Kontestasi kursi DKI 1 telah menyita perhatian publik. Hal tersebut bisa
dilihat ketika momentum pilkada disandingkan dengan isu penistaan agama
menjadi alasan bagi warga di berbagai daerah datang membanjiri Ibu Kota
untuk menuntut penegakan hukum.
Buahnya adalah serangkaian aksi yang terangkum dalam tiga digit angka. Mahasiswa dari berbagai daerah turut meramaikan aksi tersebut. Identitas mahasiswa sebagai agent of change menjadi alasan mereka untuk turun aksi. Namun, perlu dijadikan sebuah refleksi bahwa tidak seluruh mahasiswa terlibat pada serangkaian protes tersebut.
Apakah ini memperlihatkan kalau gerakan mahasiswa tidak lagi terpecah-belah? Kerisauan mahasiswa, untuk memilih terlibat aksi atau tidak, merupakan kebimbangan mereka akan pihak-pihak yang membenturkan isu-isu politis terhadap serangkaian aksi yang terjadi sehingga mahasiswa sebagai agen moderat cenderung berhati-hati untuk menyikapi isu tersebut. Sebagai aktor independen, mahasiswa harus berpihak terhadap objektivitas.
Mahasiswa harus berpihak pada kebenaran dan keadilan yang didapatkan melalui serangkaian diskusi dan kajian. Bukan hasil provokasi dan gratifikasi oknum-oknum tertentu. Dengan demikian, mahasiswa sanggup berdikari dalam menyikapi situasi nasional. Kalau mahasiswa memiliki sikap yang berbeda dalam menanggapi pilkada dengan serangkaian isu yang menerpanya, mahasiswa harus memiliki sikap yang sama dalam mempersatukan bangsa. Hari ini pilkadatelah usai.
Terlepas dari hasilnya, mahasiswa masih memiliki tugas mulia, yaitu menjaga kerukunan bangsa. Dalam konteks Pilkada DKI, mahasiswa harus menjadi pihak yang menengahi aktor-aktor yang sempat bercerai ketika pilkada. Tujuannya adalah satu, yaitu mewujudkan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Kurang lebih terdapat 300 perguruan tinggi di DKI Jakarta. Besaran angka tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa di DKI memiliki andil penting dalam membina persatuan.
Untuk itu, mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam merangkai kebinekaan. Posisi Jakarta sebagai Ibu Kota secara tak langsung menjadikan mahasiswa di Jakarta tidak hanya bertugas untuk merawat persatuan di DKI, melainkan juga merawat persatuan Indonesia. Ibu Kota selalu dijadikan percontohan, tidak hanya pemerintahannya, begitu pun dengan mahasiswanya sehingga mahasiswa DKI bisa dijadikan sebagai cerminan akan mahasiswa di berbagai daerah lainnya.
Menanggapi berakhirnya pilkada, seluruh mahasiswa di DKI harus bersatu. Mahasiswa harus menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan. Mahasiswa harus menjadi aktor yang kritis dalam menanggapi serangkaian isu yang berusaha untuk memecah persatuan Ibu Kota. Bentuk persatuan mahasiswa DKI adalah dengan menjaga transisi pemerintahan.
Mengawal transisi bukan berarti mahasiswa akan mendukung segala kebijakan gubernur terpilih, melainkan seluruh mahasiswa menjaga momentum pergantian pemerintahan dari berbagai kepentingan yang merugikan rakyat.
Untuk itulah mahasiswa perlu hadir dalam berbagai diskusi dan kajian agar mampu menyikapi seluruh kebijakan pemerintah, menjadi penyambung lidah rakyat, dan keberpihakannya terhadap objektivitas tidak menjadikan mahasiswa sebagai bidak kepentingan elite politik.
VANNY EL RAHMAN
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial Politik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 9 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Buahnya adalah serangkaian aksi yang terangkum dalam tiga digit angka. Mahasiswa dari berbagai daerah turut meramaikan aksi tersebut. Identitas mahasiswa sebagai agent of change menjadi alasan mereka untuk turun aksi. Namun, perlu dijadikan sebuah refleksi bahwa tidak seluruh mahasiswa terlibat pada serangkaian protes tersebut.
Apakah ini memperlihatkan kalau gerakan mahasiswa tidak lagi terpecah-belah? Kerisauan mahasiswa, untuk memilih terlibat aksi atau tidak, merupakan kebimbangan mereka akan pihak-pihak yang membenturkan isu-isu politis terhadap serangkaian aksi yang terjadi sehingga mahasiswa sebagai agen moderat cenderung berhati-hati untuk menyikapi isu tersebut. Sebagai aktor independen, mahasiswa harus berpihak terhadap objektivitas.
Mahasiswa harus berpihak pada kebenaran dan keadilan yang didapatkan melalui serangkaian diskusi dan kajian. Bukan hasil provokasi dan gratifikasi oknum-oknum tertentu. Dengan demikian, mahasiswa sanggup berdikari dalam menyikapi situasi nasional. Kalau mahasiswa memiliki sikap yang berbeda dalam menanggapi pilkada dengan serangkaian isu yang menerpanya, mahasiswa harus memiliki sikap yang sama dalam mempersatukan bangsa. Hari ini pilkadatelah usai.
Terlepas dari hasilnya, mahasiswa masih memiliki tugas mulia, yaitu menjaga kerukunan bangsa. Dalam konteks Pilkada DKI, mahasiswa harus menjadi pihak yang menengahi aktor-aktor yang sempat bercerai ketika pilkada. Tujuannya adalah satu, yaitu mewujudkan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Kurang lebih terdapat 300 perguruan tinggi di DKI Jakarta. Besaran angka tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa di DKI memiliki andil penting dalam membina persatuan.
Untuk itu, mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam merangkai kebinekaan. Posisi Jakarta sebagai Ibu Kota secara tak langsung menjadikan mahasiswa di Jakarta tidak hanya bertugas untuk merawat persatuan di DKI, melainkan juga merawat persatuan Indonesia. Ibu Kota selalu dijadikan percontohan, tidak hanya pemerintahannya, begitu pun dengan mahasiswanya sehingga mahasiswa DKI bisa dijadikan sebagai cerminan akan mahasiswa di berbagai daerah lainnya.
Menanggapi berakhirnya pilkada, seluruh mahasiswa di DKI harus bersatu. Mahasiswa harus menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan. Mahasiswa harus menjadi aktor yang kritis dalam menanggapi serangkaian isu yang berusaha untuk memecah persatuan Ibu Kota. Bentuk persatuan mahasiswa DKI adalah dengan menjaga transisi pemerintahan.
Mengawal transisi bukan berarti mahasiswa akan mendukung segala kebijakan gubernur terpilih, melainkan seluruh mahasiswa menjaga momentum pergantian pemerintahan dari berbagai kepentingan yang merugikan rakyat.
Untuk itulah mahasiswa perlu hadir dalam berbagai diskusi dan kajian agar mampu menyikapi seluruh kebijakan pemerintah, menjadi penyambung lidah rakyat, dan keberpihakannya terhadap objektivitas tidak menjadikan mahasiswa sebagai bidak kepentingan elite politik.
VANNY EL RAHMAN
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial Politik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 9 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar