Pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta telah usai dua pekan lalu. Hasil
dari berbagai lembaga hitung cepat pun telah menunjukkan pemenangnya
meskipun perhitungan resmi belum disampaikan oleh KPUD.
Persaingan yang ketat dan aksi saling lempar isu telah dilewati, bahkan tak segan pula menimbulkan perselisihan di antara dua pendukung calon gubernur tersebut. Lalu, apakah mungkin perselisihan ini akan terus berlanjut meskipun pilkada telah usai? Perselisihan memang kerap terjadi selama proses pemilihan kepala daerah. Perebutan kekuasaan yang kadang diselimuti dengan politik kepentingan selalu membayangi dalam proses pilkada. Sering kita melihat perselisihan terjadi selama proses pemilihan berlangsung.
Seperti yang terjadi di DKI Jakarta yang selama kampanye ikut menyeret isu agama serta ras. Salah satunya ialah peristiwa pendukung Ahok yang muslim tidak disalatkan oleh masyarakat sekitarnya di daerah Karet, Setia Budi. Seharusnya peristiwa semacam ini tidak dibawa dalam pilkada. Kita sebagai bangsa Indonesia merupakan bangsa yang satu dan tidak dibedakan dari warna kulit, ras, agama maupun suku bangsa, bahkan sejak negara ini berdiri menjadi negara seutuhnya.
Sebagai contoh, kita dapat melihat dari rumusan Pancasila yang terdapat dalam Piagam Jakarta. Dijelaskan dalam piagam tersebut sila pertama yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya”. Rumusan tersebut kemudian diubah menjadi Pancasila sebagaimana yang kita kenal saat ini. Berubahnya rumusan itu karena tidak mungkin digunakan oleh negara kita yang memiliki keberagaman dalam beragama.
Sejarah telah memperlihatkan betapa arifnya negara ini dibentuk melalui suatu kesatuan. Menanggalkan kepentingan pribadi demi mencapai kemerdekaan. Ras, agama, maupun suku bangsa, mereka redupkan demi kepentingan bersama. Hal ini harus dapat kita jaga terutama untuk saat ini, saat berbagai isu ataupun konflik yang berdasarkan SARA sedang asyik digunakan untuk kepentingan suatu golongan. Perlu adanya upaya dalam mencegah terjadinya konflik terutama konflik SARA. Kita dapat melakukan kegiatan kecil untuk meningkatkan rasa persatuan terutama di lingkungan kita.
Salah satunya yakni melaksanakan kegiatan yang dinamakan gotong royong. Kegiatan ini terutama di perkotaan seakan meredup. Padahal, kegiatan ini yang dapat dijadikan solusi untuk memupuk rasa persatuan di dalam masyarakat. Gotong royong mengajarkan kita pentingnya mewujudkan kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi ataupun golongan, bahkan terdapat sebuah adagium yang berbunyi “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Adagium tersebut sering digaungkan dalam menggambarkan pentingnya persatuan sebagaimana nilai yang terkandung dalam gotong royong.
Melalui kegiatan ini diharapkan rasa persatuan di masyarakat akan terpupuk semakin dalam. Untuk itu, pascapilkada sudah saatnya kita dapat menyingkirkan kepentingan pribadi dan kembali menanamkan rasa persatuan dalam diri masyarakat.
Hadistian
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 3 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Persaingan yang ketat dan aksi saling lempar isu telah dilewati, bahkan tak segan pula menimbulkan perselisihan di antara dua pendukung calon gubernur tersebut. Lalu, apakah mungkin perselisihan ini akan terus berlanjut meskipun pilkada telah usai? Perselisihan memang kerap terjadi selama proses pemilihan kepala daerah. Perebutan kekuasaan yang kadang diselimuti dengan politik kepentingan selalu membayangi dalam proses pilkada. Sering kita melihat perselisihan terjadi selama proses pemilihan berlangsung.
Seperti yang terjadi di DKI Jakarta yang selama kampanye ikut menyeret isu agama serta ras. Salah satunya ialah peristiwa pendukung Ahok yang muslim tidak disalatkan oleh masyarakat sekitarnya di daerah Karet, Setia Budi. Seharusnya peristiwa semacam ini tidak dibawa dalam pilkada. Kita sebagai bangsa Indonesia merupakan bangsa yang satu dan tidak dibedakan dari warna kulit, ras, agama maupun suku bangsa, bahkan sejak negara ini berdiri menjadi negara seutuhnya.
Sebagai contoh, kita dapat melihat dari rumusan Pancasila yang terdapat dalam Piagam Jakarta. Dijelaskan dalam piagam tersebut sila pertama yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya”. Rumusan tersebut kemudian diubah menjadi Pancasila sebagaimana yang kita kenal saat ini. Berubahnya rumusan itu karena tidak mungkin digunakan oleh negara kita yang memiliki keberagaman dalam beragama.
Sejarah telah memperlihatkan betapa arifnya negara ini dibentuk melalui suatu kesatuan. Menanggalkan kepentingan pribadi demi mencapai kemerdekaan. Ras, agama, maupun suku bangsa, mereka redupkan demi kepentingan bersama. Hal ini harus dapat kita jaga terutama untuk saat ini, saat berbagai isu ataupun konflik yang berdasarkan SARA sedang asyik digunakan untuk kepentingan suatu golongan. Perlu adanya upaya dalam mencegah terjadinya konflik terutama konflik SARA. Kita dapat melakukan kegiatan kecil untuk meningkatkan rasa persatuan terutama di lingkungan kita.
Salah satunya yakni melaksanakan kegiatan yang dinamakan gotong royong. Kegiatan ini terutama di perkotaan seakan meredup. Padahal, kegiatan ini yang dapat dijadikan solusi untuk memupuk rasa persatuan di dalam masyarakat. Gotong royong mengajarkan kita pentingnya mewujudkan kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi ataupun golongan, bahkan terdapat sebuah adagium yang berbunyi “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Adagium tersebut sering digaungkan dalam menggambarkan pentingnya persatuan sebagaimana nilai yang terkandung dalam gotong royong.
Melalui kegiatan ini diharapkan rasa persatuan di masyarakat akan terpupuk semakin dalam. Untuk itu, pascapilkada sudah saatnya kita dapat menyingkirkan kepentingan pribadi dan kembali menanamkan rasa persatuan dalam diri masyarakat.
Hadistian
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 3 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Fakultas Ilmu Sosial itu kang
BalasHapusProdi Pendidikan Geografi ._.
Terima kasih koreksinya kawan, salam mahasiswa!
Hapus