Langsung ke konten utama

Menghapus Elegi Perekonomian Indonesia

Pada awal masa Orde Baru, Indonesia sebagai negara yang sebelumnya disibukkan dengan urusan politik, mendapatkan warisan kondisi ekonomi yang kurang stabil.

Namun, Soeharto dengan program pembangunannya yang efisien saat itu mampu membawa Indonesia mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi. Tercatat pada pertengahan 1960-an hingga 1996, tingkat kemiskinan Indonesia menurun drastis baik di kota maupun desa. Dalam periode itu, angka penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan dari yang awalnya sekitar setengah dari jumlah keseluruhan populasi penduduk Indonesia hanya tinggal sekitar 11%.

Akan tetapi, kemajuan ekonomi tersebut kemudian sirna setelah tergerus badai krisis finansial Asia pada 1990-an. Indonesia selanjutnya hidup dalam kondisi ekonomi yang menurun drastis ditandai dengan melemahnya nilai rupiah dan meningkatnya inflasi. Kondisi ekonomi yang menurun menyebabkan penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan juga meningkat. Penduduk miskin sendiri didefinisikan sebagai penduduk yang perdapatan per bulannya (per kapita) sebanyak Rp354.386 (atau sekitar USD25). Banyaknya penduduk Indonesia yang miskin apabila terus dibiarkan akan menyebabkan berbagai persoalan.

Adapun, persoalan yang dapat ditemui adalah maraknya kasus kriminalitas, rendahnya distribusi pendidikan hingga meningkatnya kasus radikalisme yang dipicu oleh lemahnya ekonomi seorang individu. Lemahnya perekonomian Indonesia juga diperparah dengan ketimpangan ekonomi bangsa. Hasil penelitian Bank Dunia menyebutkan 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 77% dari total kekayaan nasional. Indeks rasio gini Indonesia pun saat ini mencapai angka 0,42.

Angka tersebut menandakan ketimpangan di Indonesia sudah memasuki taraf yang membahayakan. Karena itu, untuk menguatkan perekonomian bangsa, perlu upaya pemerataan ekonomi. Upaya pemerataan ekonomi bukan merupakan soal si kaya membagi harta dengan si miskin. Namun, bagaimana si miskin mampu mengejar si kaya dengan kemampuan yang mumpuni. Untuk itu, perlu ada program yang mampu meningkatkan kemampuan dan mental untuk melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. Pemberian bantuan dana bukan merupakan suatu jalan efektif dalam mengatasi kemiskinan.

Mengatasi kemiskinan dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan yang mendidik dan merata serta pemberdayaan yang maksimal kepada para generasi muda bangsa. Pendidikan yang mendidik menjadi suatu hal yang masih harus diwujudkan oleh Indonesia. Pasalnya, pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mendidik, hanya sebatas mengajari. Mengajari akan membawa pada kemampuan menyelesaikan soal saja. Namun, mendidik akan membawa peserta didik pada belajar dalam proses menghadapi persoalan dengan menghayati nilai-nilai positif yang diberikan.

Di sisi lain, jumlah penduduk usia muda Indonesia juga harus dihadapi dengan jeli. Penduduk muda menjadi peluang besar bagi Indonesia pada masa depan apabila dikelola dengan baik pengembangannya. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, akan menjadi ancaman yang besar bagi Indonesia. Kasus radikalisme pemuda yang marak saat ini menjadi contoh nyatanya.

Karena itu, pemberdayaan pemuda dalam program-program prioritas nasional mulai saat ini harus ditingkatkan. Dengan demikian, usaha mengatasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi yang telah menjadi cerita lama bangsa akan segera terhenti.

NESIA QURROTA AYUNI
Mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah
Universitas Indonesia

 (Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 29 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...