Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta telah usai. Perhelatan yang digelar
Komisi Pemilihan Umum (KPU) tiap lima tahun sekali ini harus dilaksanakan
dua kali putaran untuk menentukan pemimpin DKI lima tahun mendatang.
Dari hasil hitung cepat di beberapa lembaga survei, pasangan calon nomor urut 3 Anis Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno unggul atas Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Anies-Sandi selanjutnya adalah gubernur yang akan menentukan arah DKI lima tahun ke depan. Kemenangan keduanya sekaligus menjadi harapan baru bagi masyarakat DKI Jakarta. Selama hampir enam bulan proses Pilkada DKI, selama itu pula momen masyarakat Jakarta menghadapi masalah yang cukup pelik, masalah yang hampir memecah persatuan bangsa Indonesia.
Dalam agama Islam perbedaan adalah rahmat. Artinya adanya perbedaan adalah wajib. Perbedaan juga sudah diatur dalam sistem negara demokrasi seperti perbedaan pendapat, perbedaan memilih calon, dan perbedaan-perbedaan lain. Oleh karenanya wajar jika pelaksanaan pilkada diwarnai dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Perlu diingat bahwa perbedaan tidak bersifat abadi. Artinya perbedaan pendapat atau perbedaan pilihan hanya berlaku sementara dan bukan untuk dijaga selama-lamanya.
Jika perbedaan pendapat dan pilihan usai, sudahilah perbedaan pendapat itu. Jakarta adalah ikon negara Republik Indonesia. Sebagai ibu kota negara, Jakarta dipandang perlu untuk membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya yang ada. Karena dalam hal membangun segala sesuatu, baik membangun sumber daya manusianya maupun sumber daya alam tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus ada peran masyarakat di dalamnya.
Di dalam Pancasila, semangat yang dibangun adalah semangat gotong-royong demi terwujudnya sila kelima Pancasila, yaitu ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Untuk mewujudkan hal itu, kita harus melihat di dalam sila-sila sebelumnya. Adalah sila ketiga yang berbunyi ”Persatuan Indonesia” dan sila keempat ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Dalam hal ini, untuk mewujudkan keadilan sosial, perlu kiranya membangun persatuan bangsa Indonesia terlebih dahulu yang beraneka ragam. Baru setelah itu memilih pemimpin yang bijaksana berdasarkan hasil musyawarah oleh masyarakat.
Oleh karena itu peran masyarakat menjadi hal yang paling fundamental untuk mewujudkan keadilan sosial. Dengan semangat Pancasila, masyarakat Jakarta dituntut untuk tidak hanya menentukan dan memilih pemimpin saja, tetapi harus ikut andil untuk bersama-sama membangun Jakarta dalam satu visi dan membangun Jakarta dengan semangat gotong-royong demi terciptanya masyarakat yang lebih baik. Jakarta akan maju jika warganya ikut berperan aktif untuk menyukseskan program yang telah dicanangkan pemerintah.
Maka perlu adanya dukungan masyarakat untuk mengingatkan pemimpinya agar berlaku seadil-adilnya dan tidak berpihak kepada yang kuat dan menindas yang lemah. Kunci dari masa depan Jakarta terletak pada semangat persatuan dan semangat gotong-royong, bukan ditentukan oleh siapa pemimpinnya atau berasal dari mana pemimpinnya. Itu seperti yang pepatah ”bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.
TAFRICHUL FUADY ABSA
Mahasiswa Akidah Filsafat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 5 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Dari hasil hitung cepat di beberapa lembaga survei, pasangan calon nomor urut 3 Anis Rasyid Baswedan dan Sandiaga Uno unggul atas Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Anies-Sandi selanjutnya adalah gubernur yang akan menentukan arah DKI lima tahun ke depan. Kemenangan keduanya sekaligus menjadi harapan baru bagi masyarakat DKI Jakarta. Selama hampir enam bulan proses Pilkada DKI, selama itu pula momen masyarakat Jakarta menghadapi masalah yang cukup pelik, masalah yang hampir memecah persatuan bangsa Indonesia.
Dalam agama Islam perbedaan adalah rahmat. Artinya adanya perbedaan adalah wajib. Perbedaan juga sudah diatur dalam sistem negara demokrasi seperti perbedaan pendapat, perbedaan memilih calon, dan perbedaan-perbedaan lain. Oleh karenanya wajar jika pelaksanaan pilkada diwarnai dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Perlu diingat bahwa perbedaan tidak bersifat abadi. Artinya perbedaan pendapat atau perbedaan pilihan hanya berlaku sementara dan bukan untuk dijaga selama-lamanya.
Jika perbedaan pendapat dan pilihan usai, sudahilah perbedaan pendapat itu. Jakarta adalah ikon negara Republik Indonesia. Sebagai ibu kota negara, Jakarta dipandang perlu untuk membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya yang ada. Karena dalam hal membangun segala sesuatu, baik membangun sumber daya manusianya maupun sumber daya alam tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus ada peran masyarakat di dalamnya.
Di dalam Pancasila, semangat yang dibangun adalah semangat gotong-royong demi terwujudnya sila kelima Pancasila, yaitu ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Untuk mewujudkan hal itu, kita harus melihat di dalam sila-sila sebelumnya. Adalah sila ketiga yang berbunyi ”Persatuan Indonesia” dan sila keempat ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Dalam hal ini, untuk mewujudkan keadilan sosial, perlu kiranya membangun persatuan bangsa Indonesia terlebih dahulu yang beraneka ragam. Baru setelah itu memilih pemimpin yang bijaksana berdasarkan hasil musyawarah oleh masyarakat.
Oleh karena itu peran masyarakat menjadi hal yang paling fundamental untuk mewujudkan keadilan sosial. Dengan semangat Pancasila, masyarakat Jakarta dituntut untuk tidak hanya menentukan dan memilih pemimpin saja, tetapi harus ikut andil untuk bersama-sama membangun Jakarta dalam satu visi dan membangun Jakarta dengan semangat gotong-royong demi terciptanya masyarakat yang lebih baik. Jakarta akan maju jika warganya ikut berperan aktif untuk menyukseskan program yang telah dicanangkan pemerintah.
Maka perlu adanya dukungan masyarakat untuk mengingatkan pemimpinya agar berlaku seadil-adilnya dan tidak berpihak kepada yang kuat dan menindas yang lemah. Kunci dari masa depan Jakarta terletak pada semangat persatuan dan semangat gotong-royong, bukan ditentukan oleh siapa pemimpinnya atau berasal dari mana pemimpinnya. Itu seperti yang pepatah ”bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.
TAFRICHUL FUADY ABSA
Mahasiswa Akidah Filsafat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 5 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar