Pilkada serentak 2017 yang digelar di 101 daerah memang layak dinobatkan
sebagai pesta demokrasi lokal paling seru yang begitu menarik
perhatian publik.
Pilkada yang paling menjadi sorotan publik adalah Pilkada DKI Jakarta. Panasnya suhu politik di Ibu Kota bahkan telah terasa sejak beberapa bulan sebelum pilkada dilangsungkan dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tokoh sentralnya. Keseruan Pilkada Jakarta bahkan menjalar ke mana-mana, dari dimensi politik, sosial, hingga agama. Isu dan sentimennya pun tak hanya sebatas lokal, namun nasional.
Hingga kadar dan batas tertentu, Pilkada Jakarta ini telah menyumbangkan kegaduhan, bahkan kerawanan nasional seperti misalnya rawan dengan gesekan dan konflik sosial. Namun, kita patut bersyukur semua yang dikhawatirkan itu tak terjadi. Semoga saja hal ini bisa menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi pematangan atau pendewasaan demokrasi kita.
Dengan segala dinamika akhirnya episode ini berakhir pada Pilkada Putaran II dengan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai pemenang, mengungguli pasangan petahana Basuki-Djarot. Terlepas dari beragam reaksi, kegembiraan, kekecewaan, ataupun keterkejutan yang ada, pada tataran ini sudah selayaknya bagi kita semua untuk meneladani kedua pasangan calon yang mau dan mampu berjiwa besar, secara dewasa menerima kemenangan, maupun kekalahan.
Reaksi yang ditampilkan oleh kedua pasang calon, khususnya saat Anies dan Ahok, langsung bertemu di Balai Kota Jakarta pada Kamis (20/4), sehari pascapencoblosan, semestinya bisa secara cerdas dan dewasa ditangkap oleh publik sebagai sinyal bahwa persaingan pilkada telah usai, dan saatnya untuk memulai kerja nyata dalam membangun Jakarta.
Dalam bahasa yang lain, kita berharap setelah pilkada usai jangan ada lagi beragam persaingan atau gesekan kepentingan yang kontraproduktif. Sejak pilkada menghasilkan pemenang, kita tak boleh gagal, apalagi salah fokus. Pada titik ini, fokus dan orientasinya harus beralih dari persaingan untuk meraih kemenangan, menjadi persatuan (kebersamaan) untuk menjalankan pembangunan. Untuk itu, energi dan konsentrasi kita saat ini mesti dicurahkan untuk mengawal beragam visi-misi dan janji-janji yang semasa kampanye pernah diutarakan oleh pasangan Anies-Sandi.
Hal ini sangatlah penting, karena sejatinya, pilkada (kontestasi demokrasi, di mana pun dalam jenjang apa pun), tidaklah berhenti hanya ketika pencoblosan usai dan menghasilkan pemenang. Lebih jauh daripada itu, agenda pascapilkada harus ada, dengan melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap aktualisasi dari visi-misi dan janji-janji yang telah dikemukakan.
Tentu dengan orientasi untuk bersama-sama membangun dan memajukan daerah, serta menyejahterakan rakyat yang ada di dalamnya, bukan lagi untuk menang-menangan pasangan yang dijagokan. Karena justru pada agenda pascapilkada inilah, kita dapat secara nyata melihat tingkat kedewasaan berdemokrasi, sekaligus melihat dengan nyata kualitas, integritas, dan komitmen pemenang kontestasi.
RIDWAN NANDA MULYANA
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sejarah
Universitas Diponegoro
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 4 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Pilkada yang paling menjadi sorotan publik adalah Pilkada DKI Jakarta. Panasnya suhu politik di Ibu Kota bahkan telah terasa sejak beberapa bulan sebelum pilkada dilangsungkan dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tokoh sentralnya. Keseruan Pilkada Jakarta bahkan menjalar ke mana-mana, dari dimensi politik, sosial, hingga agama. Isu dan sentimennya pun tak hanya sebatas lokal, namun nasional.
Hingga kadar dan batas tertentu, Pilkada Jakarta ini telah menyumbangkan kegaduhan, bahkan kerawanan nasional seperti misalnya rawan dengan gesekan dan konflik sosial. Namun, kita patut bersyukur semua yang dikhawatirkan itu tak terjadi. Semoga saja hal ini bisa menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi pematangan atau pendewasaan demokrasi kita.
Dengan segala dinamika akhirnya episode ini berakhir pada Pilkada Putaran II dengan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai pemenang, mengungguli pasangan petahana Basuki-Djarot. Terlepas dari beragam reaksi, kegembiraan, kekecewaan, ataupun keterkejutan yang ada, pada tataran ini sudah selayaknya bagi kita semua untuk meneladani kedua pasangan calon yang mau dan mampu berjiwa besar, secara dewasa menerima kemenangan, maupun kekalahan.
Reaksi yang ditampilkan oleh kedua pasang calon, khususnya saat Anies dan Ahok, langsung bertemu di Balai Kota Jakarta pada Kamis (20/4), sehari pascapencoblosan, semestinya bisa secara cerdas dan dewasa ditangkap oleh publik sebagai sinyal bahwa persaingan pilkada telah usai, dan saatnya untuk memulai kerja nyata dalam membangun Jakarta.
Dalam bahasa yang lain, kita berharap setelah pilkada usai jangan ada lagi beragam persaingan atau gesekan kepentingan yang kontraproduktif. Sejak pilkada menghasilkan pemenang, kita tak boleh gagal, apalagi salah fokus. Pada titik ini, fokus dan orientasinya harus beralih dari persaingan untuk meraih kemenangan, menjadi persatuan (kebersamaan) untuk menjalankan pembangunan. Untuk itu, energi dan konsentrasi kita saat ini mesti dicurahkan untuk mengawal beragam visi-misi dan janji-janji yang semasa kampanye pernah diutarakan oleh pasangan Anies-Sandi.
Hal ini sangatlah penting, karena sejatinya, pilkada (kontestasi demokrasi, di mana pun dalam jenjang apa pun), tidaklah berhenti hanya ketika pencoblosan usai dan menghasilkan pemenang. Lebih jauh daripada itu, agenda pascapilkada harus ada, dengan melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap aktualisasi dari visi-misi dan janji-janji yang telah dikemukakan.
Tentu dengan orientasi untuk bersama-sama membangun dan memajukan daerah, serta menyejahterakan rakyat yang ada di dalamnya, bukan lagi untuk menang-menangan pasangan yang dijagokan. Karena justru pada agenda pascapilkada inilah, kita dapat secara nyata melihat tingkat kedewasaan berdemokrasi, sekaligus melihat dengan nyata kualitas, integritas, dan komitmen pemenang kontestasi.
RIDWAN NANDA MULYANA
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sejarah
Universitas Diponegoro
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 4 Mei 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar