Langsung ke konten utama

Daerah Pendongkrak Ekonomi Nasional

Setelah riuh pascapilkada, saatnya para kepala daerah yang terpilih melalui ajang pesta demokrasi ini pasang kendali. Tentunya banyak daerah pascapilkada yang dinahkodai kepala daerah masa jabatan baru, baik itu petahana maupun nonpetahana akan berfokus membangun daerahnya.

Kali ini salah satu sektor yang patut dipikirkan para kepala daerah adalah pembangunan melalui sektor perekonomian. Indonesia saat ini dituntut untuk lebih efisien dan efektif dalam menciptakan iklim persaingan yang kondusif dan mampu menekan ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

Bahkan sejumlah permasalahan ekonomi Indonesia butuh ditopang daerah-daerah. Karena tingkat efisiensi dan efektivitas birokrasi pemerintahan daerah akan sangat menentukan kualitas implementasi program-program ekonomi nasional. Lambatnya perekonomian tidak hanya masalah nasional, melainkan juga terjadi di daerah.

Persoalan penyerapan anggaran di daerah semakin membenarkan fakta bahwa betapa penting dan strategis peran kepala daerah dalam pembangunan ekonomi nasional. Era desentralisasi pembangunan membutuhkan perubahan mindset. Dalam perspektif ini, pembangunan nasional merupakan fungsi dan agregasi dari hasil pembangunan di daerah.

Bila ekonomi daerah maju dan berkembang, ekonomi nasional juga maju dan berkembang. Daya saing nasional merupakan agregasi dari daya saing daerah. Rantai produksi nasional merupakan rantai fungsi produksi antardaerah. Selain itu, pascapilkada pemimpin daerah harus memahami keuangan daerah.

Banyaknya pimpinan daerah yang tersangkut korupsi juga mencerminkan rendahnya pemahaman tentang tata pemerintahan yang mengedepankan prinsip-prinsip good governance. Orientasi kewirausahaan para kepala daerah juga perlu dikembangkan.

Ini lantaran potensi di daerah masih banyak yang dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan, pengentasan masyarakat dari kemiskinan, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja. Kemitraan strategis dengan BUMN dan pembentukan BUMD dapat menjadi pilihan kebijakan untuk optimalisasi potensi ekonomi di daerah.

Simpulannya adalah pilkada berdampak besar bagi perekonomian Indonesia, bukan hanya dari sisi politik saja, melainkan keseluruhan dari kepentingan negara ini. Tentunya jika para kepala daerah mampu dengan ulet membangun daerah pascapilkada, pilkada akan membuat perekonomian nasional lebih bersaing dan meningkat.

Namun, sebaliknya, jika momen pascapikada diisi dengan sesuatu yang negatif, hal itu tidak hanya akan berdampak buruk bagi politik di Indonesia, tetapi juga bagi seluruh sektor perekonomian di Tanah Air.

PINTO BUANA PUTRA
Mahasiswa Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Gadjah Mada

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 1 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=4&date=2017-03-01

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...