Langsung ke konten utama

Gejolak Politik Mencederai Pembangunan

Tidak diragukan lagi kondisi ekonomi dan politik menjadi hal yang sifatnya vital dalam keberlangsungan suatu negara. Bagaimana tidak, ekonomi-politik menjadi motor penggerak suatu negara dalam banyak bidang, baik di dalam negeri maupun dalam cakupan internasional.

Oleh sebab itu pemerintah harus selalu mencoba untuk menciptakan kondisi ekonomi dan politik yang baik. Ekonomi dan politik merupakan dua hal yang berbeda seperti arti dan fungsinya berbeda. Namun dalam perkembangannya kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dalam penyelenggaraan negara. Politik dan ekonomi akan dapat saling mengisi dalam pembangunan suatu negara dan dapat pula antara politik dan ekonomi tidak searah dalam tujuan sehingga pembangunan menjadi tidak efektif.

Misalnya saja hubungan kuat antara ekonomi dan politik dapat dilihat dengan adanya penguasa yang menentukan arah sistem politik dalam kelembagaan masyarakat yang mempermudah pembangunan ekonomi sehingga pengusaha atau pihak swasta yang menangani dapat dengan leluasa melakukan pembangunan ekonomi yang sudah direncanakan. Demikian juga sebaliknya jika situasi politik tidak mendukung.

Perubahan politik dapat ditimbulkan oleh konflik kepentingan dan gagasan atau nilai-nilai baru (Surbakti, 1992). Demikian halnya dalam pembangunan ekonomi sering kali terhambat oleh kepentingan-kepentingan dan gagasan sehingga peraturan yang awalnya mendukung dalam pembangunan ekonomi tersebut dapat berbalik arah oleh kebijakan-kebijakan politik penguasa. Contohnya investor lokal dan investor asing yang akan mempertimbangkan peristiwa kondisi dan politik di tanah air.

Tingginya gejolak politik yang terjadi tentu akan merusak proses pembangunan ekonomi. Hingga saat ini pembangunan ekonomi Indonesia masih banyak mengalami hambatan dalam mencapai kemajuan. Di samping gejolak politik, pembangunan ekonomi masih diwarnai dikotomi antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi di Indonesia. Masih ada kontroversi antara mana yang lebih dahulu dilakukan dan dicapai, antara pertumbuhan ekonomi atau pemerataan ekonomi.

Adapun jika kita berbicara mengenai pembangunan ekonomi, kedua hal tersebut harus tercapai. Hal itu membuat pemerintah sulit dalam menentukan fokus pembangunan ekonomi. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi memang bukan hal yang dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, melainkan dengan proses yang berkelanjutan. Hal itu mengingat permasalahan yang ada di negeri ini adalah persebaran penduduk yang tidak merata.

Kasus itu menjadi salah satu contoh hambatan dalam pembangunan ekonomi yang menyebabkan pembangunan berpusat di Pulau Jawa. Pemerintah sebagai pihak yang memiliki kekuasaan politik perlu mengambil kebijakan yang sifatnya jangka panjang namun memiliki target yang jelas. Secara perlahan, masalah yang menghambat pembangunan ekonomi harus diselesaikan.

Misalnya memulai dari pemerataan penduduk di setiap pulau-pulau besar di Indonesia dengan diikuti pembangunan di daerah tersebut sehingga setiap daerah di Indonesia memiliki ekonomi yang baik dan pertumbuhan ekonomi juga akan ikut tercapai. Untuk mencapai target itu, Pemerintah Indonesia penting memaksimalkan peranan pemerintah daerah atau otonomi daerah.

JANWAN TARIGAN
Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial Politik
Universitas Brawijaya

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 7 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...