Langsung ke konten utama

Pendidikan Antikorupsi sejak Dini

Memutus mata rantai korupsi membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hal ini disebabkan korupsi sudah mengakar kuat sekian lama.

Penanganannya pun membutuhkan usaha yang kuat, seluruh elemen harus bersatu padu, jikalau ingin negeri ini tidak berada dalam jurang kehancuran. Korupsi yang masif tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, karena sangat merusak nilai-nilai dan jati diri serta melanggengkan tindakan ketidakjujuran. Pintu utama untuk melakukan perang terhadap korupsi yakni melalui pendidikan.

Kualitas pendidikan bisa dilihat dari output yang ditelurkan, yakni kejujuran. Jika sistem pendidikan tidak mampu melahirkan generasi yang berkepribadian dan menjunjung tinggi kejujuran, perlu dipertanyakan kualitas pendidikan tersebut. Pendidikan tidak sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga transfer keteladanan. Jangan sampai seorang pendidik ”hanya” pandai mengucap tentang sesuatu yang baik namun dalam kenyataan tindakan dan perilaku tidak mencerminkan hal tersebut.

Pendidikan antikorupsi harus ditanamkan sejak dini. Ketika manusia berada dalam tahap tersebut, asupan internalisasi sangat mudah masuk. Kita tentu tidak menginginkan anak mencontoh perbuatan yang tidak baik, untuk itulah diperlukan pengawasan dan upaya menyampaikan pengetahuan tentang kebaikan semudah mungkin yang dapat dicerna olehnya.

Tidak selamanya kegiatan belajar harus berada di ruangan kelas. Justru melakukan kegiatan di luar kelas dan berinteraksi dengan lingkungan akan lebih bermakna dalam ingatan anak, tentu dengan bekal teoritis terlebih dahulu. Setelah diberikan pembelajaran tekstual, anak perlu diperlihatkan dengan pembelajaran kontekstual.

Artinya apa yang disampaikan di kelas bukan hanya ada dalam angan dan mengawang, namun hadir nyata dalam kehidupan mereka. Misalnya anak diajak bertemu dengan tukang becak, dengan pemulung, dengan buruh tani, melihat kehidupan keseharian mereka dalam mencari nafkah yang begitu keras. Dengan melihat dan mengetahui secara langsung, anak akan berpikir bahwa mencari uang itu tidak mudah, dan mereka akan paham arti kejujuran dan kerja keras.

Dari hal itu, anak akan menentang tindakan korupsi, yang mengambil sesuatu bukan hak miliknya dan menyengsarakan orang banyak. Mengapa? Karena dana yang seharusnya digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan, membangun gedung sekolah, membangun rumah sakit, membangun jalan raya, justru diambil oleh para koruptor untuk kepentingan dirinya maupun kelompok.

Pendidikan yang baik akan memunculkan rasa kegelisahan di hati anak didik. Kegelisahan seperti apa? Gelisah menyaksikan keadaan bangsa yang kian karut-marut oleh problema ketidakadilan, ketimpangan, dan maraknya pelanggaran hukum. Hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan tersebut, akan muncul spirit untuk melakukan perbaikan di masa mendatang. Perbaikan dengan tidak melakukan korupsi, perbaikan dengan berlaku jujur, perbaikan dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, serta bekerja keras menumbuhkan jiwa merdeka dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

RINGGA ARIF WH
Mahasiswa Sosiologi
Universitas Gadjah Mada

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 16 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=4&date=2017-03-16

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...