Langsung ke konten utama

Islam Rahmatan Lill’alamin

Politik dunia hari ini sedang mengalami krisis kebuntuan dalam menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi beberapa tahun belakangan.

Seperti kasus perang yang terjadi di Timur Tengah, dan yang paling sering mengacaukan stabilitas politik dunia adalah munculnya beberapa aksi teror. Penyelesaian konflik yang terjadi melalui pendekatan konflik akan memperpanjang terjadinya perang, bahkan yang terjadi di Suriah merembet ke perang antarsaudara.

Sejak terjadinya aksi pengeboman gedung WTC pada 11 September 2001 dan menewaskan ribuan orang, dunia seakan belum mampu menuntaskan tugasnya untuk mengurai kasus teroris serta terorisme sebagai paham. Kecenderungan menyelesaikan kasus terorisme melalui peperangan nyatanya mengalami kebuntuan jika ditinjau dari aspek penyelesaian serta teror yang masih ada.

Dalam tatanan dunia hari ini seharusnya mulai disepakati bahwa kasus terorisme, kelaparan, dan kemiskinan adalah musuh bersama yang segera untuk di selesaikan. Pandangan ini muncul dan diyakini bersama antarnegara akan mengurangi perseteruan antar negara-negara super power seperti Rusia dan USA. Konflik yang terjadi antara dua negara adidaya ini justru cenderung akan memperkeruh keadaan yang terjadi di Suriah semisal.

Negara besar hanya menyelesaikan masalah yang terjadi dengan perang senjata yang dapat memantik gejolak politik global. Kebuntuan ini harusnya mendudukkan negara-negara untuk mulai memikirkan alternatif lain selain perang dan diplomasi. Kita harus melihat bahwa perang selama ini hanya merugikan satu sama lain dan menyebabkan gejolak politik serta merugikan secara ekonomi.

Tidak selamanya persoalan seperti teroris dan terorisme diselesaikan dengan mengumumkan perang senjata. Perlu adanya resolusi konflik dan tawaran lain. Indonesia sebagai sebuah negara multikultur dan ragam agama mampu meminimalisasi penyebaran terorisme. Sebagai negara dengan mayoritas Islam, Indonesia memiliki alternatif lain untuk menyelesaikan terorisme.

Sebagaimana yang pernah dibumikan oleh Gus Dur, bahwa kita butuh Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Nyatanya lewat gagasan itu mampu menjadi simpul bagi kerukunan umat beragama. Terorisme terjadi bukan sebagai sebuah gerakan bom bunuh diri saja. Lebih dari itu ia telah menjadi sebuah paham dan keyakinan bagi pelakunya.

Maka itu, perlu digalakkan gagasan yang lebih manusiawi untuk menyelesaikan kasus terorisme. Indonesia kini punya penjaga gawang untuk menangkal persoalan terorisme, yaitu dengan membentuk gagasan Islam Rahmatan Lill’alamin. Artinya, Islam sebagai sebuah agama merupakan agama yang cinta damai dan menghargai perbedaan. Itu terbukti terjadi di Indonesia walaupun belum maksimal.

Cara ini cukup signifikan dalam menangkal penyebaran terorisme. Keberhasilan Indonesia dalam penyelesaian kasus ini sudah cukup untuk membuat kita berani menawarkan konsep di atas dalam menyelesaikan kasus terorisme global.

Selain itu, dalam menyelesaikan krisis politik global di antara negara yang berseteru, perlu lebih banyak membuka peluang untuk berdialog, karena ada hal yang paling penting dan menjadi musuh bersama bagi seluruh negara di dunia ini. Bahwa kasus terorisme, kelaparan yang terjadi di Somalia dan kemiskinan sangat urgen untuk segera diselesaikan, sedangkan perang yang selama ini menjadi gejolak politik dunia mulai dikurangi dengan lebih banyak berdialog.

HILFUL FUDHUL
Mahasiswa Manajemen Dakwah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 11 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...