Pesta demokrasi akbar bertajuk pemilihan kepala daerah (pilkada)
dipastikan digelar pekan depan. Kita berharap dapat menjaring sosok
pemimpin daerah terbaik lewat pilkada.
Pasalnya, diakui atau tidak, negeri ini masih dilanda krisis kepemimpinan. Figur pemimpin yang bersih dan jujur seolah menjadi barang langka yang sulit ditemukan sehingga tak sedikit pula yang merasa pesimis, akankah pilkada ini benar-benar mampu menjaring pemimpin daerah yang menjadi dambaan rakyat.
Meskipun demikian, di tengah-tengah rasa pesimis ini masih terselip rasa optimistis, harapan hadirnya pemimpin daerah yang mampu membawa roda pembangunan daerahnya ke arah lebih baik. Dalam mewujudkannya, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan dan sinergitas seluruh elemen masyarakat seusai pilkada ini.
Baik pihak yang menang maupun yang kalah harus bersatu padu dan bahu-membahu membangun daerahnya demi kesejahteraan bersama. Rekonsiliasi juga perlu semai seusai pilkada ini. Jangan sampai malah berseteru atau menyulut api dendam ibarat ”bara dalam sekam” yang sulit padam.
Mengingat bagaimanapun, keberhasilan kepala daerah yang terpilih dalam mewujudkan visimisinya dan membangun daerahnya membutuhkan partisipasi segenap masyarakat. Tentu proses ini akan berjalan lebih efektif manakala di kalangan warga masyarakat tidak dihadapkan konflik ataupun perpecahan, termasuk pihak yang kalah tetap punya tanggung jawab moral untuk mendukung penuh kepala daerah yang terpilih.
Begitu pun pihak yang menang, juga harus merangkul pihak yang kalah untuk bergandengan tangan bergerak bersama dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Sudah saatnya seluruh masyarakat sadar, bahwa pilkada merupakan mekanisme demokrasi dalam rangka untuk memilih sosok pemimpin daerah yang harapan kita.
Siapa pun yang terpilih harus kita dukung, bukan malah dibendung ruang geraknya. Tugas kita yang selanjutnya adalah mengawal, mengontrol, dan mengawasi gerak langkah pemimpin daerah yang baru. Dalam rangka menyongsong MEA, tentu kehadiran pemimpin daerah yang jujur, bersih, dan berkarakter sangatlah diharapkan.
Paling tidak ada empat variabel sebagai kriteria pemimpin yang berkarakter sebagaimana telah dituturkan oleh Gari Yulk (1994), yaitu personality integrity atau integritas kepribadian; proactive yaitu dapat menjadi teladan yang baik; resourceful yang merupakan kemampuan mengerahkan seluruh sumber daya; dan managerial tool atau unsu-runsur manajemen.
Sebagai kepala daerah yang terpilih secara demokratis, ada baiknya juga meneladani nasihat bijak yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, yaitu pertama, ”ing ngarso sung tulodo” yang artinya ketika menjadi di depan pemimpin mampu menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya. Kedua, ”ing madyo mangun karso” yang berarti bila pemimpin berada di tengah-tengah rakyatnya mampu memberikan motivasi dan inspirasi untuk bergerak maju.
Dan ketiga, ”tut wuri Handayani”, yaitu pemimpin harus menghargai dan mengapresiasi, serta tidak memandang remeh rakyatnya. Harapannya, jika itu semua disadari penuh untuk kemudian diamalkan oleh para kepala daerah yang baru terpilih. Dan, tentunya dengan didukung oleh segenap warga masyarakat, niscaya akselerasi pembangunan daerahnya akan dapat terwujud dan cita-cita pembangunan selama lima tahun ke depan akan tercapai. Semoga!
SUWANTO
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 10 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-10
Pasalnya, diakui atau tidak, negeri ini masih dilanda krisis kepemimpinan. Figur pemimpin yang bersih dan jujur seolah menjadi barang langka yang sulit ditemukan sehingga tak sedikit pula yang merasa pesimis, akankah pilkada ini benar-benar mampu menjaring pemimpin daerah yang menjadi dambaan rakyat.
Meskipun demikian, di tengah-tengah rasa pesimis ini masih terselip rasa optimistis, harapan hadirnya pemimpin daerah yang mampu membawa roda pembangunan daerahnya ke arah lebih baik. Dalam mewujudkannya, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan perjuangan dan sinergitas seluruh elemen masyarakat seusai pilkada ini.
Baik pihak yang menang maupun yang kalah harus bersatu padu dan bahu-membahu membangun daerahnya demi kesejahteraan bersama. Rekonsiliasi juga perlu semai seusai pilkada ini. Jangan sampai malah berseteru atau menyulut api dendam ibarat ”bara dalam sekam” yang sulit padam.
Mengingat bagaimanapun, keberhasilan kepala daerah yang terpilih dalam mewujudkan visimisinya dan membangun daerahnya membutuhkan partisipasi segenap masyarakat. Tentu proses ini akan berjalan lebih efektif manakala di kalangan warga masyarakat tidak dihadapkan konflik ataupun perpecahan, termasuk pihak yang kalah tetap punya tanggung jawab moral untuk mendukung penuh kepala daerah yang terpilih.
Begitu pun pihak yang menang, juga harus merangkul pihak yang kalah untuk bergandengan tangan bergerak bersama dalam mewujudkan cita-cita pembangunan. Sudah saatnya seluruh masyarakat sadar, bahwa pilkada merupakan mekanisme demokrasi dalam rangka untuk memilih sosok pemimpin daerah yang harapan kita.
Siapa pun yang terpilih harus kita dukung, bukan malah dibendung ruang geraknya. Tugas kita yang selanjutnya adalah mengawal, mengontrol, dan mengawasi gerak langkah pemimpin daerah yang baru. Dalam rangka menyongsong MEA, tentu kehadiran pemimpin daerah yang jujur, bersih, dan berkarakter sangatlah diharapkan.
Paling tidak ada empat variabel sebagai kriteria pemimpin yang berkarakter sebagaimana telah dituturkan oleh Gari Yulk (1994), yaitu personality integrity atau integritas kepribadian; proactive yaitu dapat menjadi teladan yang baik; resourceful yang merupakan kemampuan mengerahkan seluruh sumber daya; dan managerial tool atau unsu-runsur manajemen.
Sebagai kepala daerah yang terpilih secara demokratis, ada baiknya juga meneladani nasihat bijak yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, yaitu pertama, ”ing ngarso sung tulodo” yang artinya ketika menjadi di depan pemimpin mampu menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya. Kedua, ”ing madyo mangun karso” yang berarti bila pemimpin berada di tengah-tengah rakyatnya mampu memberikan motivasi dan inspirasi untuk bergerak maju.
Dan ketiga, ”tut wuri Handayani”, yaitu pemimpin harus menghargai dan mengapresiasi, serta tidak memandang remeh rakyatnya. Harapannya, jika itu semua disadari penuh untuk kemudian diamalkan oleh para kepala daerah yang baru terpilih. Dan, tentunya dengan didukung oleh segenap warga masyarakat, niscaya akselerasi pembangunan daerahnya akan dapat terwujud dan cita-cita pembangunan selama lima tahun ke depan akan tercapai. Semoga!
SUWANTO
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 10 Februari 2017)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2017-02-10
Komentar
Posting Komentar