Langsung ke konten utama

Pilkada Tanpa Provokasi di Medsos

Jelang berlangsungnya pilkada serentak 2017 yang diadakan di 101 daerah di Indonesia, masyarakat patut waspada terhadap potensi meningkatnya provokasi di media sosial (medsos).

Provokasi di medsos jelang pemilihan kepala daerah sendiri bukanlah isapan jempol belaka. Hal tersebut dapat kita lihat dari banyak kabar hoax, status yang berisikan ujaran kebencian, dan fitnah yang beredar luas di tengah-tengah masyarakat pengguna medsos. Provokasi di medsos terhitung efektif untuk dilaksanakan.

Selain karena pengguna medsos di Indonesia terhitung cukup besar, hal itu juga bisa dianggap menghemat anggaran ketimbang melakukan provokasi langsung di dunia nyata. Karena itu, provokasi di medsos sama seperti peredaran narkoba yang harus diberantas, karena dapat merusak pikiran orang banyak terutama menjelang dilakukannya pilkada serentak.

Provokasi di medsos senantiasa mengakibatkan kedamaian yang diharapkan hadir di saat sebelum dan sesudah pesta demokrasi Indonesia seolah-olah seperti mimpi yang sulit dicapai. Hal tersebut disebabkan dampak provokasi di medsos itu sendiri tidak pernah hanya berhenti saat pemilihan, tetapi berlanjut hingga sesudahnya.

Misalnya saja pasca-Pilpres 2014, yang sampai saat ini provokasi terus merongrong pemerintahan melalui berita hoax dan ujaran kebencian. Bahkan, ujaran kebencian juga masih dialami oleh Prabowo selaku lawan Jokowi di pilpres melalui bully di medsos. Belajar dari Pilpres 2014 itulah kemudian sangat penting untuk menjauhkan pilkada serentak2017dari upaya provokasi di medsos.

Apalagi, pilkada serentak tahun ini diadakan di 101 daerah di Indonesia. Artinya, jika semua daerah tersebut ikut masuk dalam pusaran provokasi di medsos bisa berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan politik nasional. Rasionalkah? Tentu saja, hiruk-pikuk yang terjadi jelang Pilkada DKI Jakarta saja ternyata bisa memberikan sedikit pengaruh terhadap kegoyahan stabilitas keamanan dan politik Indonesia.

Sebagian masyarakat pengguna medsos yang berstatus sebagai warga non-Jakarta pun ikut-ikutan saling lempar ujaran kebencian, sehingga hal itu menyebabkan suhu politik memanas, keamanan negara goyah, dan politik Indonesia pun terlihat tidak sehat karena praktik-praktik upaya provokasi.

Bayangkan jika 100 daerah di luar Jakarta juga masuk dalam pola yang sama. Oleh karena itu, pilkada serentak 2017 sejatinya harus menjadi ajang pembaruan dari cara merayakan demokrasi yang selama beberapa tahun belakangan berjalan. Menjadi masyarakat yang cermat agar tidak termakan upaya provokasi di medsos, sangatlah penting agar proses pemilihan dapat berjalan dengan damai.

KRISTOFORUS BAGAS ROMUALDI
Mahasiswa FKIP Sejarah
Universitas Sanata Dharma

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 8 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-08

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...