Langsung ke konten utama

Kebijakan Pembangunan Presiden Jokowi

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 34 provinsi dan tersebar di sepanjang Sabang sampai Merauke. Sebuah negara tentu memiliki kewajiban membangun perekonomian yang merata untuk menjamin kesejahteraan warga negaranya.

Ini merupakan salah satu bentuk atribusi dari Undang- Undang Dasar 1945 kepada negara dalam kewajibannya untuk memenuhi hak-hak warga negaranya. Salah satu bentuk upaya pemerintah dalam membangun perekonomian yang merata di Indonesia adalah dengan meningkatkan infrastruktur penunjang di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang mendapatkan perhatian yang seimbang dengan Indonesia bagian barat.

Era kabinet kerja di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah mulai menggalakan pembangunan infrastruktur di bagian Indonesia timur. Salah satu contoh yang patut untuk mendapat perhatian dengan rencana pembangunan pelabuhan bertaraf internasional yang terletak di Sorong, Papua Barat. Pembangunan pelabuhan tersebut akan memakan biaya sebesar Rp2,4 triliun dan diperkirakan dapat segera dimulai pada awal 2017.

Besarnya dana yang disiapkan pemerintah untuk melakukan pembangunan infrastruktur di bagian Indonesia timur menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia telah bersungguh-sungguh dalam melakukan upaya penyejahteraan ekonomi secara merata di Tanah Air. Namun, jika ditinjau dari ilmu filsafat politik hal tersebut dapat memiliki pandangan yang berbeda. Salah satu teori cabang filsafat politik yang berkembang adalah teori populisme.

Tidak ada yang mendefinisikan populisme secara pasti, tapi jika disimpulkan populisme adalah filsafat politik yang berpihak kepada hak-hak dan kepentingan orang banyak tapi alih-alih berpihak kepada elite dan pemerintah. Populisme tidak melihat segala kebijakan-kebijakan pemerintah yang memiliki tujuan membangun negara sebagai suatu hal yang memiliki makna positif saja, mereka juga beranggapan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut dibuat hanya untuk sebagai pengalih kekecewaan warga negara terhadap kondisi realitas ekonomi serta politik negara.

Jika populisme dikaitkan dengan kebijakan pemerintah untuk membangun pelabuhan bertaraf internasional di Sorong, muncul pertanyaan apakah pembangunan pelabuhan internasional tersebut bertujuan untuk membangun Indonesia bagian timur atau hanya sebagai ”jawaban” terhadap harapan rakyat dalam menanti pembangunan di Indonesia bagian timur?

ADIRIZAL MUHAMMAD DITO
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Indonesia

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 3 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...