Langsung ke konten utama

Krisis Politik Global dan Kosmopolitanisme Progresif

Beberapa permasalahan politik di tingkat global yang terjadi akhir-akhir ini seperti krisis kemanusiaan di Suriah, persekusi etnis Rohingya di Myanmar, polemik imigran di Eropa, naiknya popularitas kaum populis kanan di berbagai negara di dunia, serta terorisme yang terjadi berulang kali, sebenarnya menandakan satu hal: dunia sedang dilanda krisis kosmopolitanisme.

Lebih dari dua abad sejak pertama kali dituliskan oleh Immanuel Kant pada 1795 dalam karya magnum opus -nya Perpetual Peace atau Perdamaian Abadi, dunia masih belum berhasil mewujudkan tatanan kosmopolitan ala Kant yang menurutnya hanya bisa berhasil jika apa yang disebutnya sebagai syarat-syarat keramah-tamahan universal (conditions of universal hospitality) berhasil ditegakkan. Immanuel Kant dalam karyanya tersebut dengan jelas menyatakan bahwa “Karena bumi adalah satu globe, manusia tidak dapat terpencar ke wilayah yang tak berhingga, tetapi harus secara niscaya menenggang-rasa satu sama lain”. Kant menambahkan, “pada dasarnya tidak ada seorang pun yang memiliki hak paling besar dibandingkan yang lain untuk menduduki satu porsi tertentu dari bumi” (Al-Fayyadl, 2015).

Argumen Kant tersebut juga mengandung makna lain bahwa untuk menegakan tatanan dunia yang kosmopolitan kita pun harus dengan tegas menolak perilaku imperialis-kolonialis yang dengan seenaknya memanfaatkan hak untuk mengunjungi daerah-daerah “asing” untuk kemudian diduduki, dipecah-belah, dan kemudian disedot habis-habisan sumber daya alamnya. Lantas, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Krisis kosmopolitanisme pun ternyata juga melanda Indonesia. Narasi asing dan aseng yang banyak mewarnai media-media sosial di Indonesia menjadi salah satu indikatornya.

Bahwa kita harus menolak perilaku imperialis-kolonialis yang dilakukan oleh negara-negara super power di dunia ini agar tatanan dunia yang kosmopolitan bisa diwujudkan seperti yang diungkapkan oleh Kant adalah benar, tetapi seperti yang diungkapkan oleh Soekarno; yang seharusnya kita benci adalah perilakunya, bukan bangsa yang kebetulan pemimpin- pemimpinnya melakukan tindakan-tindakan seperti itu. Hal lain yang mengkhawatirkan adalah di dunia saat ini kosmopolitanisme berlaku hanya pada uang dan modal yang boleh masuk ke belahan dunia mana pun, sedangkan manusia-manusia yang butuh pertolongan alih-alih diterima malah ditolak mentah-mentah.

Gagasan YB Mangunwijaya tentang manusia Pasca-Indonesia yang berusaha membentuk manusia-manusia Indonesia tidak hanya mempunyai kesadaran keindonesiaan yang kuat, tetapi juga memiliki kesadaran sebagai warga dunia. Di tengah berbagai permasalahan yang melanda dunia saat ini, generasi muda Indonesia perlu mengartikulasikan gagasan Romo Mangun tersebut menjadi gagasan kosmopolitanisme progresif yang aktif.

Kosmopolitanisme yang dibutuhkan dunia saat ini bukan sekadar kosmopolitanisme yang ramah pada modal dan uang tetapi kosmopolitanisme yang ramah pada manusia dan alam sekitarnya serta kosmopolitanisme yang melawan ketidakadilan demi tatanan dunia masa depan yang mampu mewujudkan perdamaian abadi.

Dendy Raditya Atmosuwito
Mahasiswa Jurusan Manajemen Kebijakan Publik
Fakultas Ilmu Sosial Politik

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Senin 10 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...