Langsung ke konten utama

Bonus Demografi Momentum Perbaiki Kesenjangan

Bonus demografi yang akan datang pada tahun 2020 hingga 2030 menjadi peluang (windows opportunity) untuk pertumbuhan ekonomi.

Populasi penduduk produktif yang besar akan bermanfaat sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan tersedianya penduduk produktif yang siap kerja dengan jumlah yang sangat besar, menjadi modal awal dalam pembangunan ekonomi. Selanjutnya, tinggal bagaimana pemerintah Indonesia mampu menyiapkan angkatan kerja yang berkualitas dan lapangan kerja yang cukup untuk menampung mereka.

Pemerintah perlu mempersiapkan angkatan kerja yang mampu merespons permintaan pasar tenaga kerja dalam kerangka bonus demografi. Dengan angkatan kerja yang terdidik dan terampil, berapa pun jumlah angkatan kerja yang tersedia akan bisa terserap dalam pasar tenaga kerja. Namun, yang tak bisa dilupakan adalah bagaimana pemerintah menambah lapangan pekerjaan untuk menampung mereka. Dengan tersedianya lapangan kerja yang cukup dan sesuai dengan keahlian pencari kerja, populasi anak muda yang besar akan benar-benar produktif dan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi negara.

Jaminan tersedianya lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian pencari kerja, memungkinkan anak-anak muda Indonesia mampu mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Dengan memperluas kesempatan kerja maka akan memperluas usaha dan produksi yang dihasilkan, sehingga hal tersebut dapat menggerakkan ekonomi negara dan meningkatkan pendapatan. Selain itu, momentum bonus demografi harus dijadikan peluang oleh pemerintah untuk menciptakan pengusaha muda.

Adanya pengusaha muda akan membantu pemerintah dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional serta berfungsi menciptakan lapangan pekerjaan baru, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan. Bonus demografi menjadi kondisi yang sangat baik bagi suatu negara untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup masyarakatnya pada posisi yang sejahtera. Selain itu, dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan akan bisa mengakhiri kemiskinan yang selama ini masih menjadi salah satu problema utama.

Dalam usaha meningkatkan kualitas anak muda sebagai penduduk produktif masa mendatang, salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan yang seluas-luasnya. Kemudahan akses pendidikan dan didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas, akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula.

Dengan kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, tentu menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Selain pendidikan, kualitas kesehatan menjadi aspek penting yang perlu ditingkatkan untuk menyambut bonus demografi. Peningkatan kualitas kesehatan akan menjadikan sumber daya manusia berkualitas selain berkualitas dari segi pendidikan.

Layanan kesehatan yang diberikan harus menjangkau daerah-daerah terpencil, tertinggal, dan terluar, agar tercipta layanan kesehatan yang merata. Peningkatan kesehatan dan kesempatan mengenyam pendidikan yang merata di seluruh wilayah diharapkan dapat menciptakan anak-anak muda yang mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesenjangan.

Heru Panca Prawira
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 24 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...