Secara ideal, pendidikan adalah jalan kemajuan yang mencakup kemajuan
pikiran, mental, serta spritual manusia. Jika segala aspek maju, manusia
memiliki kekuatan untuk membangun peradaban.
Karena kekuatannya, sang manusia dipandang penting atau “bernilai” di tengah masyarakat. Nilai ini jika dibawa ke ranah pragmatis tentunya menjanjikan keuntungan secara ekonomi serta secara eksistensi. Membangun ekonomi lewat pendidikan adalah salah satu pilihan, di hadapan dilema pembangunan Indonesia kini.
Hanya, gerak pendidikan kini rumpang karena orientasi generasi terdidik lepas dari konsep kerakyatan. Mereka banyak yang tidak memiliki pemahaman pembangunan ekonomi secara luas, yang menyentuh rakyat. Hingga akhirnya kita melihat banyak orang berpendidikan tinggi, lalu terbenam dalam lingkungan kerja dengan orientasi kemapanan pribadi, sementara di sekelilingnya rakyat terpasung kemiskinan.
Kalau begitu potretnya, bagaimana mungkin berharap pendidikan akan membangun ekonomi rakyat? Kapan seorang terdidik berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi rakyat jika keseluruhan hidupnya habis untuk mendukung kesuksesan segelintir orang yang sejatinya sudah kaya? Maka, yang dibutuhkan kini dari generasi terdidik adalah kecakapan pikiran, mental yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak, terutama kaum miskin.
Bukan kecakapan yang hanya bisa “dijual” kepada perusahaan-perusahaan ataupun instansi-instansi pemerintahan. Generasi terdidik harus mengarah ke jalan mandiri, jalan pembangunan ekonomi yang diciptakan sendiri, yang menopang ekonomi rakyat kecil. Jika perusahaan dan instansi pemerintahan hanya mau menampung pekerja “berijazah”, generasi terdidik sudah semestinya membuka peluang bagi mereka yang tidak beruntung dan kurang catatan kependidikannya itu.
Membuka jalan ekonomi bagi rakyat kecil bukan mustahil dilakukan oleh generasi terdidik, justru sebaliknya atau sangat mungkin. Katakanlah misalnya terhalang dalam membuka usaha (sebab butuh modal besar), “si intelek” ini bisa saja menjadi pendamping rakyat dalam memajukan usaha-usaha rakyat. Dengan pengetahuannya, ia tentulah mampu menyumbang pandangan serta strategi jitu.
Ini barangkali utamanya bagi intelek yang kuat pengetahuannya di bidang ekonomi. Atau, bagi intelek bidang lain seperti di bidang hukum, misalnya, yang bisa berpartisipasi lewat jalur konstitusi, dengan membawa misi pengamanan jalur ekonomi rakyat kecil. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa yang diharapkan dari kaum intelektual adalah orientasi keilmuannya yang bermuara pada kemaslahatan rakyat.
Kita percaya, generasi muda terdidik adalah generasi yang paling kaya inovasi, terobosan, serta gagasan-gagasan hebat, yang berguna bagi pembangunan. Apa pun bidang keilmuannya, seorang terdidik berpeluang berpartisipasi aktif dalam membangun rakyat, terutama dalam persoalan urgen ini, yaitu ekonomi.
Tinggal lagi persoalan karakteristik generasi terdidik yang dibutuhkan dalam misi pembangunan ekonomi kita. Untuk tumbuh sebagai penyangga kemajuan rakyat, “si intelek” haruslah sekaligus seorang pemimpin dan seorang pekerja visioner. Ia mesti cerdas dalam pengertian sesungguhnya dan memiliki empati mendalam terhadap realitas.
ANDESTA HERLI WIJAYA
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia
Universitas Andalas
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 23 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Karena kekuatannya, sang manusia dipandang penting atau “bernilai” di tengah masyarakat. Nilai ini jika dibawa ke ranah pragmatis tentunya menjanjikan keuntungan secara ekonomi serta secara eksistensi. Membangun ekonomi lewat pendidikan adalah salah satu pilihan, di hadapan dilema pembangunan Indonesia kini.
Hanya, gerak pendidikan kini rumpang karena orientasi generasi terdidik lepas dari konsep kerakyatan. Mereka banyak yang tidak memiliki pemahaman pembangunan ekonomi secara luas, yang menyentuh rakyat. Hingga akhirnya kita melihat banyak orang berpendidikan tinggi, lalu terbenam dalam lingkungan kerja dengan orientasi kemapanan pribadi, sementara di sekelilingnya rakyat terpasung kemiskinan.
Kalau begitu potretnya, bagaimana mungkin berharap pendidikan akan membangun ekonomi rakyat? Kapan seorang terdidik berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi rakyat jika keseluruhan hidupnya habis untuk mendukung kesuksesan segelintir orang yang sejatinya sudah kaya? Maka, yang dibutuhkan kini dari generasi terdidik adalah kecakapan pikiran, mental yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak, terutama kaum miskin.
Bukan kecakapan yang hanya bisa “dijual” kepada perusahaan-perusahaan ataupun instansi-instansi pemerintahan. Generasi terdidik harus mengarah ke jalan mandiri, jalan pembangunan ekonomi yang diciptakan sendiri, yang menopang ekonomi rakyat kecil. Jika perusahaan dan instansi pemerintahan hanya mau menampung pekerja “berijazah”, generasi terdidik sudah semestinya membuka peluang bagi mereka yang tidak beruntung dan kurang catatan kependidikannya itu.
Membuka jalan ekonomi bagi rakyat kecil bukan mustahil dilakukan oleh generasi terdidik, justru sebaliknya atau sangat mungkin. Katakanlah misalnya terhalang dalam membuka usaha (sebab butuh modal besar), “si intelek” ini bisa saja menjadi pendamping rakyat dalam memajukan usaha-usaha rakyat. Dengan pengetahuannya, ia tentulah mampu menyumbang pandangan serta strategi jitu.
Ini barangkali utamanya bagi intelek yang kuat pengetahuannya di bidang ekonomi. Atau, bagi intelek bidang lain seperti di bidang hukum, misalnya, yang bisa berpartisipasi lewat jalur konstitusi, dengan membawa misi pengamanan jalur ekonomi rakyat kecil. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa yang diharapkan dari kaum intelektual adalah orientasi keilmuannya yang bermuara pada kemaslahatan rakyat.
Kita percaya, generasi muda terdidik adalah generasi yang paling kaya inovasi, terobosan, serta gagasan-gagasan hebat, yang berguna bagi pembangunan. Apa pun bidang keilmuannya, seorang terdidik berpeluang berpartisipasi aktif dalam membangun rakyat, terutama dalam persoalan urgen ini, yaitu ekonomi.
Tinggal lagi persoalan karakteristik generasi terdidik yang dibutuhkan dalam misi pembangunan ekonomi kita. Untuk tumbuh sebagai penyangga kemajuan rakyat, “si intelek” haruslah sekaligus seorang pemimpin dan seorang pekerja visioner. Ia mesti cerdas dalam pengertian sesungguhnya dan memiliki empati mendalam terhadap realitas.
ANDESTA HERLI WIJAYA
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia
Universitas Andalas
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 23 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar