Pemilihan kepala daerah (pilkada) merupakan salah satu proses dalam
politik demokrasi di mana hak-hak suara rakyat menjadi penting.
Secara administratif pada pilkada, hak suara diserahkan sepenuhnya kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Masyarakat bisa menyuarakan aspirasi dan memiliki hak pilih untuk menentukan pemimpinnya. Pilkada 2017 memang sedikit memanas dan menarik untuk selalu diperbincangkan, khususnya Pilkada DKI Jakarta yang selalu menjadi pemberitaan utama media massa. Pada Pilkada DKI putaran kedua, Ahok-Djarot dinyatakan kalah dengan perolehan suara 42,05% atau 2.351.245 suara dibanding dengan Anis-Sandi dengan perolehan suara 57,95% atau 3.240.332 suara (sumber: www.pilkada2017.kpu.go.id).
Beberapa karangan bunga dari pendukung Ahok-Djarot yang banyak berdatangan dan menghiasi balai kota, juga membawa pesan perdamaian. Secara simbolis, pendukung Ahok-Djarot tetap mendukung kepemimpinan Ahok-Djarot, namun bukan berarti menolak Anis-Sandi sebagai gubernur yang baru. Karangan bunga hanyalah simbol terima kasih dan perdamaian bahwa kekalahan Ahok-Djarot telah diterima oleh pendukungnya secara bijaksana. Masyarakat Indonesia memang telah dewasa menyikapi perbedaan, kekalahan, bahkan rasa toleransi.
Pancasila sebagai ideologi negara yang dipilih oleh para pejuang kemerdekaan yang melalui proses sangat panjang rupanya berdampak terhadap rasa toleransi dan tingginya solidaritas masyarakat. Solidaritas yang disebut Ibnu Khaldun sebagai rasa persatuan karena adanya kesamaan ini ternyata juga masih dimiliki oleh masyarakat kita. Bukan karena kesamaan agama, namun kesadaran bahwa warga negara Indonesia memiliki kesamaan ideologi dengan menerima berbagai perbedaan, baik suku, bahasa, agama, ras, dan sebagainya demi persatuan bangsa. Selain kedewasaan dalam solidaritas yang melahirkan rasa persatuan, masyarakat Indonesia juga semakin dewasa dalam keterbukaan.
Memilih untuk menyuarakan aspirasi melalui wadah-wadah yang ada sehingga tidak terjadi anarki dan kekerasan atau bahkan bentrok antara masyarakat dan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah, serta bentrok antara satu ideologi dan ideologi lainnya. Rupanya public sphere (ruang publik) menurut Jurgen Habermas memang menjadi solusi bagi penganut sistem demokrasi, terutama dalam demokrasi deliberatif. Pada dasarnya, filosofi dari konsep demokrasi deliberatif adalah sebuah perjalanan demokrasi yang amat percaya dengan proses diskursus yang berkembang di masyarakat, dan tentunya fondasi utama dalam sebuah diskursus di masyarakat adalah proses komunikasi.
Komunikasi memang menjadi solusi bagi suara-suara rakyat, sehingga rakyat menjadi subjek yang penting dalam proses politik dan pembangunan. Maka ruang-ruang publik memang harus tercipta, dimanfaatkan, dan menjadi kajian tersendiri. Ruang publik di sini memiliki arti yang sangat luas, tidak hanya ruang-ruang terbuka yang tersedia, tetapi juga termasuk wadah-wadah masyarakat dapat menyalurkan aspirasi. Baik itu organisasi, kelas-kelas, maupun komunitas tempat individu beraktivitas. Hal ini yang rupanya dimanfaatkan masyarakat kita untuk tetap menjaga persatuan.
Menyuarakan aspirasi melalui berbagai wadah yang dimiliki olehnya sehingga bagaimana pun konflik yang memuncak pada akhirnya Pancasila harus tetap menjadi pedoman dalam menjaga persatuan bangsa.
