Langsung ke konten utama

Motif Ekonomi di Balik Konflik Suriah

Beberapa waktu lalu Amerika Serikat menjatuhkan bom di pangkalan udara milik Suriah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pengeboman ini sebagai respons atas penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh Pemerintah Suriah.

Atas kejadian itu, Rusia memprotes tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah AS dengan alasan serangan itu merupakan tindak agresi yang melanggar prinsip-prinsip hukum dan Piagam PBB (Sindonews.com, 15 April 2017). Alasan kemanusiaan disangka tidak cukup mendasari konflik yang terjadi di Suriah. Mengingat Timur Tengah sebagai negara-negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia, faktor ekonomi diyakini sebagai alasan utama konflik di Suriah.

Suriah diyakini memiliki peran sentral atas perdagangan minyak bumi dunia. Bersarangnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah juga menjadi alasan AS untuk menyerang kawasan tersebut. Hal ini sudah menjadi janji Donald Trump ketika kampanyenya menjelang pemilihan presiden AS. ISIS sebagai organisasi teroris terbesar dunia tentu tidak serta-merta memilih Suriah sebagai sarang utamanya.

ISIS adalah organisasi dengan pendanaan mandiri untuk menyokong pergerakan yang mereka jalankan. Salah satu sumber pendapatan ISIS terbesar adalah penjualan minyak ilegal, yaitu sebesar USD 50 juta per bulan (Lembaga Analisis HIS, Money.id, 9 Desember 2015). Suriah sebagai sarang ISIS diyakini memiliki akses strategis untuk melancarkan perdagangan ini. Selain ISIS, tentu Pemerintah Suriah adalah pihak yang paling memahami tentang akses gelap ini.

Hal ini menuntut AS menghegemoni pemerintahan Suriah untuk memotong akses gelap tersebut. Sebagai konsumen terbesar minyak bumi di dunia, pastinya AS sangat dirugikan ada akses ilegal ini. Konflik di Suriah mengarah ke motif perebutan sektor ekonomi. Dampak dari konflik di Suriah menelan korban warga sipil yang tak bersalah.

Konflik ini juga membuat kondisi politik yang tidak stabil, warga sipil terhambat memperoleh hak sebagai warga negara, baik hak pendidikan, ekonomi, keamanan, hingga keselamatan. Pertarungan kepentingan di Suriah terbukti telah mencederai asas kemanusiaan dengan menelan korban warga sipil. Dua negara adidaya yang menggembar-gemborkan kebebasan dan kesetaraan manusia nyatanya tidak dicontohkan dalam tindakan yang terjadi di Suriah.

Ada kemajuan teknologi digunakan untuk merusak alam dan menaklukkan manusia. Sebagaimana yang termaktub dalam Pancasila sila kedua dijelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi asas kemanusiaan. Dengan ini, Pemerintah Indonesia harus bersikap tegas atas konflik yang terjadi di Suriah. Seperti yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945, kewajiban Pemerintah Indonesia untuk ikut serta dalam mewujudkan ketertiban dunia.

Langkah yang dapat diambil oleh Pemerintah Indonesia adalah menentukan sikap tidak berpihak pada dua blok negara adikuasa. Gerakan serupa juga pernah dilakukan Ir Soekarno dengan menggalang Gerakan Nonblok. Gerakan ini untuk meredam ketegangan yang terjadi di antara Blok Barat dan Blok Timur. Dengan menghimpun negara nonblok lain, gerakan ini akan mampu mengimbangi dua blok yang sedang berseteru.

MOH AINUN NAJIB
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 18 April 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...