Langsung ke konten utama

Mengakhiri Rivalitas Pascapilkada

Pergelaran pilkada serentak telah usai, khususnya di DKI Jakarta. Pemenangnya sudah jelas, pasangan Anies-Sandi menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta terpilih dengan perolehan 50% lebih suara.

Disintegrasi dan polarisasi masyarakat yang terjadi akibat pemilu merupakan imbas dari fanatisme pendukung terhadap salah satu pasangan calon. Padahal, memilih salah satu paslon bukan berarti menjadi orang lain yang tidak seide sebagai musuh. Justru perbedaan pilihan itu menandakan adanya kebebasan berekspresi dan berjalannya analisis seseorang terhadap siapa yang akan mereka pilih.

Dengan berakhirnya pergelaran pilkada, seharusnya disintegrasi dan polarisasi itu sudah tidak ada lagi. Semua masyarakat harus kembali menyatu dan menanggalkan perbedaan pilihan ketika pilkada. Yang kalah harus fair dan yang menang tidak boleh sombong, semuanya harus merangkul, itu berlaku untuk kepala daerah terpilih dan masing-masing tim suksesnya.

Dengan demikian, konsolidasi menjadi sesuatu yang harus dilakukan dalam rangka reintegrasi kelompok masyarakat. Jika disintegrasi dan polarisasi tersebut masih berlangsung pascapilkada, imbasnya adalah tersendatnya pembangunan daerah. Upaya-upaya untuk mengkritisi pemerintah bahkan juga bisa menjadi subjektif karena ada unsur ketidaksukaan.

Pascapilkada, lembaga-lembaga pemerintahan harus diperkuat dan organisasi kemasyarakatan juga harus dirangkul untuk sinergitas pembangunan. Rivalitas pilkada ketika dibawakan ke masa pascapilkada sudah tidak relevan lagi. Karena, substansi pilkada adalah memilih pemimpin yang baru, bukan untuk memecah belah bangsa dan negara. Selain masyarakat, keselarasan pasangan kepala daerah terpilih juga harus mulai menyelaraskan antarsesama. Keselarasan itu bukan hanya ketika kampanye, tetapi selama menjalankan amanah memimpin juga demikian.

Jangan sampai pecah kongsi di tengah jalan. Terlebih pecah kongsi karena perbedaan pemikiran, hal ini hanya akan menjatuhkan citra mereka. Keselarasan antara kepala daerah dan wakilnya sangat penting dalam proses pembangunan politik di suatu daerah. Karena, pembangunan politik membutuhkan sinergitas, bukan rivalitas. Sinergitas menandakan sebuah harmonisasi telah mekar dalam lingkaran pemerintahan.

Kenapa proses pembangunan politik itu membutuhkan sinergitas? Tentu karena dalam pembangunan kita akan berbicara perkembangan dan pertumbuhan peran-peran fungsional yang saling terintegrasi dalam suatu lembaga maupun komunitas. Peran-peran tersebut tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi mereka telah terintegrasi satu dengan lainnya. Dan, di sanalah letak sinergitas tadi.

Kepala daerah beserta wakil, tentu paham bagaimana posisi mereka terhadap peran dan fungsi pembantunya dalam kerja pemerintahan. Jadi, pasangan pemimpin daerah ini memegang peranan penting dalam menjaga ritme, terlebih mereka menjadi teladan dalam pemerintahan.

Sebagai teladan-baik itu oleh ASN maupun sipil-sudah sepatutnya sinergi antara kepala daerah dengan wakilnya menjadi utama dalam bekerja agar dapat menular kepada bawahannya. Ibarat Trickle down Effect, semangat dan sinergi itu akan berimbas kepada lingkungannya sehingga semangat pemimpin, juga menjadi semangat bawahannya.

IKHSAN YOSARIE
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial Politik
Universitas Andalas

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 9 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...