Tri Muryani
Mahasiswi Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 12 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Secara administratif pada pilkada, hak suara diserahkan sepenuhnya kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Masyarakat bisa menyuarakan aspirasi dan memiliki hak pilih untuk menentukan pemimpinnya. Pilkada 2017 memang sedikit memanas dan menarik untuk selalu diperbincangkan, khususnya Pilkada DKI Jakarta yang selalu menjadi pemberitaan utama media massa. Pada Pilkada DKI putaran kedua, Ahok-Djarot dinyatakan kalah dengan perolehan suara 42,05% atau 2.351.245 suara dibanding dengan Anis-Sandi dengan perolehan suara 57,95% atau 3.240.332 suara (sumber: www.pilkada2017.kpu.go.id).
Beberapa karangan bunga dari pendukung Ahok-Djarot yang banyak berdatangan dan menghiasi balai kota, juga membawa pesan perdamaian. Secara simbolis, pendukung Ahok-Djarot tetap mendukung kepemimpinan Ahok-Djarot, namun bukan berarti menolak Anis-Sandi sebagai gubernur yang baru. Karangan bunga hanyalah simbol terima kasih dan perdamaian bahwa kekalahan Ahok-Djarot telah diterima oleh pendukungnya secara bijaksana. Masyarakat Indonesia memang telah dewasa menyikapi perbedaan, kekalahan, bahkan rasa toleransi.
Pancasila sebagai ideologi negara yang dipilih oleh para pejuang kemerdekaan yang melalui proses sangat panjang rupanya berdampak terhadap rasa toleransi dan tingginya solidaritas masyarakat. Solidaritas yang disebut Ibnu Khaldun sebagai rasa persatuan karena adanya kesamaan ini ternyata juga masih dimiliki oleh masyarakat kita. Bukan karena kesamaan agama, namun kesadaran bahwa warga negara Indonesia memiliki kesamaan ideologi dengan menerima berbagai perbedaan, baik suku, bahasa, agama, ras, dan sebagainya demi persatuan bangsa. Selain kedewasaan dalam solidaritas yang melahirkan rasa persatuan, masyarakat Indonesia juga semakin dewasa dalam keterbukaan.
Memilih untuk menyuarakan aspirasi melalui wadah-wadah yang ada sehingga tidak terjadi anarki dan kekerasan atau bahkan bentrok antara masyarakat dan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah, serta bentrok antara satu ideologi dan ideologi lainnya. Rupanya public sphere (ruang publik) menurut Jurgen Habermas memang menjadi solusi bagi penganut sistem demokrasi, terutama dalam demokrasi deliberatif. Pada dasarnya, filosofi dari konsep demokrasi deliberatif adalah sebuah perjalanan demokrasi yang amat percaya dengan proses diskursus yang berkembang di masyarakat, dan tentunya fondasi utama dalam sebuah diskursus di masyarakat adalah proses komunikasi.
Komunikasi memang menjadi solusi bagi suara-suara rakyat, sehingga rakyat menjadi subjek yang penting dalam proses politik dan pembangunan. Maka ruang-ruang publik memang harus tercipta, dimanfaatkan, dan menjadi kajian tersendiri. Ruang publik di sini memiliki arti yang sangat luas, tidak hanya ruang-ruang terbuka yang tersedia, tetapi juga termasuk wadah-wadah masyarakat dapat menyalurkan aspirasi. Baik itu organisasi, kelas-kelas, maupun komunitas tempat individu beraktivitas. Hal ini yang rupanya dimanfaatkan masyarakat kita untuk tetap menjaga persatuan.
Menyuarakan aspirasi melalui berbagai wadah yang dimiliki olehnya sehingga bagaimana pun konflik yang memuncak pada akhirnya Pancasila harus tetap menjadi pedoman dalam menjaga persatuan bangsa.
Tri Muryani
Mahasiswi Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 12 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar