Beberapa dua bulan lalu, pemilu serentak telah dilakukan beberapa daerah
di Indonesia yang telah kita saksikan bersama. Dan April kemarin, kita
juga telah menyaksikan kemenangan yang diperoleh nomor urut 3, Anies
Baswedan dan Sandiaga Uno dalam pemilu putaran kedua Jakarta.
Pemilu di Jakarta selalu menjadi ajang bergengsi setiap pemilu di Indonesia karena tak bisa dimungkiri, gubernur DKI menjadi kesempatan besar naik ke kursi kepresidenan. Berlangsungnya pemilu selalu dibumbui dengan perpecahan. Itu realita yang terjadi. Pemilu selalu disangkut pautkan dengan agama. Dan tak sedikit yang membawa nama agama dalam berlangsungnya pilkada, sehingga yang terjadi adalah perpecahan, perseteruan, dan radikalisme menjadi tontonan yang tak bisa dihindari.
Bagaimana pilkada dapat berlangsung baik jika dalam diri manusianya masih ada kefanatikan dan menganggap agamanya paling benar. Semua agama mengajarkan yang baik, karena kita memiliki Tuhan masing-masing yang juga mengajarkan kebenaran. Pilkada tidak perlu disangkutpautkan dengan agama, biarkan muncul dari hati nurani masing-masing. Adanya keinginan pihak-pihak lain agar dukungannya menang, membuat mereka berjuang matian-matian yang pada akhirnya melakukan kecurangan dalam pilkada.
Apa yang harus kita lakukan agar proses pilkada maupun pascapilkada berlangsung dengan hikmat tanpa perpecahan dan permusuhan, apa lagi sampai permusuhan antar agama.
Pertama, ingat kembali bagaimana para pahlawan terdahulu memperjuangkan NKRI.
Menjunjung tinggi persatuan untuk keutuhan NKRI, yang dikukuhkan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sekarang kita bagaimana? Terlalu istimewanya NKRI dikorbankan hanya untuk sebuah pesta demokrasi. Keberagaman seakan tak berwarna dan tak bernilai, padahal itu yang menjadi ciri khas kebanggaan Indonesia yang tak dimiliki oleh negara manapun, namun sekarang telah tercoreng di mata dunia.
Kedua, buang rasa ego dan kefanatikan dalam diri.
Disadari atau tidak disadari, itulah yang mengguncang keharmonisan dalam bermasyarakat dan bernegara. Pada saat hati damai, perbuatan juga pasti kebaikan. Pascapilkada damai dan tenteram, sampai tahap pilkada juga akan tenteram dan damai.
Ketiga, bersatu menjunjung tinggi persatuan.
Membangun persatuan bisa kita lakukan dengan hal-hal kecil, seperti membuat perkumpulan di dalam masyarakat dalam menjaga keeratan dan kehangatan persaudaraan. Memulai sesuatu dalam masyarakat dengan kerja sama, menikmati secangkir kopi dengan senyuman, sampai lupa kalau kopinya terasa pahit. Itulah namanya kebersamaan. Kalau saat ini perpecahan telah terjadi, bangkit dan nikmati segelas bulir-bulir kehidupan penyejuk jiwa dan berdoalah untuk negeri ini.
LESRIDA SITUMORANG
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia
Fakultas MIPA
Universitas Negeri Medan
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 10 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Pemilu di Jakarta selalu menjadi ajang bergengsi setiap pemilu di Indonesia karena tak bisa dimungkiri, gubernur DKI menjadi kesempatan besar naik ke kursi kepresidenan. Berlangsungnya pemilu selalu dibumbui dengan perpecahan. Itu realita yang terjadi. Pemilu selalu disangkut pautkan dengan agama. Dan tak sedikit yang membawa nama agama dalam berlangsungnya pilkada, sehingga yang terjadi adalah perpecahan, perseteruan, dan radikalisme menjadi tontonan yang tak bisa dihindari.
Bagaimana pilkada dapat berlangsung baik jika dalam diri manusianya masih ada kefanatikan dan menganggap agamanya paling benar. Semua agama mengajarkan yang baik, karena kita memiliki Tuhan masing-masing yang juga mengajarkan kebenaran. Pilkada tidak perlu disangkutpautkan dengan agama, biarkan muncul dari hati nurani masing-masing. Adanya keinginan pihak-pihak lain agar dukungannya menang, membuat mereka berjuang matian-matian yang pada akhirnya melakukan kecurangan dalam pilkada.
Apa yang harus kita lakukan agar proses pilkada maupun pascapilkada berlangsung dengan hikmat tanpa perpecahan dan permusuhan, apa lagi sampai permusuhan antar agama.
Pertama, ingat kembali bagaimana para pahlawan terdahulu memperjuangkan NKRI.
Menjunjung tinggi persatuan untuk keutuhan NKRI, yang dikukuhkan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sekarang kita bagaimana? Terlalu istimewanya NKRI dikorbankan hanya untuk sebuah pesta demokrasi. Keberagaman seakan tak berwarna dan tak bernilai, padahal itu yang menjadi ciri khas kebanggaan Indonesia yang tak dimiliki oleh negara manapun, namun sekarang telah tercoreng di mata dunia.
Kedua, buang rasa ego dan kefanatikan dalam diri.
Disadari atau tidak disadari, itulah yang mengguncang keharmonisan dalam bermasyarakat dan bernegara. Pada saat hati damai, perbuatan juga pasti kebaikan. Pascapilkada damai dan tenteram, sampai tahap pilkada juga akan tenteram dan damai.
Ketiga, bersatu menjunjung tinggi persatuan.
Membangun persatuan bisa kita lakukan dengan hal-hal kecil, seperti membuat perkumpulan di dalam masyarakat dalam menjaga keeratan dan kehangatan persaudaraan. Memulai sesuatu dalam masyarakat dengan kerja sama, menikmati secangkir kopi dengan senyuman, sampai lupa kalau kopinya terasa pahit. Itulah namanya kebersamaan. Kalau saat ini perpecahan telah terjadi, bangkit dan nikmati segelas bulir-bulir kehidupan penyejuk jiwa dan berdoalah untuk negeri ini.
LESRIDA SITUMORANG
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia
Fakultas MIPA
Universitas Negeri Medan
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 10 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar