Langsung ke konten utama

Mendongeng tentang Kejujuran

Korupsi di negeri ini bagai musim yang silih berganti. Tidak memedulikan kondisi negeri yang masih menata perekonomian.

Seperti baru-baru ini kasus megakorupsi e-KTP yang tengah bergulir. Uang negara Rp5,9 triliun yang dikucurkan untuk pembaharuan KTP mengalir ke kantong para pemegang kekuasaan. Nama-nama besar dan petinggi negeri terindikasi ikut terlibat. Mereka memberikan contoh perlambangan keruntuhan kejujuran. Kalau kondisi demikian terus berlanjut, kita akan miskin keteladanan di rumah sendiri (negara). Keruntuhan kejujuran ini justru mengudarkan semangat yang diusung pendidikan kita.

Semangat untuk membangun nilai pendidikan karakter, salah satunya adalah kejujuran. Kita tengok kurikulum K-13 yang menitikberatkan pada sikap dan perilaku siswa. Ini menjadi angin segar bagi orangtua dan anak-anak negeri untuk menumbuhkan karakter. Pergeseran dari kurikulum sebelumnya yang lebih menekankan afektif memberikan indikator melemahnya karakter bangsa ini. Kepedulian terhadap pendidikan karakter ini sewajarnya menjadi cambuk bagi para penguasa negeri. Cambuk karena gagal memberikan teladan terbaik untuk para generasi bangsa.

Karena yang tercermin adalah kebohongan melalui tindakan korupsi. Kebohongan yang mengudarkan fakta bahwa dirinya gagal menjadi guru kehidupan bagi penerus bangsa. Bagi pelaku yang tertangkap sebagai perajut benang korupsi, tidak ada kata lain kecuali dihukum seberat mungkin. Tujuannya tidak lain untuk memberikan efek jera bagi pelaku. Ini menjadi kewenangan pihak peradilan untuk berani melakukan hal demikian. Selain itu, para pelaku juga perlu mendapatkan sanksi sosial. Sanksi sosial ini dapat dilakukan dengan mengucilkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk jangka panjang penanggulangan korupsi juga penting untukdiperhatikan. Sasaran utama tidak lain adalah lingkup pendidikan. Dengan tujuan untuk mempersiapkan amunisi bangsa yang kedepannya menjunjung nilai kejujuran. Menanamkan kejujuran melalui pembelajaran mendongeng. Kita ketahui mendongeng tidak lain adalah instrumen untuk menanamkan pendidikan karakter. Ini menjadi titik temu bahwa tindakan korupsi mampu dicegah sedini mungkin melalui mendongeng. Guru perlu menyiapkan sedikit waktu sekurangnya 15 menit setiap pembelajaran di sekolah untuk mendongeng.

Di sinilah tugas guru untuk memberikan cerita yang bermuatan nilai kejujuran. Melalui pembelajaran mendongeng dipastikan korupsi tidak akan membumi. Nilai kejujuran akan terbangun dan anak ketika dewasa akan mengusung misi kejujuran di berbagai ranah kehidupan, terutama ketika menjadi pemimpin negeri.

Agus Setiawan
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 22 Maret 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-03-22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...