Langsung ke konten utama

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton.

Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek.

Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir yang diakibatkan sampah. Namun lebih dari itu, pola pikir masyarakat wajib diubah untuk cinta pada lingkungan. Pentingnya perubahan paradigma harus menjadi prioritas, rendahnya kesadaran masyarakat juga menjadi pertimbangan pemerintah agar segera membuat tindakan nyata.

Harus diakui bahwa memang sangat sulit mengubah paradigma tertanam di kalangan masyarakat yang hingga kini tidak sadar membuang sampah ke tempatnya. Entah apa yang membuat kita tidak sadar untuk cinta pada lingkungan. Namun pasti, kelemahan ini harus segera dibenahi dengan mengatasi akar persoalannya, yakni diri sendiri. Inovasi dihadirkan di Kota Bandung. Dalam upaya pembentukan karakter pelajar dari kurikulum baru di Kota Parisnya Pulau Jawa itu.

Kurikulum pendidikan ”Masagi” yang memadukan empat hal dalam pendidikan, yaitu agama, bela negara, pendidikan budaya Sunda, dan cinta lingkungan. Penerapan kurikulum ini telah dilakukan tidak hanya dalam proses pembelajaran, tapi juga dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Masagi adalah filosofi Sunda dari kata ”Jelema Masagi”, yakni orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Melalui kurikulum yang inovatif tentu menciptakan generasi unggul di negeri ini tidak hanya cerdas dan berakhlak, juga peduli lingkungan.

Terobosan ini juga dapat menjadi ”pertimbangan” untuk segera berbenah mewujudkan kesadaran akan lingkungan secara bertahap. Selain itu, juga ke depan, upaya peningkatan ekonomi dengan pemanfaatan sampah sebagai karya seni bernilai jual bisa menjadi opsi bagi warga tanah air dalam mengatasi persoalan pengangguran. Upaya ini tentu bisa dimulai dari kalangan pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Selain itu, keluarga juga menjadi sentral perubahan paradigma akan rasa cinta terhadap lingkungan.

Memulai dari hal-hal kecil dengan mengajarkan anak untuk hidup bersih, menanam pohon, dan membuang sampah ke tempatnya, maka pemerintah tidak lagi disibukkan dalam mengatasi persoalan yang diakibatkan sampah.

Yohansen W Gultom
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 6 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...