Langsung ke konten utama

Saling Menghormati Antarperadaban

Dunia akhir-akhir ini semakin merana dengan bergejolaknya politik global yang berimbas pada tergusurnya nilai-nilai kemanusiaan.

Peristiwa terbaru terjadi pengeboman Suriah oleh Amerika Serikat. Tindakan tersebut sebagai respons Amerika Serikat yang menganggap Suriah telah menggunakan senjata kimia ke sebuah kota yang dikuasai kelompok pemberontak. Pengeboman tersebut tentunya menuai pro dan kontra di masyarakat internasional. Hal yang paling penting dan menjadi sorotan adalah nilai kemanusiaan telah dirampas oleh pengeboman tersebut.

Banyak warga sipil yang meninggal, bahkan anak-anak pun banyak yang menjadi korban sebagai imbasnya. Gejolak politik global sebenarnya tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab akibat yang melatarbelakanginya. Sebenarnya inti dari permasalahan tersebut adalah perebutan sumber energi dan konflik antarperadaban. Sumber energi yang diperebutkan adalah minyak bumi yang menjadi kebutuhan bagi setiap negara. Kebutuhan akan minyak bumi sangat mendesak bagi setiap negara, sehingga diperlukan kontrol untuk mengaturnya.

Konflik antarperadaban yang terjadi di Timur Tengah merupakan konflik antara dua peradaban besar, yaitu peradaban Islam (Timur) dan peradaban Barat. Konflik antara dua kutub yang berbeda ini berlangsung secara berkepanjangan dan telah melibatkan banyak negara yang terlibat dalam konflik tersebut. Samuel P Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), menyatakan bahwa sumber utama konflik dunia tidak akan lagi menyangkut masalah ideologi dan ekonomi, tetapi budaya.

Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik dominan. Negara-negara akan menjadi aktor yang paling kuat dalam percaturan politik dunia, tetapi konflik politik global akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaan-perbedaan dari mereka, serta benturan peradaban akan mendominasi politik global. Sudah saatnya dua kubu yang saling bertentangan tersebut saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Tinggalkan etnosentrisme, yaitu sikap yang memandang kebudayaan dirinya paling baik dan menganggap kebudayaan orang lain dari perspektif kebudayaannya.

Sampai kapan pun cara pandang seperti ini, jika masih diterapkan oleh salah satu pemangku peradaban maka konflik akan sulit untuk dihindarkan. Tidak ada intervensi satu sama lain akan menumbuhkan semangat persatuan walaupun masyarakat secara global itu berbeda. Jika terjadi konflik, seharusnya negara-negara yang terlibat konflik segera untuk mengakhirinya baik konflik antarperadaban maupun konflik intraperadaban. Hal itu akan menciptakan tatanan global yang bersahaja aman bagi eksistensi manusia.

Rizal Noviandi
Mahasiswa Jurusan Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjajaran

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 21 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...