Langsung ke konten utama

Menstabilkan Ekonomi Masyarakat

Secara keseluruhan Indonesia masih tak stabil dalam mengelola ekonomi yang ada saat ini. Terbukti bahwa sebagian besar masyarakat yang berada di kota-kota besar dengan mudah mengeluarkan ekonominya, sedangkan daerah pedesadesaan mayoritas masih memanfaatkan alam untuk kebutuhan sehari-hari.

Jika pemerintah bisa andil dalam pemerataan ekonomi, angka kemiskinan yang berasa di Indonesia tidak akan bertambah. Hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Masih banyak pengangguran merajalela akibat kesenjangan ekonomi Indonesia. Sebagaimana data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Mei 2017 tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,33%.

Tidak dimungkiri bahwa Indonesia memiliki angka kemiskinan yang relatif besar disebabkan oleh adanya tingkat pengangguran yang tinggi. Jika sudah seperti ini, menstabilkan ekonomi utuh dalam masyarakat perlu adanya proses. Dapat dianalisis, peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan akibat:

Pertama, perlunya peluang pekerjaan lebih luas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nyatanya peluang kerja saat ini masih terbilang minim, tidak sedikit pabrik-pabrik gulung tikar karena kurangnya kestabilan antara SDM dan ekonomi.

Kedua, perlunya generasi yang berpendidikan. Hal ini penting untuk menunjang kestabilan ekonomi di Indonesia, bisa dilihat bahwa masih banyak desa-desa terpencil yang masih kurang mengenyam dunia pendidikan. Generasi muda harus lebih cerdas untuk membuka peluang kesejahteraan. Tidak lain dan tidak bukan ini bersumber dari kekurangannya SDM kependidikan, tidak meratanya tenaga kependidikan di Indonesia yang memacu kurangnya generasi muda yang berpendidikan.

Ketiga, cerdas dalam mengolah ekosistem alam. Jika Indonesia lebih cermat lagi untuk memperhatikan ekosistem alam yang ada, kestabilan ekonomi akan membaik. Tidak dimungkiri bahwa alam di Indonesia memang sangat indah, tetapi tidak sedikit oknum tertentu yang menyalah gunakan alam untuk keperluan pribadi. Hal ini akan memperburuk ekosistem alam di Indonesia.

Keempat, menggunakan teknologi yang tidak cerdas. Teknologi saat ini terbilang mulai canggih, tujuan Indonesia memperluas teknologi, yaitu memudahkan masyarakat berkembang atau dapat dikatakan agar Indonesia maju dalam segi teknologi.

Sayangnya, teknologi yang begitu canggih ini tidak dipergunakan dengan semestinya. Perlu perhatian masyarakat akan adanya teknologi bukan semata-mata terlena dengan segala fasilitas yang memudahkan masyarakat. Masyarakat kurang cerdas dalam menyikapi kemudahan teknologi yang ada. Tidak sedikit masyarakat yang terlena dengan kecanggihan teknologi sehingga lupa akan dirinya yang memerlukan kebutuhan ekonomi untuk menunjang kehidupan selanjutnya.

Sayangnya, kecanggihan teknologi ini kurang dimanfaatkan dengan semestinya. Bahkan fakta membuktikan, sebagian besar warga Indonesia terlena dengan kemudahan teknologi yang tersedia sehingga generasi muda selanjutnya yang seharusnya bisa cerdas dalam menyejahterakan Indonesia bukan berdampak positif, melainkan sebaliknya.

Kecanggihan teknologi berbalik arah dan semakin merajalela serta menjadikan generasi muda terlihat tidak berpendidikan sama sekali. Jika sudah seperti ini, Indonesia memerlukan adanya generasi muda yang cerdas untuk memperluas peluang lapangan kerja, mengelola ekosistem alam, pemerataan SDM kependidikan sehingga bisa mengurangi kesenjangan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi.

ANISA NUR OKTAVIANI
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 26 Mei 2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...