Langsung ke konten utama

Krisis Kepercayaan

Bukan perkara mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Butuh sosok yang berintegritas, inovatif, dan tulus dalam mengemban amanah rakyat.

Mengapa dikatakan tulus? Sudah jarang kita menemukan pemimpin rakyat yang melakukan tugas dan kewajiban secara profesional tanpa mengharapkan timbal balik yang akan didapatkannya. Dari dulu hingga sekarang, sudah banyak berita beredar mengenai para wakil rakyat yang menyelewengkan amanah yang dipercayakan kepadanya, bahkan mengkhianati rakyat yang memilihnya hanya untuk memenuhi kebutuhan individual semata.

Misalnya saja kasus e-KTP yang melibatkan sekitar 23 anggota DPR RI dan diduga menyelewengkan uang negara sebesar Rp 5,9 triliun. Bukan angka yang kecil untuk dialihfungsikan menjadi kas pribadi. Hal itu pun memicu rakyat semakin tidak percaya pada pemerintahan sekarang ini. Kasus Pilkada DKI pun menyita perhatian rakyat, bahkan hingga warga di luar Jakarta dengan adanya tanggapan terhadap kasus tersebut yang bahkan dikaitkan pada isu SARA. Isu SARA seharusnya tidak dimunculkan pada persoalan ini. Yang lebih mengherankan, masyarakat yang tidak ada hak suaranya pada Pilkada DKI pun ikut campur merusak tatanan sosial kita.

Begitu mudahnya masyarakat Indonesia terpancing akan perkataan orang lain yang mencoba memperkeruh suasana, bahkan memperburuk situasi yang seharusnya tidak perlu sesulit itu. Masyarakat Indonesia terlalu mencampuri urusan orang lain dan mudahnya untuk diadu domba. Hal inilah yang mengakibatkan tatanan kehidupan masyarakat begitu mudah untuk digoyang. Belum ada disiplin diri untuk membentengi diri dari pengaruh luar. Permasalahan yang terjadi ini tentu mengganggu tatanan kehidupan masyarakat secara keseluruhan baik pada bidang sosial, teologis, politik maupun ekonomi.

Sebuah negara ini seperti satu tubuh yang terdiri atas anggota tubuh dengan tugas dan fungsi masing-masing. Jika ada satu anggota tubuh terganggu atau mengalami penurunan fungsi, keberlangsungan tugas dan fungsi anggota tubuh lain pun akan terhambat sehingga mengganggu pencapaian tujuan tubuh itu sendiri untuk tetap hidup. Misalnya ketika kaki sedang sakit, susah untuk mata menggapai sesuatu yang diinginkan otak, gelisah rasa hati ketika kehendak otak tidak bisa terwujud sebagaimana mestinya, dan sebagainya.

Seperti itulah sebuah negara. Jika kehidupan ekonomi kita tidak sehat dikarenakan banyaknya tindak korupsi dan suap di berbagai instansi, sulit bagi negara dalam pencapaian tujuan negara yang tercantum pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Dan jika kehidupan politik kita juga tidak sehat, sulit bagi pemerintah untuk menjalankan tugas dan fungsinya karena adanya ketidakstabilan pada pemerintahan serta adanya mosi tidak percaya dari rakyat kepada pemerintah.

Hardika Mayline Tampubolon
Taruna Tingkat III
Politeknik Imigrasi

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Sabtu 6 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...