Langsung ke konten utama

Menyembuhkan Penyakit Kronis

Ibarat suatu penyakit, seseorang dapat didiagnosis jenis penyakitnya sesuai dengan ciri-cirinya. Misalnya seberapa parah, seberapa berbahaya, apakah menular atau tidak hingga seberapa sulit cara pengobatannya.

Adapun korupsi sebagai suatu penyakit mayoritas bangsa Indonesia saat ini sudah menjadi suatu penyakit kronis. Hal ini didasari dengan tak henti-hentinya kasus yang terkuak mulai dari kasus kecil hingga kasus besar dengan kerugian yang besar pula. Kronisnya penyakit yang satu ini membutuhkan obat semujarab mungkin agar setelah sembuh, penyakit tersebut tidak tumbuh kembali dan tidak menular.

Begitu pula dengan potensi penularannya yang harus disadari oleh semua pihak, khususnya pihak yang rawan melakukan tindak pidana korupsi. Tugas kita adalah berusaha terus mengobati dan mencegah agar korupsi tak terjadi lagi sehingga sembuh tidaknya penyakit ini adalah karena kita yang menentukan. Sebab penyakit ini erat kaitannya dengan nasib bangsa Indonesia ke depan. Terdapat berbagai macam hal yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit ini.

Satu contoh di antaranya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga antikorupsi yang harus didukung penuh, khususnya oleh rakyat. Taring KPK dalam memerangi korupsi di Indonesia sudah tidak bisa diragukan lagi. Tercatat kasus-kasus besar seperti proyek Hambalang, skandal Bank Century hingga yang teranyar kasus e-KTP tak luput dari bidikan KPK. Pada kasus e-KTP, publik seolah mendapat tamparan keras mengingat kasus ini diduga dilakukan anggota DPR.

Lembaga yang idealnya bekerja untuk mewakili suara rakyat demi kesejahteraan rakyat justru melakukan tindakan yang sangat memprihatinkan. Nama-nama besar seperti Setya Novanto hingga Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) disebut-sebut terlibat dalam bancakan korupsi kali ini. Satu hal yang dapat menurunkan integritas wakil rakyat serta kepercayaan publik terhadap wakil rakyat itu sendiri. Korupsi yang terus dilakukan wakil rakyat hingga hari ini merupakan wujud bahwa wakil rakyat sudah tidak menunjukkan pengabdiannya, melainkan orientasi mereka pada kekayaan pribadi.

Persoalan lainnya, pencurian uang rakyat dengan kerugian negara yang fantastis ini dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan. Artinya di balik terjadinya korupsi, pendidikan juga memiliki problematika yang harus segera diatasi. Sebagai refleksi atas itu semua, pendidikan di Indonesia idealnya memberikan pendidikan antikorupsi yang bisa dianggap sebagai upaya pencegahan sejak dini.

Pendidikan yang dimaksud tidak hanya sebatas pada materi pelajaran atau soal-soal latihan, tetapi lebih dari itu adalah budaya dan perilaku antikorupsi. Dengan demikian, korupsi di Indonesia jangan sampai terus menjadi kebiasaan yang diwajarkan oleh lingkungan. Korupsi di Indonesia jangan pula menjadi satu karakter bangsa karena jika sudah menjadi karakter, sulit untuk diubah. Semoga kesadaran seluruh bangsa Indonesia atas bahaya korupsi menjadi sinyal positif segera sembuhnya penyakit di negara ini. Semoga.

HADI MULYONO
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Sabtu 25 Maret 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...