Langsung ke konten utama

Kompetisi Tanpa Korupsi!

Ada 101 daerah yang akan menjadi panggung kompetisi demokrasi dalam gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017. Dari 101 daerah itu, terdapat 7 provinsi, 18 kota, serta 76 kabupaten.

Kenyataannya, perhatian publik dan berbagai pemberitaan di ruang publik republik ini lebih dominan menyajikan seputar ”panas”- nya dinamika panggung Pilkada DKI Jakarta. Sebagaimana tema Poros Mahasiswa periode ini: ”101 Pilkada, 101 Harapan”, kita tentu sadar bahwa pilkada bukan hanya milik Jakarta, melainkan ada 100 daerah lain yang sama-sama mesti kita sukseskan.

Selain kesuksesan dalam penyelenggaraan (prosedural), kita pun tentu saja berharap secara substansial Pilkada Serentak 2017 ini akan dapat mewujudkan harapan-harapan rakyat. Selain harapan akan terwujud kemajuan daerah serta tercapai keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya, tak kalah besarnya harapan masyarakat agar pilkada kali ini dapat meminimalisasi atau bahkan meniadakan sama sekali ”kader-kader koruptor” yang akan menduduki ”orang nomor 1 dan 2” di daerah.

Jika kepala daerah yang korup itu terus terproduksi, sejatinya harapan untuk mewujudkan kemajuan daerah serta keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat hanyalah harapan hampa belaka. Hal ini bukanlah mengada-ada karena sejak dilakukan pilkada langsung pada 2005 hingga Desember 2013 tercatat ada 311 dari 530 kepala daerah di Tanah Air yang terjerat kasus hukum dengan 86% di antaranya terjerat kasus korupsi (daerah.sindonews.com).

Menurut catatan ICW, selama periode 2010-2015 sebanyak 110 bupati, 34 wali kota, 16 wakil bupati, 14 gubernur, 7 wakil wali kota, dan 2 wakil gubernur tersandung kasus korupsi. Untuk itu, penulis yakin bahwa dari ”101 Pilkada, 101 Harapan”, salah satu harapan (utama) yang ada di dalamnya ialah harapan agar kompetisi demokrasi ini tidak akan menghasilkan kepala daerah yang korupsi, melainkan dari Pilkada Serentak 2017 ini akan lahir pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan amanah, yang cakap baik secara moral, mental, maupun intelektual.

Dalam bahasa yang lain, pemimpin yang memiliki visi serta memiliki kemampuan dan keberanian untuk mewujudkan visinya. Visi yang bukan hanya untuk kepentingan sempit dan sesaat, bukan juga untuk keuntungan diri dan koleganya sendiri, namun visi untuk memajukan daerah dan menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Untuk menghadirkan pemimpin ideal yang demikian, sejatinya semua itu berpulang kembali kepada rakyat, selaku pemilih, sekaligus sebagai ”pemegang kuasa” yang sejati dalam demokrasi. Pada titik ini, kita memang dituntut untuk jangan asal coblos. Menjatuhkan pilihan secara bijak, cerdas, dan cermat adalah syarat utama untuk mendapatkan pemimpin yang ideal.

Maka itu, rakyat memang jangan mau dibodohi oleh beragam pembodohan seperti politik uang! Karena, siapa pun yang mulai dengan politik uang, hampir pasti akan berakhir dengan melakukan aksi korupsi, suatu penyakit bangsa yang harus kita habisi bersama. Wallahualam.

RIDWAN NANDA MULYANA
Mahasiswa Jurusan Sejarah
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro Semarang

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 9 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=4&date=2017-02-09

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...