Hasil perhitungan cepat Pilkada DKI telah memenangkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dari pasangan Basuki-Djarot.
Hasil perhitungan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) juga menunjukkan kemenangan diraih oleh pasangan nomor urut tiga yaitu Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Dalam perjalanan pilkada, pertarungan dua calon kandidat ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Pilkada DKI banyak diwarnai kompetisi secara sehat maupun tidak sehat. Saling serang antara pendukung kerap terjadi, bahkan saling menjatuhkan adalah sisi lain dari ketidakdewasaan kita dalam mengikuti proses demokrasi. Ke depan hal ini harus menjadi evaluasi bersama.
Sebagai ibu kota, Jakarta jelas menjadi contoh bagi daerah lain yang akan mengadakan pesta demokrasi serupa pada 2018. Kedewasaan seluruh pasangan yang bertarung, baik yang memenangkan pertarungan maupun yang tidak, harus menghargai hasil akhir pilkada. Pertarungan yang menguras tenaga hingga memecah belah antarpendukung perlu untuk diakhiri oleh seluruh pendukung calon yang bertarung.
Pemenang Pilkada DKI harus mampu menunjukkan kepemimpinannya dengan mengajak kerja sama pasangan Ahok-Djarot yang lebih dulu memimpin Jakarta. Pengalaman Ahok-Djarot dalam memimpin Jakarta adalah modal bagi Anies-Sandi untuk belajar dari pengalaman dan dapat menjadi pertimbangan saat memimpin Jakarta lima tahun ke depan. Untuk mengakhiri terjadi perpecahan antarpendukung masing-masing pasangan calon gubernur diperlukan suatu rekonsiliasi.
Rekonsiliasi penting dilakukan untuk mencapai demokrasi yang seutuhnya pascapertarungan dalam pilkada, dan menjadi modal besar dalam membangun peradaban ke depan. Yang lebih penting bagi masyarakat Jakarta ke depan ialah bukan siapa yang akan memimpin, tetapi apa yang akan dilakukan untuk memajukan Jakarta, atau lebih tepatnya merealisasikan janji selama masa kampanye.
Pasangan pemimpin Jakarta yang baru, Anies-Sandi, juga perlu mengimbau persatuan dan kesatuan bagi seluruh masyarakat Jakarta. Gubernur DKI akan memimpin seluruh masyarakat Jakarta, bukan memimpin pendukungnya saja. Pemimpin ke depan perlu memenangkan hati masyarakat untuk mendapat kepercayaan dalam membangun Jakarta. Rekonsiliasi jelas adalah langkah awal yang perlu dilakukan demi menjaga keutuhan bangsa serta kemajuan daerah.
Terlebih lagi bila mengajak seluruh pendukung dan tokoh-tokoh penting lainnya untuk ikut serta membangun Jakarta. Awal rekonsiliasi bisa dimulai dengan membangun kembali silaturahmi serta berdialog dengan seluruh elemen masyarakat.
Dengan cara seperti itu, pasangan Anies-Sandi dapat memenuhi janjinya untuk membangun Jakarta, menjadi pemimpin bagi seluruh golongan tanpa ada sekat-sekat. Perlu kebijaksanaan pasangan pemenang dalam melakukan rekonsiliasi serta kedewasaan pasangan yang kalah untuk menerima dengan lapang dada hasil akhir dari Pilkada DKI.
HILFUL FUDHUL
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Jurusan Manajemen Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 4 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Hasil perhitungan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) juga menunjukkan kemenangan diraih oleh pasangan nomor urut tiga yaitu Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Dalam perjalanan pilkada, pertarungan dua calon kandidat ini menguras banyak tenaga dan pikiran. Pilkada DKI banyak diwarnai kompetisi secara sehat maupun tidak sehat. Saling serang antara pendukung kerap terjadi, bahkan saling menjatuhkan adalah sisi lain dari ketidakdewasaan kita dalam mengikuti proses demokrasi. Ke depan hal ini harus menjadi evaluasi bersama.
Sebagai ibu kota, Jakarta jelas menjadi contoh bagi daerah lain yang akan mengadakan pesta demokrasi serupa pada 2018. Kedewasaan seluruh pasangan yang bertarung, baik yang memenangkan pertarungan maupun yang tidak, harus menghargai hasil akhir pilkada. Pertarungan yang menguras tenaga hingga memecah belah antarpendukung perlu untuk diakhiri oleh seluruh pendukung calon yang bertarung.
Pemenang Pilkada DKI harus mampu menunjukkan kepemimpinannya dengan mengajak kerja sama pasangan Ahok-Djarot yang lebih dulu memimpin Jakarta. Pengalaman Ahok-Djarot dalam memimpin Jakarta adalah modal bagi Anies-Sandi untuk belajar dari pengalaman dan dapat menjadi pertimbangan saat memimpin Jakarta lima tahun ke depan. Untuk mengakhiri terjadi perpecahan antarpendukung masing-masing pasangan calon gubernur diperlukan suatu rekonsiliasi.
Rekonsiliasi penting dilakukan untuk mencapai demokrasi yang seutuhnya pascapertarungan dalam pilkada, dan menjadi modal besar dalam membangun peradaban ke depan. Yang lebih penting bagi masyarakat Jakarta ke depan ialah bukan siapa yang akan memimpin, tetapi apa yang akan dilakukan untuk memajukan Jakarta, atau lebih tepatnya merealisasikan janji selama masa kampanye.
Pasangan pemimpin Jakarta yang baru, Anies-Sandi, juga perlu mengimbau persatuan dan kesatuan bagi seluruh masyarakat Jakarta. Gubernur DKI akan memimpin seluruh masyarakat Jakarta, bukan memimpin pendukungnya saja. Pemimpin ke depan perlu memenangkan hati masyarakat untuk mendapat kepercayaan dalam membangun Jakarta. Rekonsiliasi jelas adalah langkah awal yang perlu dilakukan demi menjaga keutuhan bangsa serta kemajuan daerah.
Terlebih lagi bila mengajak seluruh pendukung dan tokoh-tokoh penting lainnya untuk ikut serta membangun Jakarta. Awal rekonsiliasi bisa dimulai dengan membangun kembali silaturahmi serta berdialog dengan seluruh elemen masyarakat.
Dengan cara seperti itu, pasangan Anies-Sandi dapat memenuhi janjinya untuk membangun Jakarta, menjadi pemimpin bagi seluruh golongan tanpa ada sekat-sekat. Perlu kebijaksanaan pasangan pemenang dalam melakukan rekonsiliasi serta kedewasaan pasangan yang kalah untuk menerima dengan lapang dada hasil akhir dari Pilkada DKI.
HILFUL FUDHUL
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Jurusan Manajemen Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 4 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar