Beberapa pekan lalu kita telah menyaksikan dan ikut terlibat dalam pesta
demokrasi pemilihan 101 kepala daerah serentakdi seluruh Indonesia.
Kini kita sudah menemukan pemenangnya dan tentu kita percaya mereka adalah orang pilihan yang bisa membawa perubahan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebelum kita menemukan sosok pemenang dalam kontestan pilkada ini tentu banyak perjuangan dan usaha maupun kerja keras yang dilakukan oleh para kandidat kepada masyarakat untuk meyakinkan maupun masyarakat dalam memperjuangkan calon dukungannya.
Begitu pun dengan partai politik, harus bekerja keras untuk memperjuangkan calon yang diusungnya. Namun, yang terjadi di masyarakat adalah perpecahan karena perbedaan dukungan. Perpecahan yang terjadi selama proses pilkada ini merupakan sesuatu yang wajar dan merupakan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Tak bisa dimungkiri, kita hidup di Indonesia yang merupakan negara demokrasi. Karena itu, kita bebas untuk memilih siapa saja calon pemimpin yang sesuai dengan apa yang kita sukai berdasarkan hati nurani masing-masing, dan tergantung pada pandangan masyarakat terhadap sosok pemimpin yang baik menurut mereka.
Namun, selama musim pilkada berlangsung, banyak peristiwa-peristiwa yang tidak semestinya dilakukan oleh para pendukung sehingga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Misalnya dengan membawa isu suku, agama, ras dan golongan.
Memengaruhi masyarakat untuk memilih pemimpin yang seiman, sesuku, maupun segolongan merupakan salah satu cara merusak kebinekaan dan merobek tenun bangsa yang sejak sekian lama kita jaga sebagai kekhasan Indonesia dan harus dilestarikan. Untuk menang dalam pilkada kita harus bersaing secara sehat, tanpa merusak kebinekaan.
Berkaca dari kejadian ini, kita harus berefleksi dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan untuk tetap berjuang, maju demi kepentingan bersama dan tetap menjaga kelestarian Bhinneka Tungga Ika. Kita juga harus bersatu dan bekerja sama mewujudkan visi misi dan tujuan bersama demi terciptnya masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.
Untuk itu, setelah pilkada usai kita harus kembali bersatu untuk bangkit. Sudah sangat jelas di dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa persatuan Indonesia sangat penting untuk menentukan keberhasilan rakyat Indonesia. Bahkan setelah merdeka pun, persatuan harus selalu dipupuk agar tercapai tujuan bersama rakyat Indonesia.
GRATIANUS DAELI
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 8 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Kini kita sudah menemukan pemenangnya dan tentu kita percaya mereka adalah orang pilihan yang bisa membawa perubahan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebelum kita menemukan sosok pemenang dalam kontestan pilkada ini tentu banyak perjuangan dan usaha maupun kerja keras yang dilakukan oleh para kandidat kepada masyarakat untuk meyakinkan maupun masyarakat dalam memperjuangkan calon dukungannya.
Begitu pun dengan partai politik, harus bekerja keras untuk memperjuangkan calon yang diusungnya. Namun, yang terjadi di masyarakat adalah perpecahan karena perbedaan dukungan. Perpecahan yang terjadi selama proses pilkada ini merupakan sesuatu yang wajar dan merupakan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Tak bisa dimungkiri, kita hidup di Indonesia yang merupakan negara demokrasi. Karena itu, kita bebas untuk memilih siapa saja calon pemimpin yang sesuai dengan apa yang kita sukai berdasarkan hati nurani masing-masing, dan tergantung pada pandangan masyarakat terhadap sosok pemimpin yang baik menurut mereka.
Namun, selama musim pilkada berlangsung, banyak peristiwa-peristiwa yang tidak semestinya dilakukan oleh para pendukung sehingga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Misalnya dengan membawa isu suku, agama, ras dan golongan.
Memengaruhi masyarakat untuk memilih pemimpin yang seiman, sesuku, maupun segolongan merupakan salah satu cara merusak kebinekaan dan merobek tenun bangsa yang sejak sekian lama kita jaga sebagai kekhasan Indonesia dan harus dilestarikan. Untuk menang dalam pilkada kita harus bersaing secara sehat, tanpa merusak kebinekaan.
Berkaca dari kejadian ini, kita harus berefleksi dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan untuk tetap berjuang, maju demi kepentingan bersama dan tetap menjaga kelestarian Bhinneka Tungga Ika. Kita juga harus bersatu dan bekerja sama mewujudkan visi misi dan tujuan bersama demi terciptnya masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.
Untuk itu, setelah pilkada usai kita harus kembali bersatu untuk bangkit. Sudah sangat jelas di dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa persatuan Indonesia sangat penting untuk menentukan keberhasilan rakyat Indonesia. Bahkan setelah merdeka pun, persatuan harus selalu dipupuk agar tercapai tujuan bersama rakyat Indonesia.
GRATIANUS DAELI
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 8 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar