Langsung ke konten utama

Dukung Pemerintah Perbaiki Kesenjangan

Seperti yang kita ketahui, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penduduk yang besar di dunia atau sekitar 270 juta jiwa.

Maka dari itu, kesenjangan ekonomi bukan lagi masalah yang dipandang luar biasa. Bukan hanya karena jumlah penduduknya, tapi juga karena kondisi geografis, negara kita adalah negara kepulauan di mana beberapa tahun yang lalu pembangunan hanya berpusat di beberapa daerah dan belum merata. Mungkin itulah yang menjadi salah satu faktor kesenjangan ekonomi di Indonesia. Coba bandingkan saja fasilitas pendidikan kesehatan dan fasilitas-fasilitas yang lain antara di kota dengan di daerah pinggiran tentu sudah jauh berbeda.

Selain itu, berdasarkan data Global Wealth Report 2016, Indonesia berada di posisi keempat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia. Jumlah harta kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Hal itu memang sangat miris. Namun, beberapa tahun ini sudah terlihat hasil dari berbagai macam usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam menurunkan tingkat kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2016 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,01 juta orang atau 10,86%. Yang harus kita lakukan sebagai warga negara yang baik adalah mendukung pemerintah dalam melaksanakan program yang telah ada untuk memperbaiki kesenjangan ekonomi di Indonesia dan ikut mengawasi jalannya program tersebut. Tidak perlu diragukan lagi usaha pemerintah dalam membuat kebijakan tentu saja harus berpihak kepada rakyatnya, tanpa mengutamakan kepentingan dari golongan tertentu.

Sebut saja tentang kebijakan pemerintah dalam mengesahkan undang-undang tax amnesty, banyak konglomerat yang melaporkan jumlah harta kekayaannya dan juga membayar pajak ketika program itu dilaksanakan. Hasil dari pajak yang dibayarkan tentu saja digunakan untuk melanjutkan pembangunan negara karena uang di dalam APBN juga sebagian besar diperoleh dari pajak. Atau, misalnya pemerintah memberikan anggaran 20% untuk sektor pendidikan dari total seluruh anggaran. Tentu kita semua menyadari dengan adanya pendidikan yang layak maka akan meningkat pula kesejahteraan manusianya.

Dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat Indonesia maka akan menurun pula tingkat kesenjangan ekonomi yang ada di negara ini. Yang terakhir adalah kebijakan pemerintah mengenai dana desa yang tentu saja bisa sangat berguna untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Memanfaatkan dana tersebut misalnya untuk membuat badan usaha milik desa (BUMDes) atau untuk membangun infrastruktur desa seperti toilet umum atau sumur buat menampung air bersih yang akan digunakan warga desa.

Bagaimana pun, mendukung dan mengawasi jalannya program pemerintah adalah hal sederhana yang dapat kita lakukan, karena kebijakan pemerintah untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dirasa sudah tepat.

Dinda Noor Azizah
Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 18 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...