Dunia internasional tengah digemparkan oleh konflik Suriah yang
menghilangkan ribuan jiwa. Media internasional juga tak luput dari
situasi memanas tersebut, akar permasalahan politik etis dan ekonomi
terus mengalami metamorfosa.
Fenomena gas sarin yang dialamatkan oleh rezim Basyar al-Assad—meskipun belum diketahui kebenarannya—menyusul peluncuran rudal Amerika Serikat yang diklaim telah melewati garis merah. Konflik ini memicu disintegrasi antarnegara dan terpecahnya persatuan di berbagai belahan dunia. Fenomena gas kimia yang diduga jenis sarin ini diluncurkan oleh pesawat tempur Suriah di Khan Shaykun, Provinsi Idlib, pada Selasa 4 April 2017. Berdasarkan data WHO, serangan ini menewaskan 70 orang dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka, mayoritas korbannya terdiri dari kalangan wanita dan anak-anak. Gas sarin dinilai sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia.
Menjamurnya pemberitaan media Amerika dan Eropa terkait kekejaman rezim Presiden Basyar al-Assad terhadap rakyatnya dilatarbelakangi oleh konflik agama, yakni perseteruan Sunni-Syiah. Namun, media tidak terlalu menyoroti akar konflik sebenarnya yang dipicu oleh kepentingan ekonomi dan elite politik. Dilansir dari Scoop, Presiden Basyar al-Assad menolak proposal Turki untuk membangun pipa minyak dan gas alam antara Qatar dan Turki melalui Suriah pada 2011-2012. Penolakan dilakukan atas pertimbangan terancamnya pasokan gas dari Rusia ke Eropa yang selama ini dikuasai oleh Rusia Gazprom.
Pada 2012, Amerika, Inggris, Prancis, Qatar, dan Arab Saudi bersama Turki mulai membentuk, mempersenjatai, dan mengongkosi kaum pemberontak dari Pasukan Pembebasan Suriah (FSA). Suriah bersama Iran dan Irak justru membahas pembangunan jalur pipa migas yang rencananya akan dimulai antara 2014 dan 2016 dari ladang minyak Iran South Pars melalui Irak lalu ke Suriah. Jika itu terwujud maka jalur pipa migas itu akan dengan mudah diperpanjang ke Libanon dan dengan demikian mencapai Eropa, sebagai target pasar.
Konflik Suriah ini telah menyita perhatian publik, merenggut banyak nyawa serta memicu keprihatinan yang diungkapkan oleh berbagai pihak. Resolusi konflik dengan mengakhiri pertempuran dinilai menjadi hal vital bagi penjagaan stabilitas demi kepentingan rakyat di kawasan Suriah. Perundingan perdamaian perlu segera dimandatkan oleh PBB, demi terciptanya dunia internasional yang damai, sejahtera, serta aman dari kecaman bangsa lain.
Siti Heni Rohamna
Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 26 April 2017)
Sumber: Koran Sindo
Fenomena gas sarin yang dialamatkan oleh rezim Basyar al-Assad—meskipun belum diketahui kebenarannya—menyusul peluncuran rudal Amerika Serikat yang diklaim telah melewati garis merah. Konflik ini memicu disintegrasi antarnegara dan terpecahnya persatuan di berbagai belahan dunia. Fenomena gas kimia yang diduga jenis sarin ini diluncurkan oleh pesawat tempur Suriah di Khan Shaykun, Provinsi Idlib, pada Selasa 4 April 2017. Berdasarkan data WHO, serangan ini menewaskan 70 orang dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka, mayoritas korbannya terdiri dari kalangan wanita dan anak-anak. Gas sarin dinilai sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia.
Menjamurnya pemberitaan media Amerika dan Eropa terkait kekejaman rezim Presiden Basyar al-Assad terhadap rakyatnya dilatarbelakangi oleh konflik agama, yakni perseteruan Sunni-Syiah. Namun, media tidak terlalu menyoroti akar konflik sebenarnya yang dipicu oleh kepentingan ekonomi dan elite politik. Dilansir dari Scoop, Presiden Basyar al-Assad menolak proposal Turki untuk membangun pipa minyak dan gas alam antara Qatar dan Turki melalui Suriah pada 2011-2012. Penolakan dilakukan atas pertimbangan terancamnya pasokan gas dari Rusia ke Eropa yang selama ini dikuasai oleh Rusia Gazprom.
Pada 2012, Amerika, Inggris, Prancis, Qatar, dan Arab Saudi bersama Turki mulai membentuk, mempersenjatai, dan mengongkosi kaum pemberontak dari Pasukan Pembebasan Suriah (FSA). Suriah bersama Iran dan Irak justru membahas pembangunan jalur pipa migas yang rencananya akan dimulai antara 2014 dan 2016 dari ladang minyak Iran South Pars melalui Irak lalu ke Suriah. Jika itu terwujud maka jalur pipa migas itu akan dengan mudah diperpanjang ke Libanon dan dengan demikian mencapai Eropa, sebagai target pasar.
Konflik Suriah ini telah menyita perhatian publik, merenggut banyak nyawa serta memicu keprihatinan yang diungkapkan oleh berbagai pihak. Resolusi konflik dengan mengakhiri pertempuran dinilai menjadi hal vital bagi penjagaan stabilitas demi kepentingan rakyat di kawasan Suriah. Perundingan perdamaian perlu segera dimandatkan oleh PBB, demi terciptanya dunia internasional yang damai, sejahtera, serta aman dari kecaman bangsa lain.
Siti Heni Rohamna
Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 26 April 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar