Langsung ke konten utama

Sikap Politik Indonesia pada Konflik Suriah

Awal bulan ini, masyarakat dunia dikejutkan dengan pengeboman dan penembakan senjata kimia oleh kaum pemberontak yang terjadi di Kota Khan Seikhun, Suriah.

Sebanyak 86 orang tewas dan 30 di antaranya merupakan anak-anak. Konflik ini diperparah dengan tindakan pemerintahan Amerika Serikat yang menjatuhkan rudal ke pangkalan militer Suriah. Akibatnya, sikap beberapa negara atas serangan rudal ini terpecah antara kubu pro dan kontra. Kasus tersebut menambah panjang rentetan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Sejak dahulu, Timur Tengah merupakan kawasan yang paling sering mengalami konflik dan instabilitas politik. Konflik yang terjadi di Timur Tengah sering kali menjadi headline pemberitaan berbagai media di seluruh dunia. Konflik yang terjadi di Timur Tengah bukan lagi hanya permasalahan yang ditangani oleh negara-negara yang terletak di kawasan semenanjung Arab, melainkan juga permasalahan yang harus ditangani berbagai negara di seluruh dunia.

Salah satunya Indonesia. Indonesia termasuk salah satu negara yang sering kali memberikan sikap politik terhadap konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Pada konflik ini, Indonesia mengutuk tindakan penembakan menggunakan senjata kimia dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah atas kasus ini.

Selain itu, Indonesia juga mendesak kasus ini untuk dibawa ke Mahkamah Internasional. Salah satu tujuan negara Indonesia yang terdapat di dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan ini mempunyai makna bahwa Indonesia harus bersikap proaktif di dalam menjaga ketertiban dunia.

Selain memberikan sikap politik, Indonesia juga harus berperan di dalam penyelesaian konflik yang mengganggu keamanan dan kestabilan politik global. Indonesia mengambil sikap politik yang cukup tepat di dalam menanggapi kasus ini. Peperangan menggunakan senjata kimia merupakan suatu tindakan yang tidak terpuji karena dapat menimbulkan efek berbahaya dan berkepanjangan di dalam tubuh manusia.

Selain itu, penggunaan senjata kimia juga merupakan suatu tindakan yang melanggar aturan perang karena senjata kimia merupakan salah satu senjata yang penggunaannya dilarang di dalam perang, seperti yang diatur dalam Konvensi Jenewa 1949. Kasus ini juga layak untuk dibahas di dalam forum Dewan Keamanan PBB karena mengancam keamanan internasional dan stabilitas politik global.

Dewan Keamanan PBB sebagai sebuah dewan yang mempunyai wewenang untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional harus mengambil tindakan yang efektif di dalam menyikapi kasus ini. Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut serta di dalam menjaga perdamaian dunia seharusnya turut mengawal proses penyelesaian konflik ini sampai selesai.

Keikutsertaan Indonesia di dalam mengawal konflik ini juga dapat dijadikan tanda bahwa Indonesia juga peduli dengan isu keamanan internasional. Tindakan tersebut juga diharapkan dapat membuat keamanan internasional tetap terjaga dan politik internasional diharapkan juga dapat lebih stabil.

CLAUDIA MULYAWAN
Mahasiswi Fakutas Hukum
Universitas Sebelas Maret

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Kamis 13 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...