Langsung ke konten utama

Ekonomi, Politik dan Pembangunan

Pada hakikatnya, ekonomi, politik, serta pembangunan menjadi bagian penting dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Masalah yang biasa terjadi dalam menghambat pembangunan sebuah bangsa, tidak lain berakar pada masalah ekonomi dan politik.

Lembaga politik memiliki otoritas dalam menentukan suatu kebijakan bangsanya. Termasuk kebijakan mengenai sistem ekonomi. Maka menjadi penting bagi penentu kebijakan atau dalam hal ini pejabat negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif untuk benar-benar memahami makna  kepemimpinannya sebagai wakil rakyat. Hal ini menjadi sangat penting mengingat tidak sedikit pemangku kebijakan yang akhirnya menyalahgunakan kekuasaannya.

Bukan untuk kepentingan rakyat, namun keputusan-keputusannya tidak lain hanyalah demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Walhasil, penyalahgunaan kekuasaan berujung pada banyaknya kasus korupsi. Banyaknya kasus korupsi, seperti kasus dugaan korupsi terkait penyelenggaraan haji 2012/2013 yang menyeret Kementerian Agama, korupsi terkait dengan pengadaan proyek di Kementerian ESDM pada 2011-2013, dan kasus korupsi e-KTP yang menjerat beberapa nama anggota DPR menjadi salah satu potret kegagalan negara dalam dunia politik.

Dalam dunia ekonomi, pelaku ekonomi juga tidak kalah penting sebagai penentu pembangunan bangsa. Namun, independensi dan otoritas pelaku ekonomi memiliki potensi penyalahgunaan yang sama dengan pemangku kebijakan. Maka antara sistem politik dan sistem ekonomi mestinya memiliki sistem saling kontrol antara satu dan yang lain. Adanya desentralisasi ini tidaklah cukup untuk memecahkan masalah politik yang ada di masyarakat.

Karena, tidak ada jaminan bahwa setiap agen ekonomi tidak menyalahgunakan kekuasaan dalam melakukan kontrol pasar dan menetapkan harga. Politik dan ekonomi memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan demi melahirkan pembangunan bangsa. Untuk itu, negara sebagai pemangku kebijakan harus memiliki independensi. Karena sistem ekonomi, kebijakan, maupun kontrol terhadap pelaku ekonomi akan menentukan pembangunan bangsa.

Tidak hanya berhenti pada independensi, pembangunan melalui sistem ekonomi juga membutuhkan pejabat negara sebagai pelaku politik akan kesadaran terhadap keadilan.

Kesadaran dari individu yang kemudian menjadi kesadaran komunal pejabat negara akan pentingnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bermula dari perekonomian yang merata bagi rakyatnya. Tidak terjadi ketimpangan antara yang miskin dan yang kaya.

Apalagi yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin atau memperbanyak korupsi untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Hal ini akan terwujud apabila disadari dari awal sebelum terpilih untuk duduk di kursi pemerintahan. Di sadari pula oleh pelaku ekonomi yang memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa. Karena sejatinya ekonomi, politik, dan pembangunan ialah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

TRI MURYANI
Mahasiswa Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 5 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...