Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak dilaksanakan pada hari Rabu,
15 Februari. Meski telah berlalu, nyatanya pilkada serentak kali ini
belum sepenuhnya berakhir.
Problem human error dan cuaca buruk menyebabkan terhambatnya distribusi surat suara sehingga terpaksa pelaksanaan pilkada harus ditunda. Pilkada serentak tahun ini terbukti berhasil menyita perhatian publik, terlebih dinamika yang terjadi di Ibu Kota. Hal ini tak lepas dari menariknya paslon yang menjadi kandidat, tokoh dan partai besar yang terlibat.
Peran media yang mem-blow up dan menyajikan berita yang atraktif di tengah masyarakat turut memengaruhi dinamika politik ini. Publik seolah dilupakan dengan banyaknya “pekerjaan rumah” (PR) yang harus segera dirampungkan. Misalnya pilkada di beberapa daerah yang belum terlaksana alias ditunda, maka penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat harus segera menjalankannya dengan sebaik mungkin.
Adapun mengenai terkait rekapitulasi hasil pemilu, dibutuhkan kerja keras semua pihak, baik penyelenggara, tim pemenang (saksi) dan paslon maupun partisipasi aktif elemen masyarakat sehingga akan meminimalkan potensi munculnya permasalahan atau bahkan pelanggaran pilkada.
Pilkada serentak dengan segala kemungkinan hasilnya tentu tidak akan memuaskan semua pihak. Kendati demikian menjadi hal yang penting bagi masyarakat untuk dapat memetik hikmah dan berharap kebaikan setelah terlaksananya Pilkada Serentak 2017 ini.
Pertama, terwujudnya proses demokrasi yang semakin berintegritas. Demokrasi merupakan sistem yang menghendaki terciptanya partisipasi seluruh rakyat sehingga mekanisme pilkada yang berasaskan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil ini menjadi salah satu pilar demokrasi di negara ini.
Kekurangan dan masalah-masalah yang ditemui dalam pilkada serentak kali ini harus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan pilkada serentak gelombang berikutnya. Kedua, perbaikan perpolitikan di Indonesia. Tak dapat dimungkiri bahwa pilkada serentak, khususnya Pilgub DKI, mencerminkan kompetisi tiga kekuatan politik paling sentral, yakni PDIP, Gerindra, dan Demokrat.
Harapannya, pilkada serentak kali ini dapat menjadi media pembelajaran bagi perpolitikan di Indonesia, utamanya partai politik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang bersih dan berjuang demi kepentingan rakyat. Ketiga, terpilihnya pemimpin yang menyejahterakan.
Siapa pun nanti yang terpilih menjadi pemimpin di daerah-daerah harapannya mampu mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia. Setelah menjadi pemenang, pemimpin yang terpilih harus melepaskan segala kepentingan pribadi dan golongan, lalu menggantinya dengan bekerja untuk kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama dari kepemimpinannya.
RETNO WIDIASTUTI
Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 1 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-01
Problem human error dan cuaca buruk menyebabkan terhambatnya distribusi surat suara sehingga terpaksa pelaksanaan pilkada harus ditunda. Pilkada serentak tahun ini terbukti berhasil menyita perhatian publik, terlebih dinamika yang terjadi di Ibu Kota. Hal ini tak lepas dari menariknya paslon yang menjadi kandidat, tokoh dan partai besar yang terlibat.
Peran media yang mem-blow up dan menyajikan berita yang atraktif di tengah masyarakat turut memengaruhi dinamika politik ini. Publik seolah dilupakan dengan banyaknya “pekerjaan rumah” (PR) yang harus segera dirampungkan. Misalnya pilkada di beberapa daerah yang belum terlaksana alias ditunda, maka penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat harus segera menjalankannya dengan sebaik mungkin.
Adapun mengenai terkait rekapitulasi hasil pemilu, dibutuhkan kerja keras semua pihak, baik penyelenggara, tim pemenang (saksi) dan paslon maupun partisipasi aktif elemen masyarakat sehingga akan meminimalkan potensi munculnya permasalahan atau bahkan pelanggaran pilkada.
Pilkada serentak dengan segala kemungkinan hasilnya tentu tidak akan memuaskan semua pihak. Kendati demikian menjadi hal yang penting bagi masyarakat untuk dapat memetik hikmah dan berharap kebaikan setelah terlaksananya Pilkada Serentak 2017 ini.
Pertama, terwujudnya proses demokrasi yang semakin berintegritas. Demokrasi merupakan sistem yang menghendaki terciptanya partisipasi seluruh rakyat sehingga mekanisme pilkada yang berasaskan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil ini menjadi salah satu pilar demokrasi di negara ini.
Kekurangan dan masalah-masalah yang ditemui dalam pilkada serentak kali ini harus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan pilkada serentak gelombang berikutnya. Kedua, perbaikan perpolitikan di Indonesia. Tak dapat dimungkiri bahwa pilkada serentak, khususnya Pilgub DKI, mencerminkan kompetisi tiga kekuatan politik paling sentral, yakni PDIP, Gerindra, dan Demokrat.
Harapannya, pilkada serentak kali ini dapat menjadi media pembelajaran bagi perpolitikan di Indonesia, utamanya partai politik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang bersih dan berjuang demi kepentingan rakyat. Ketiga, terpilihnya pemimpin yang menyejahterakan.
Siapa pun nanti yang terpilih menjadi pemimpin di daerah-daerah harapannya mampu mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia. Setelah menjadi pemenang, pemimpin yang terpilih harus melepaskan segala kepentingan pribadi dan golongan, lalu menggantinya dengan bekerja untuk kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama dari kepemimpinannya.
RETNO WIDIASTUTI
Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 1 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-01
Komentar
Posting Komentar