Langsung ke konten utama

Insentif Peningkatan Investasi

Pilkada atau pemilihan kepala daerah dalam pelaksanaannya hampir selalu menimbulkan polemik antargolongan dalam masyarakat, terutama di Indonesia.

Indonesia merupakan negara demokrasi yang pemilihan kepala negara maupun kepala daerahnya dipilih secara langsung. Pemilihan kepala daerah di Indonesia harus melalui beberapa tahapan transformasi sampai akhirnya dapat dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada awal kemerdekaan sampai sebelum Era Reformasi, pilkada masih dilakukan secara tidak langsung.

Namun, hal tersebut berubah setelah Era Reformasi atau dengan kata lain pilkada secara langsung baru dimulai setelah Era Reformasi. Pengertian pilkada secara langsung terkadang dianggap sebagai pisau bermata dua.

Jika dilihat dari persepsi positif, pilkada secara langsung merupakan ladang bagi seluruh rakyat untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus sebagai bentuk nyata rakyat bahwa rakyat pun ikut andil dalam pembentukan pemerintahan periode selanjutnya. Hal tersebut berbeda jika dilihat dari persepsi negatif, pilkada secara langsung yang merupakan pesta demokrasi rakyat di mana rakyat “bebas” melakukan apa saja, termasuk tindakan huru-hara baik yang dilandasi inisiatif diri sendiri maupun dimobilisasi oleh salah satu kandidat calon kepala daerah.

Terlepas dari itu, sebagai rakyat yang taat akan hukum negara, sebaiknya kita mengikuti pilkada secara langsung sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. Ada sistem quick count yang dilakukan setelah berakhir pilkada dapat membantu memberi gambaran tentang kandidat mana yang terpilih.

Kandidat terpilih merupakan kandidat yang paling baik tentu karena dipilih langsung oleh suara rakyat berdasarkan visi dan misi yang telah disampaikan pada masa kampanye sebelumnya. Visi dan misi kandidat terpilih akan menjadi sorotan publik sebagai gambaran program kerja dalam pemerintahan periode selanjutnya dan akan dilihat dampaknya dari berbagai aspek kehidupan salah satunya aspek ekonomi.

Jika dari aspek ekonomi terlihat akan menguntungkan, itulah yang melandasi pilkada sebagai insentif bagi para investor dalam menanamkan dan mengembangkan modalnya. Menurut Anthony Gidden, uang akan mengalir ke tempat yang paling menguntungkan. Ada peningkatan modal investasi akan berdampak baik untuk pembangunan ekonomi nasional.

Hal tersebut karena investasi merupakan modal dalam pengembangan pembangunan nasional. Ketika investasi meningkat, modal pembangunan pun ikut meningkat yang akan berdampak positif bagi perluasan lapangan pekerjaan. Perluasan lapangan pekerjaan akan meningkatkan kesempatan kerja sehingga angka pengangguran dapat menurun yang akhirnya masalah distribusi pendapatan yang tidak merata dapat diatasi secara perlahan.

Distribusi pendapatan merupakan salah satu proxy untuk melihat angka kemiskinan di Indonesia. Jika distribusi pendapatan dapat diatasi, dengan kata lain masalah kemiskinan di Indonesia pun sudah dapat diperbaiki. Karena itu, pilkada secara langsung yang merupakan pesta demokrasi rakyat seharusnya tidak disalah gunakan untuk menguntungkan oknum-oknum tertentu. Hal tersebut karena output yang dihasilkan dari pilkada sebenarnya berdampak luas dan baik bagi pembangunan negeri ini, Indonesia.

IRVIYANTI YUNITA SARI
Mahasiswi Fakultas Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan
Institut Pertanian Bogor

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 24 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...