Setiap masa mempunyai warna tersendiri. Setiap warna mempunyai tujuan
dan kebijakan yang berbeda. Tujuan dan kebijakan yang berbeda itu
berdampak kepada masyarakat yang menjadi goal bagi kesuksesan pemimpin
pada periode itu.
Sebagian masyarakat diuntungkan dan sebagian lagi tidak. Begitu seterusnya yang dirasakan masyarakat tentang sosok pemimpin yang silih berganti. Gejolak seperti ini yang kita rasakan pada Pilkada Serentak 2017. Pilkada bukan hanya membicarakan tentang calon pemimpin masing-masing daerah. Yang menjadi perhatian besar saat ini adalah jumlah pemilih pemula dan pemilih muda yang cukup potensial memengaruhi surat suara.
Pemilih pemula tidak hanya pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak suaranya, tetapi juga penentu kemenangan calon pemimpin dalam pilkada. Pilkada tidak luput dari permasalahan yang masih banyak terjadi di negeri ini. Menurut Ubedilah Badrun (2017), lebih dari 60% pemilih di Jakarta adalah pemilih rasional dan sisanya pemilih tradisional yang turun-temurun memilih partai itu terus-menerus.
Pemilih pemula rentan terintervensi dari pemilih lama yang notabene merupakan pemilih tradisional. Mereka terbujuk oleh orang tuanya ataupun orang terdekatnya yang merupakan pemilih tradisional untuk memilih pemimpin berdasarkan partai yang mereka pilih turun-menurun. Hal ini menjadi problematika yang kita hadapi sekarang. Semua pemilih seharusnya memilih berdasarkan moto KPU yaitu langsung, umum, bebas, dan rahasia.
Generasi muda harus bersikap kritis pada pilkada kali ini. Tidak ada lagi kita lihat intervensi atau paksaan yang dilakukan untuk memilih pemimpin berdasarkan yang mereka pilih. Kekritisan generasi muda dapat dilihat pada pilkada nanti saat pemimpin sudah terpilih. Apakah pemimpin yang terpilih berkualitas atau tidak. Itu tergantung pada masyarakat terkhusus pemilih muda.
101 pilkada membawa 101 harapan untuk tiap daerah berarti harapan negeri ini ada di generasi mudanya yang memiliki hak suara yang cukup memengaruhi pemimpin yang terpilih. Pilkada 2017 menjadi ajang bagi masyarakat dan generasi mudanya untuk belajar menjadi pemilih cerdas dengan berpikir rasional dan kritis terhadap calon pemimpin mereka. Melalui debat kandidat, kampanye, visi-misi, dan sebagainya, dari sana terlihat kapasitas integritas seorang pemimpin.
Pemilih yang cerdas merupakan pemilih rasional yang melihat potensi calon pemimpin berdasarkan argumentasinya. Argumentasi yang kuat dari calon pemimpin merupakan penentu pemimpin tersebutlah yang kita pilih. Tentu kita berharap pada Pilkada 2017 ini tidak ada lagi yang memilih pemimpin dengan cara tradisional sehingga pemimpin yang terpilih nanti merupakan pemimpin yang benar- benar mempunyai integritas mumpuni sebagai pemimpin di daerahnya. Bukan pemimpin yang mempunyai eksistensi, tapi kapasitas integritasnya nol besar. Semoga.
RADEN BIMO WAHYU WIBOWO
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 21 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-21
Sebagian masyarakat diuntungkan dan sebagian lagi tidak. Begitu seterusnya yang dirasakan masyarakat tentang sosok pemimpin yang silih berganti. Gejolak seperti ini yang kita rasakan pada Pilkada Serentak 2017. Pilkada bukan hanya membicarakan tentang calon pemimpin masing-masing daerah. Yang menjadi perhatian besar saat ini adalah jumlah pemilih pemula dan pemilih muda yang cukup potensial memengaruhi surat suara.
Pemilih pemula tidak hanya pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak suaranya, tetapi juga penentu kemenangan calon pemimpin dalam pilkada. Pilkada tidak luput dari permasalahan yang masih banyak terjadi di negeri ini. Menurut Ubedilah Badrun (2017), lebih dari 60% pemilih di Jakarta adalah pemilih rasional dan sisanya pemilih tradisional yang turun-temurun memilih partai itu terus-menerus.
Pemilih pemula rentan terintervensi dari pemilih lama yang notabene merupakan pemilih tradisional. Mereka terbujuk oleh orang tuanya ataupun orang terdekatnya yang merupakan pemilih tradisional untuk memilih pemimpin berdasarkan partai yang mereka pilih turun-menurun. Hal ini menjadi problematika yang kita hadapi sekarang. Semua pemilih seharusnya memilih berdasarkan moto KPU yaitu langsung, umum, bebas, dan rahasia.
Generasi muda harus bersikap kritis pada pilkada kali ini. Tidak ada lagi kita lihat intervensi atau paksaan yang dilakukan untuk memilih pemimpin berdasarkan yang mereka pilih. Kekritisan generasi muda dapat dilihat pada pilkada nanti saat pemimpin sudah terpilih. Apakah pemimpin yang terpilih berkualitas atau tidak. Itu tergantung pada masyarakat terkhusus pemilih muda.
101 pilkada membawa 101 harapan untuk tiap daerah berarti harapan negeri ini ada di generasi mudanya yang memiliki hak suara yang cukup memengaruhi pemimpin yang terpilih. Pilkada 2017 menjadi ajang bagi masyarakat dan generasi mudanya untuk belajar menjadi pemilih cerdas dengan berpikir rasional dan kritis terhadap calon pemimpin mereka. Melalui debat kandidat, kampanye, visi-misi, dan sebagainya, dari sana terlihat kapasitas integritas seorang pemimpin.
Pemilih yang cerdas merupakan pemilih rasional yang melihat potensi calon pemimpin berdasarkan argumentasinya. Argumentasi yang kuat dari calon pemimpin merupakan penentu pemimpin tersebutlah yang kita pilih. Tentu kita berharap pada Pilkada 2017 ini tidak ada lagi yang memilih pemimpin dengan cara tradisional sehingga pemimpin yang terpilih nanti merupakan pemimpin yang benar- benar mempunyai integritas mumpuni sebagai pemimpin di daerahnya. Bukan pemimpin yang mempunyai eksistensi, tapi kapasitas integritasnya nol besar. Semoga.
RADEN BIMO WAHYU WIBOWO
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 21 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-21
Komentar
Posting Komentar