Langsung ke konten utama

Menghentikan Mitologi Sisiphus

Memberantas korupsi di Indonesia ibarat kisah mitologi Yunani Kuno, Sisiphus. Begitu getir dan absurd. Terlihat nyaris tanpa harapan.

Absurditas Sisiphus lantaran dia dikutuk Dewa Zeus yang mengharuskannya setiap hari mengangkat batu besar ke atas puncak gunung. Tiap kali telah tiba di puncak, batu itu kembali berguling ke bawah. Sisiphus mengangkat batu itu lagi dan terguling kembali. Serupa dengan analogi mitologi di atas, demikianlah cerita korupsi di Indonesia. Para koruptor telah banyak ditangkap, tetapi jumlah mereka tak juga berkurang.

Itu bukti bahwa begitu menariknya korupsi sebagai wujud keserakahan dalam praksis kejahatan kemanusiaan. Esensi korupsi yang merupakan perwujudan dari tindakan amoral yang sejatinya mengkhianati kepercayaan publik. Kita saksikan saja sewaktu berkampanye untuk merebut simpati rakyat, para calon kepala daerah berjanji dan bahkan ada yang berani bersumpah tidak akan melakukan korupsi.

Namun apa kenyataannya? Setelah berhasil duduk di kursi kekuasaan, kita saksikan beberapa dari mereka terjerat janji atau sumpah sendiri. Lantas apakah penyebabnya, sampai-sampai kita tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukan korupsi? Jawabnya singkat saja, yaitu kekuasaan.

Sumber utama korupsi ialah kekuasaan seperti yang dikatakan Michael Johnston dalam bukunya Syndrome of Corruption: Wealth, Power and Democrazy (2005). Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar tercipta peluang untuk penyelewengan. Kekuasaan ini dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi. Kekuasaan itu ibarat mulut buaya dengan gigi tajamnya.

Sampai saat ini korupsi adalah penyakit kronis yang belum ditemukan penyembuhnya. Tragisnya dari tahun ke tahun angka korupsi yang dilakukan para pejabat kian melonjak. Selain kekuasaan, konstitusionalitas antikorupsi juga belum kuat dan mapan, bahkan tergolong lemah. Menurut Profesor Zephyr Teachout, konstitusionalitas prinsip antikorupsi melarang pejabat publik atau aktor politik melakukan aksi politik yang semata-mata dimotivasi oleh kepentingan dirinya daripada kebaikan umum (Redish & Dawson, 2012, hlm 1060).

Lembaga antikorupsi yang telah muncul sejak Orde Baru, mulai dari Tim Pemberantas Korupsi (1967), Komisi Anti-Korupsi (1970), Komisi Empat (1970), Operasi Tertib (1977) hingga Tim Pemberantasan Korupsi (1982) semuanya tidak menorehkan prestasi spektakuler pemberantasan korupsi.

Hingga saat ini single-player lembaga pemberantasan korupsi bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi acuan bagi kepercayaan publik. Padahal di dalamnya tubuh KPK sendiri sangat rentan terhadap korupsi. Dalam kondisi jatuh-bangun, KPK telah dikatakan cukup berhasil dalam menangkap para koruptor. Rentetan nama koruptor telah berhasil dijebloskan ke bui.

Meski kita tak bisa berharap banyak lewat KPK, kita harus tetap memberi dukungan dan kepercayaan besar pada lembaga ini. Karena pada dasarnya masalah korupsi berpulang pada perbaikan moral dan iman para pemimpin. Kini saatnya kita kembali hidupkan harapan bahwa korupsi dapat dihentikan. Bahwa kita tak perlu lagi mengulang mitologi Sisiphus yang begitu getir dan absurd.

MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 13 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=2&date=2017-03-13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...