Langsung ke konten utama

Bersatu di Alam Demokrasi Indonesia

Pilkada DKI Jakarta telah usai, Anies-Sandi telah terpilih sebagai pasangan yang akan menggantikan Ahok-Djarot, gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Pilkada, sebagai perwujudan sistem demokrasi di Indonesia, telah sukses digelar, meskipun masih ada sekelompok kecil masyarakat yang tidak berpartisipasi dengan memilih golput. Sebagai warga negara Indnesia tentu kita menginginkan proses demokrasi yang baik, karenanya setiap anggota masyarakat harus bisa menerima hasil pemilihan kepala daerah sebagai wujud dari sistem demokrasi yang baik. J Kristiadi menyebutkan, setidaknya sepuluh pilar demokrasi.

Satu, kedaulatan rakyat. Dua, pemerintahan berdasarkan persetujuan yang diperintah. Tiga, kekuasaan mayoritas (hasil pemilu). Empat, jaminan hak-hak minoritas. Lima, jaminan hak-hak asasi manusia. Enam, persamaan di depan hukum. Tujuh, proses hukum yang berkeadilan. Delapan, pembatasan kekuasaan pemerintah melalui konstitusi. Sembilan, pluralisme sosial, ekonomi, dan politik. Sepuluh, dikembangkannya nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

Dari sekian pilar demokrasi yang disebutkan itu, seandainya semua ditegakkan maka akan terwujud sistem demokrasi yang baik di Indonesia. Sayangnya, dalam realitanya terkadang ada beberapa pihak yang justru mengotorinya sehingga membuat demokrasi di Indonesia tercoreng. Dalam konteks Pilkada DKI Jakarta, semua pihak harus bisa menerima apa pun hasilnya, karena kita harus sadari bahwa itulah yang diinginkan mayoritas warga DKI Jakarta sebagai rakyat yang berdaulat.

Amat disayangkan ketika ada sebagian pihak mengotori hasil dari pesta demokrasi ini dengan tudingan kepada pihak lain yang menjadi lawannya dengan tudingan sebagai pemilih yang irasional, tidak bijak, dan sebagainya hanya karena tidak memilih pilihan yang sama. Begitu juga dengan tudingan seolah calon gubernur yang akan datang tidak akan sukses dalam menjalankan program mereka. Seharusnya sebagai warga negara kita mendukung dan mengawasi setiap langkah kebijakan dan program yang akan diambil oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih, bukan justru memojokkan mereka dan para pendukungnya dengan berbagai macam tuduhan tak berdasar.

Kita harus bisa menjadi lebih dewasa di dalam sistem demokrasi ini. Pihak yang memenangkan pesta demokrasi ini juga harus menyadari posisinya. Mereka harus bisa merangkul dan menyatukan, bukan hanya pemilih dan pendukung mereka, namun seluruh warga, juga menjamin tegaknya keadilan dan jaminan hak bagi setiap warga, termasuk kelompok minoritas. Nilai-nilai toleransi, kerja sama, dan mufakat harus terus digaungkan demi terwujudnya persatuan masyarakat di alam demokrasi Indonesia.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersatu di bawah prinsip-prinsip demokrasi yang benar, bukan lagi demi mementingkan kepentingan golongan sehingga keadilan terabaikan. Menjadi pihak yang kalah dalam pilkada bukan berarti akhir dari kontribusi untuk negara. Begitu pun menjadi pihak yang menang dalam pilkada, bukan berarti memenangkan segalanya, amanat dan tugas yang besar sedang menunggu di depan untuk diselesaikan. Rakyat adalah salah satu unsur pembentuk negara, dan juga pemegang kedaulatan tertinggi di dalam sistem demokrasi, karenanya kontribusi dan dukungan rakyat amat penting diperlukan, dan kita tidak akan dapat berkontribusi ketika masih dipecah belah akibat pilihan yang berbeda.

SYAIDINA SAPTA WILANDRA
Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 15 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...