Langsung ke konten utama

Pilkada dan Ekonomi di Perbatasan

Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah kepulauan terbanyak. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan menyatakan terdapat 17.508 pulau dengan garis pantai 80,791 km.

Kekayaan alamnya pun tak dapat diragukan lagi, seperti hasil tambang, kehutanan, perkebunan, dan perikanan. Melihat keadaan yang seperti ini, diperlukan upaya penyeimbangan dengan sumber daya manusia dan teknologi produksinya. Peran pemerintahan terutama pejabat publik sangat penting. Pilkada serentak merupakan momentum mencari pemimpin yang berkeadilan dalam mengelola aset pembangunan ini.

Pilkada di 101 daerah telah dilaksanakan. Tak ayal banyak rakyat yang menuntut janji-janji yang diberikan para pemimpin yang terpilih. Memang, janji ini tak bisa langsung direalisasikan secara langsung, tetapi perlu juga diperhitungkan kerugian dan kelebihannya dengan melihat potensi yang dapat dikembangkan di dalamnya. Di Indonesia banyak wilayah yang berbatasan dengan wilayah negara lain.

Keterbelakangan dan kesenjangan sosial di perbatasan sangat tampak. Dilihat dari sudut pandang ekonominya yang masih mengandalkan keadaan alam dan cara pengolahan yang tradisional. Franz Magnis Suseno (1999) mengatakan bahwa faktor yang menentukan perkembangan masyarakat adalah ekonomi.

Ekonomi di perbatasan sering terlihat bahwa sangat berbeda dengan negara tetangganya, salah satunya antara kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia dengan Serawak, Malaysia. Karena itu, mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia lebih mengandalkan pasokan barang dari negeri tetangga.

Faktanya barang mudah untuk didapat dan juga dengan biaya ongkos murah. Berbeda dengan biaya membeli di dalam negeri sendiri yang memerlukan tenaga dan ongkos lebih. Ada pula negara tetangga yang melakukan eksploitasi sumber daya alam secara ilegal di perbatasan yang secara jelas memberikan kerugian negara.

Pemerintah pusat sering fokus dengan pembangunan di wilayah kota dibandingkan dengan di perbatasan sehingga dapat menimbulkan sebuah ketimpangan ekonomi dan sosial. Padahal, di perbatasan pun memerlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk mengembangkan kegiatan positif untuk warganya.

Apalagi dalam membentuk soft-skill untuk pemuda di daerah perbatasan. Kemampuan mengembangkan sumber daya manusia di bidang industri pun sangat diperlukan dalam menunjukkan eksistensi siapa yang terbaik dalam pengembangan sumber daya manusia yang berada di perbatasan.

Pemerintah daerah yang memenangi pilkada ini harus memperbaiki kekurangan yang terjadi di daerah perbatasan. Hal ini dapat dilakukan pemerintah dengan membangun industri baru di perbatasan.

Menurut Hirschman dalam buku Ekonomi dan Pembangunan (2010) mengklasifikasikan industri-industri sehubungan dengan pendirian industri-industri yang akan mendorong investasi lebih jauh pada industri yang lain atau dengan kata lain industri yang akan dibangun di perbatasan berhubungan dengan industri yang berada di kota. Seperti memasok alat produksi.

Hirschman memperkenalkan konsep keterkaitan ke depan dan ke belakang (forward and backward linkage). Sebuah industri dikatakan ke depan jika bisa mendorong timbulnya industri-industri baru dengan menggunakan output-nya.

Dengan pembuatan industri baru yang dilakukan oleh pemerintah, inilah yang dapat mengembangkan potensi di perbatasan. Keterlibatan ke belakang terjadi jika investasi dalam sebuah industri memberikan peningkatan lebih jauh pada investasi di industri yang menyuplai input-nya.

AYENNI AFRIYANI
Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial
Pengurus Lembaga Kajian Mahasiswa
Universitas Negeri Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Sabtu 11 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...