Langsung ke konten utama

AS Memicu Ketegangan di Timteng

Serangan 59 rudal Tomahawk milik AS atas perintah Presiden Donald Trump pada Jumat (7/4/2017) ke Pangkalan Udara Shayrat di Homs, Suriah telah menimbulkan kerusakan sekaligus ketegangan.

AS dengan kekuatan militernya telah memicu konflik yang bisa berujung pada terjadinya perang yang menyeret banyak negara. Sekutu Suriah, yakni Rusia, mengecam keras tindakan yang dilakukan Negeri Paman Sam ini. Eskalasi politik global kini kian memanas. PM Rusia Dmitry Medvedev menyebut bahwa aksi AS tersebut sebagai tindakan ilegal dan satu langkah bentrok terhadap Rusia. Tak mau tinggal diam, Rusia mengirimkan kapal perang Admiral Grigorovic RFS-494 yang dipersenjatai rudal kaliber ke perairan Mediterania, Suriah.

Negara-negara dunia juga mulai bersikap menanggapi aksi AS ini. Rupanya serangan AS mendapat dukungan dari 12 negara sebagaimana dikutip dari New York Post, yakni Inggris, Jerman, Arab Saudi, Jepang, Prancis, Turki, Israel, Italia, Australia, Kanada, Uni Emirat Arab, Polandia. Sementara negara yang berseberangan dengan aksi AS yakni Suriah, Rusia, dan Iran. Bahkan kemungkinan dalam waktu ke depan, jumlah negara yang pro maupun kontra bisa bertambah, mengingat politik internasional yang bersifat dinamis dan adanya tarik menarik kepentingan.

Menanggapi isu panas tersebut, sudah semestinya Dewan Keamanan PBB mengambil sikap. Selama ini DK PBB seolah menutup mata jika AS bertindak bak koboi yang mempertontonkan ”keberingasannya”. Sebagai lembaga yang mempunyai tugas untuk mendorong perdamaian dunia, PBB sering kali tak bertaji jika menghadapi negara besar terutama AS dan sekutunya. Bagaimana dengan langkah yang perlu diambil oleh Indonesia dalam ketegangan global ini?

Sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab dalam menjaga perdamaian dunia. Kiprah Indonesia dalam dunia internasional tentu tidak perlu diragukan, mengingat sejarah telah mencatat bagaimana Indonesia mampu merangkul banyak negara dalam menyikapi blok dunia kala perang dingin setelah PD II. Melalui gerakan Nonblok, Indonesia menjadi poros penggerak dalam upaya menjaga konstelasi politik global. Diplomasi seharusnya menjadi jalan dalam pembicaraan dan mencari solusi global, bukan melalui unjuk senjata yang membabi buta.

Jangan sampai kawasan Timur Tengah khususnya Suriah, menjadi tempat pamer senjata yang mengorbankan warga sipil dan manusia meregang nyawa. AS sebagai negara yang dianggap kiblat demokrasi modern, yang berkoar-koar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan kedaulatan rakyat, masyarakat dunia kini ”menagih” komitmen tersebut.

Ringga Arif WH
Mahasiswa Sosiologi
Universitas Gadjah Mada

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 12 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...