banyak pemuda di Inggris yang merasa ketakutan saat Brexit. Begitu juga dengan masyarakat Amerika Serikat, banyak yang mengeluarkan protes, long march, dan demonstrasi saat Donald Trump telah dinyatakan sebagai presiden mereka. Tiba-tiba mereka merasa ketakutan dan ragu akan masa depan Amerika.
Hal itu merupakan beberapa contoh bagaimana peristiwa politik dapat berdampak terhadap kehidupan orang banyak. Bagaimana terpilihnya seorang pemimpin menjadi kekhawatiran bagi dunia. Pilkada di Indonesia mungkin dampaknya tidak sedahsyat Brexit ataupun terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika.
Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa hasil dari pilkada pasti akan memengaruhi nasib suatu daerah selama satu periode kepemimpinan ke depan. Beberapa daerah telah mendapatkan pemimpin baru pascapilkada serentak yang lalu. Sementara itu, sebagian lagi akan menghadapi pilkada putaran kedua.
Salah satunya DKI Jakarta. Pilkada DKI Jakarta merupakan pilkada yang paling banyak disorot dibandingkan dengan daerah lainnya. Mulai kampanye pasangan calon yang menyedot perhatian dan menimbulkan perdebatan bahkan pertikaian di media sosial masyarakat Indonesia, hingga debat pasangan calon yang ditayangkan di televisi-televisi nasional.
Sebagai ibu kota Indonesia, tentu wajar jika DKI Jakarta mendapatkan privilege dan spotlight seperti itu. Tidak bisa dimungkiri, Pilkada DKI Jakarta juga akan berdampak lebih besar terhadap pembangunan ekonomi, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Indonesia, dibandingkan dengan daerah lainnya.
Hal ini mengingat bahwa Jakarta masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin mengadu nasib di Ibu Kota. Pilkada juga akan memberikan dampak bagi perekonomian secara nasional, khususnya dalam hal investasi.
Investor akan mempertimbangkan faktor keamanan dan kepastian dalam berinvestasi, yang salah satunya tergantung kepada siapa pemimpin terpilih yang diperoleh melalui pilkada. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan adalah terus mengawal jalannya pilkada putaran kedua bagi daerah yang mengalami pilkada putaran kedua, sedangkan untuk daerah yang telah memiliki pemimpin baru maka saatnya mengawal program-program yang disampaikan oleh pasangan calon pada saat mereka berkampanye.
Pemimpin daerah juga mencerminkan bagaimana masyarakat di daerah tersebut. Pemimpin merupakan “wajah” dari sebuah daerah. Dalam hal pembangunan ekonomi, masyarakat harus cerdas dan kritis, terutama pemilih muda. Masyarakat perlu melihat, apakah program-program yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi yang diusung oleh pasangan calon berpihak kepada rakyat kecil ataukah hanya berpihak kepada pemilik modal besar.
Selain itu, pemilih juga harus dapat melihat apakah program yang diusung juga realistis untuk dilakukan ataukah hanya janji-janji utopis pemanis kampanye. Pemilih harus semakin cerdas, karena sesungguhnya pemilih yang cerdas akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
MIFTAHUL JANNAH
Mahasiswi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesi
Banyak pemuda di Inggris yang merasa ketakutan saat Brexit. Begitu juga dengan masyarakat Amerika Serikat, banyak yang mengeluarkan protes, long march, dan demonstrasi saat Donald Trump telah dinyatakan sebagai presiden mereka. Tiba-tiba mereka merasa ketakutan dan ragu akan masa depan Amerika.
Hal itu merupakan beberapa contoh bagaimana peristiwa politik dapat berdampak terhadap kehidupan orang banyak. Bagaimana terpilihnya seorang pemimpin menjadi kekhawatiran bagi dunia. Pilkada di Indonesia mungkin dampaknya tidak sedahsyat Brexit ataupun terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika.
Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa hasil dari pilkada pasti akan memengaruhi nasib suatu daerah selama satu periode kepemimpinan ke depan. Beberapa daerah telah mendapatkan pemimpin baru pascapilkada serentak yang lalu. Sementara itu, sebagian lagi akan menghadapi pilkada putaran kedua.
Salah satunya DKI Jakarta. Pilkada DKI Jakarta merupakan pilkada yang paling banyak disorot dibandingkan dengan daerah lainnya. Mulai kampanye pasangan calon yang menyedot perhatian dan menimbulkan perdebatan bahkan pertikaian di media sosial masyarakat Indonesia, hingga debat pasangan calon yang ditayangkan di televisi-televisi nasional.
Sebagai ibu kota Indonesia, tentu wajar jika DKI Jakarta mendapatkan privilege dan spotlight seperti itu. Tidak bisa dimungkiri, Pilkada DKI Jakarta juga akan berdampak lebih besar terhadap pembangunan ekonomi, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Indonesia, dibandingkan dengan daerah lainnya.
Hal ini mengingat bahwa Jakarta masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin mengadu nasib di Ibu Kota. Pilkada juga akan memberikan dampak bagi perekonomian secara nasional, khususnya dalam hal investasi.
Investor akan mempertimbangkan faktor keamanan dan kepastian dalam berinvestasi, yang salah satunya tergantung kepada siapa pemimpin terpilih yang diperoleh melalui pilkada. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan adalah terus mengawal jalannya pilkada putaran kedua bagi daerah yang mengalami pilkada putaran kedua, sedangkan untuk daerah yang telah memiliki pemimpin baru maka saatnya mengawal program-program yang disampaikan oleh pasangan calon pada saat mereka berkampanye.
Pemimpin daerah juga mencerminkan bagaimana masyarakat di daerah tersebut. Pemimpin merupakan “wajah” dari sebuah daerah. Dalam hal pembangunan ekonomi, masyarakat harus cerdas dan kritis, terutama pemilih muda. Masyarakat perlu melihat, apakah program-program yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi yang diusung oleh pasangan calon berpihak kepada rakyat kecil ataukah hanya berpihak kepada pemilik modal besar.
Selain itu, pemilih juga harus dapat melihat apakah program yang diusung juga realistis untuk dilakukan ataukah hanya janji-janji utopis pemanis kampanye. Pemilih harus semakin cerdas, karena sesungguhnya pemilih yang cerdas akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
MIFTAHUL JANNAH
Mahasiswi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesi
Komentar
Posting Komentar