Langsung ke konten utama

Politik Kebangsaan untuk Jakarta Baru

Lima bulan sudah publik digaduhkan oleh drama politik Jakarta yang cukup sengit. Beragam isu digunakan sebagai senjata dan komoditas politik. Implikasinya juga luar biasa besar.

Tak sedikit masyarakat, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta, ikut tersulut dan mendadak jadi juru kampanye, buzzer sampai hoax army yang cukup meresahkan. Ihwal fenomena ini ibarat alarm yang menandakan daruratnya keberagaman dan persatuan Indonesia. Melihat kenyataan demikian, logis apabila jawara baru Jakarta kali ini, Annies Baswedan-Sandiaga Uno, dibebani sebuah tanggung jawab moral yang begitu besar, yaitu menghadirkan politik kebangsaan, mengingat Jakarta adalah wajah peradaban nasional yang menjadi tolok ukur demokrasi Indonesia.

Politik kebangsaan dimaknai sebagai komitmen negara membentuk kepercayaan publik antara masyarakat-negara maupun solidaritas antarwarga melalui upaya akomodasi atas kepentingan entitas masing-masing dan kelompok masyarakat. Menjadi sebuah keniscayaan apabila politik kebangsaan harus dikedepankan pemerintahan berkuasa di mana pun. Gagasan tersebut dapat direalisasi dengan memberikan jaminan keleluasaan berpendapat, penghormatan atas sebuah keyakinan berikut hak atas pencapaian pribadi, dan hak untuk diperlakukan secara adil dalam ruang publik. Sejenak kita melihat sosok Abdurrahman Wahid almarhum yang akrab dengan sapaan Gus Dur.

Kepemimpinan Gus Dur dalam hal politik kebangsaan patut diacungi jempol. Misalnya saja cara pandang Gus Dur terhadap Papua. Selama ini Papua selalu digambarkan sebagai daerah yang diliputi keterbelakangan dalam berbagai hal. Tidak hanya itu, bahkan pemerintah pusat juga kerap mencurigai Papua sebagai entitas yang tidak mau diatur lantaran munculnya kelompok-kelompok separatis. Dari anggapan demikian, pemerintah sebelumnya maupun sesudahnya lantas selalu melakukan treatment terhadap Papua dengan dua pilihan.

Kalau tidak dengan infrastruktur, ya invasi militer. Faktanya, dua macam cara ini tidak membawa dampak signifikan bagi Papua dalam menumbuhkan kepercayaan kepada negara. Apalagi invasi militer yang justru semakin menimbulkan semangat perlawanan kepada negara. Menyadari akan hal ini, Gus Dur memiliki cara ketiga. Ketika banyak rezim melakukan penstereotipean lambang bintang kejora sebagai suatu pengkhianatan negara, Gus Dur justru memandang lambang tersebut sebagai entitas lokal yang perlu diakui.

Aksi heroik serupa juga pernah dilakukan Gus Dur manakala dia memperjuangkan kewarganegaraan etnik Tionghoa di Indonesia. Gus Dur melalui kebijakannya mencabut Inpres Nomor 14/1967 dan menggantinya dengan Keppres Nomor 6/2000. Keppres tersebut menjadi angin segar bagi etnik Tionghoa untuk mendapatkan haknya dan menjalankan kewajibannya setara dengan warga negara Indonesia pada umumnya. Cara Gus Dur memimpin memang sederhana, tetapi berdampak besar sebagai modal membangun sebuah negara berlandaskan hati nurani. Pemimpin Jakarta ke depan semestinya belajar dari Gus Dur. Pasalnya Jakarta merupakan miniatur Indonesia s28ehingga jelas memimpin Jakarta sama sulitnya dengan memimpin Indonesia.

Dalam suatu wilayah yang plural, pemerintah bukanlah realitas yang terpisah dari masyarakat. Pemerintah adalah perwujudan diri masyarakat ke level yang lebih tinggi. Penghormatan atas nilai-nilai yang berada di dalam masyarakat harus menjadi pelumas bagi roda pemerintahan. Begitulah politik kebangsaan semestinya dihadirkan untuk Jakarta harmonis dan Indonesia lebih baik.

Tauchid Komara Yuda
Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Gadjah Mada

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 28 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...