Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah
puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan
sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia.
Kata ”ied” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika.
Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan dan penyesatan antar sesama. Ini berakibat pada nilai-nilai religius seseorang akan luntur dan mengakibatkan perpecahan antarsesama agama.
Selain itu kasus korupsi, tindakan penyelewengan yang dilakukan aparat pemerintah semakin membabi buta. Kini politik sudah tidak dimaknai sebagai tindakan kebaikan bersama sebagaimana yang diidealkan filsuf barat Aristoteles. Tapi politik hanya berdimensi kekuasaan dan kepentingan jangka pendek suatu kelompok belaka. Dalam ajaran agama Islam puasa Ramadan dan Idul Fitri (Lebaran) menjadi momen yang tepat untuk kembali pada jati diri manusia yang suci.
Selain itu Ramadan dan Lebaran sangat tepat untuk memupuk sikap toleransi yang kini menjadi modal kekuatan berpolitik dan berdemokrasi di negeri ini sebagaimana Robert David Putnam, ilmuwan politik mutakhir, mengatakan, ”Kehendak baik, persahabatan, simpati, saling percaya, dan hubungan sosial di antara individu dan keluarga yang menciptakan unit sosial ” (Putnam, 2003;4). Masa Ramadan dan Idul Fitri kali ini supaya tak tertutup oleh isu-isu konflik dan berita arus mudik Lebaran.
Mari kita tanamkan kehidupan sosial pada Ramadan kali ini untuk hari Lebaran nanti dengan sikap-sikap toleransi dan rasa persatuan. Dalam Alquran Allah berfirman, ”Tidaklah manusia itu melainkan umat yang satu (sama), kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus/10:19).
Ayat ini mengingatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya manusia itu bersatu, kemudian berselisih, tapi bagaimana perselisihan itu tidak terbawa pada suatu pertikaian yang merusak persaudaraan dan kedamaian di negeri ini. Semoga semua masyarakat Indonesia tetap menjaga persaudaraan dan persatuan masyarakat pada Ramadan dan Idul Fitri ini. Semoga.
MOCH ZAINUL ARIFIN
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP
UIN Syarif Hidayatullah
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 20 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo
Kata ”ied” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika.
Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan dan penyesatan antar sesama. Ini berakibat pada nilai-nilai religius seseorang akan luntur dan mengakibatkan perpecahan antarsesama agama.
Selain itu kasus korupsi, tindakan penyelewengan yang dilakukan aparat pemerintah semakin membabi buta. Kini politik sudah tidak dimaknai sebagai tindakan kebaikan bersama sebagaimana yang diidealkan filsuf barat Aristoteles. Tapi politik hanya berdimensi kekuasaan dan kepentingan jangka pendek suatu kelompok belaka. Dalam ajaran agama Islam puasa Ramadan dan Idul Fitri (Lebaran) menjadi momen yang tepat untuk kembali pada jati diri manusia yang suci.
Selain itu Ramadan dan Lebaran sangat tepat untuk memupuk sikap toleransi yang kini menjadi modal kekuatan berpolitik dan berdemokrasi di negeri ini sebagaimana Robert David Putnam, ilmuwan politik mutakhir, mengatakan, ”Kehendak baik, persahabatan, simpati, saling percaya, dan hubungan sosial di antara individu dan keluarga yang menciptakan unit sosial ” (Putnam, 2003;4). Masa Ramadan dan Idul Fitri kali ini supaya tak tertutup oleh isu-isu konflik dan berita arus mudik Lebaran.
Mari kita tanamkan kehidupan sosial pada Ramadan kali ini untuk hari Lebaran nanti dengan sikap-sikap toleransi dan rasa persatuan. Dalam Alquran Allah berfirman, ”Tidaklah manusia itu melainkan umat yang satu (sama), kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus/10:19).
Ayat ini mengingatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya manusia itu bersatu, kemudian berselisih, tapi bagaimana perselisihan itu tidak terbawa pada suatu pertikaian yang merusak persaudaraan dan kedamaian di negeri ini. Semoga semua masyarakat Indonesia tetap menjaga persaudaraan dan persatuan masyarakat pada Ramadan dan Idul Fitri ini. Semoga.
MOCH ZAINUL ARIFIN
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP
UIN Syarif Hidayatullah
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 20 Juni 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar