Langsung ke konten utama

Mari Bersatu, Tinggalkan Hate Speech

Pilkada DKI Jakarta selalu menjadi medan magnet terkuat yang mampu menarik perhatian publik berskala nasional hingga internasional.

Hal tersebut disebabkan oleh anggapan bahwa kontestasi perebutan kursi DKI 1 merupakan jembatan emas menuju posisi kekuasaan nomor satu di Republik ini. Pilkada DKI 2017 begitu gegap gempita hingga kemudian menjadi ingar-bingar. Berbagai isu dijual bebas dengan harapan meraih suara masyarakat mayoritas. Baik kubu yang mengatasnamakan agama maupun yang mengusung slogan kebinekaan, semua bersitegang membela pilihannya.

Pada kondisi tersebut sepertinya mayoritas masyarakat lupa, bahwa di balik kepentingan sederhana perebutan kursi gubernur, selalu ada kepentingan yang lebih besar dengan memanfaatkan politik adu domba. Bahwa di balik pertikaian tersebut, ada banyak hal yang lebih patut dijaga. Sebab dengan kondisi saling membenci, pihak ketiga seperti punya pintu masuk dengan menunggangi salah satu pihak, atau membuat kekacauan lain yang tak tampak.

Akibatnya Indonesia berada pada situasi darurat ideologi, sekaligus terancam dalam hal kedaulatan ekonomi. Disebut darurat ideologi karena pada kontestasi Pilkada DKI terjadi penyebaran isu-isu horizontal yang membuat masyarakat awam terpancing mencari ideologi baru untuk negeri ini. Di sisi lain, kebinekaan pun dimaknai dengan keragaman tanpa fondasi ideologi, melainkan hanya berporos pada tokoh yang dibangga-banggakan dalam kontestasi. Sementara itu, persoalan yang justru mempertaruhkan kedaulatan ekonomi Indonesia justru diabaikan.

Seperti masalah renegosiasi perpanjangan kontrak Freeport yang menemukan titik buntu sampai saat ini. Sebuah masalah yang menghadapkan Indonesia pada dua konsekuensi besar, menggadaikan kedaulatan atau terkena sanksi internasional. Selepas 19 April tentu semu pihak diharapkan mampu menurunkan tensi keberpihakan masing-masing calon dan mulai berpikir terbuka serta rasional, sebab hingga saat ini masih dijumpai di media sosial atau pada diskusi antar individu yang terbuka berbagai perdebatan tentang pilihan calonnya yang kalah dan menang.

Meski begitu, hal tersebut dapat dipandang secara positif sebagai bentuk kesadaran masyarakat terhadap isu-isu politis. Kesadaran yang harusnya dapat berguna tidak hanya pada urusan pilkada, tetapi untuk segenap urusan politis lainnya yang terjadi di negeri ini. Oleh karena itu, penting untuk menyatukan lagi barisan masyarakat yang mulai menyatakan peduli pada bangsa ini. Masyarakat kini lelah setelah lebih dari tujuh bulan belakangan ini berpartisipasi aktif dalam menyatakan dukungan atau yang begitu vokal dalam mengkritisi lawan pada pilkada silam.

Kini saatnya masing-masing pihak merelakan calonnya menang atau kalah dalam kontestasi, untuk selanjutnya kembali seperti semula yaitu saling menghargai dan meninggalkan hate speech, sebab dengan persatuan selalu menjadi awal dari sebuah kebangkitan menuju kemajuan. Sementara perpecahan akan menjadi tanda sebuah kehancuran.

Sri Kisarah Husna
Mahasiswi Jurusan Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 3 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...