Inovasi atau pembaharuan berarti menemukan hal baru yang berbeda dari
yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Pembaharuan yang dapat
dilakukan mencakup hal yang luas, mulai dari gagasan, metode, hingga
alat.
Pembaharuan tersebut berusaha menciptakan perbedaan yang besar, memberikan dampak yang lebih luas dan menjanjikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Berbicara mengenai inovasi tidak akan jauh dari teknologi, terutama dalam era digital yang memiliki dependensi terhadap kemajuan teknologi. Dalam survei mengenai inovasi terhadap berbagai perusahaan-perusahaan di dunia yang dilakukan oleh The Boston Consulting Group pada 2015, kemajuan dalam platform teknologi dinilai sebagai faktor yang paling penting untuk menggerakkan (driving force) inovasi.
Teknologi yang mendukung inovasi membawa manfaat dengan mengurangi biaya, transformasi model bisnis, dan peningkatan suatu proses. Inovasi di bidang teknologi telah berhasil mengelaborasi sektor-sektor ekonomi, mulai dari perbankan hingga travel. Namun, pendidikan tetap menjadi salah satu dari sedikit sektor yang penggunaan informasi dan teknologi komunikasinya belum berinovasi.
Menurut survei UNESCO Global Education Digest, hanya 3% dari pengeluaran tahunan pendidikan secara global disalurkan ke pos teknologi. Tentunya jauh lebih rendah dibanding belanja sektor/industri lain, di mana teknologi membawa dampak yang besar. Akibatnya, sering dijumpai sekolah-sekolah dengan komputer rusak atau jadul, bahkan belum memiliki komputer sama sekali.
Selain itu, berbagai tantangan juga menunggu di depan jika ingin meraih manfaat penuh dari inovasi di bidang teknologi pendidikan, seperti kurang atau terbatasnya awareness dari masyarakat, program yang belum terprioritaskan, hambatan kultural, serta kurangnya pembiayaan dan sumber daya yang bisa mengoperasikan inovasi teknologi tersebut.
Untuk mengatasi hal ini memerlukan kolaborasi dan kerja sama dari stakeholders di bidang pendidikan, terutama guru dan orang tua yang mempunyai peran penting karena berhubungan langsung dengan peserta didik. Sebab, inovasi di bidang teknologi pendidikan mulai menunjukkan potensinya untuk mengatasi kesenjangan keterampilan (skills gap).
Teknologi ini dapat menurunkan biaya-biaya yang sering kali muncul dari pertemuan fisik. Teknologi meningkatkan peluang individu untuk belajar dengan siapa, di mana dan kapan pun—mengeliminasi variabel lokasi yang selama ini membatasi akses seseorang terhadap pendidikan. Teknologi juga memberikan seseorang pengalaman guru terbaik, yang kebanyakan mengajar pada institusi-institusi besar tertentu (sekolah atau universitas ternama).
Dengan itu, every student can now have access to the world every student can now have access to the worlds best teachers. Menurut para peneliti, personalisasi telah lama menjadi standar emas dalam pendidikan. Itulah sebabnya orang-orang berpendapatan tinggi mampu menyewa tutor atau guru privat untuk anak-anak mereka.
Kini dengan teknologi, seseorang bisa mengatur sendiri (personalisasi) apa yang ingin dipelajari, ditambah lagi beberapa platform juga memberikan feedback terhadap penggunanya. Inovasi di bidang teknologi pendidikan melengkapi pendekatan konvensional yang ada saat ini, baik berupa fasilitasi pembelajaran di dalam maupun luar sekolah. Keberadaan dan pengembangannya perlu didukung sehingga harapannya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
HATFAN HIZRIYAN SYAIDAN
Mahasiswa Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 18 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Pembaharuan tersebut berusaha menciptakan perbedaan yang besar, memberikan dampak yang lebih luas dan menjanjikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Berbicara mengenai inovasi tidak akan jauh dari teknologi, terutama dalam era digital yang memiliki dependensi terhadap kemajuan teknologi. Dalam survei mengenai inovasi terhadap berbagai perusahaan-perusahaan di dunia yang dilakukan oleh The Boston Consulting Group pada 2015, kemajuan dalam platform teknologi dinilai sebagai faktor yang paling penting untuk menggerakkan (driving force) inovasi.
Teknologi yang mendukung inovasi membawa manfaat dengan mengurangi biaya, transformasi model bisnis, dan peningkatan suatu proses. Inovasi di bidang teknologi telah berhasil mengelaborasi sektor-sektor ekonomi, mulai dari perbankan hingga travel. Namun, pendidikan tetap menjadi salah satu dari sedikit sektor yang penggunaan informasi dan teknologi komunikasinya belum berinovasi.
Menurut survei UNESCO Global Education Digest, hanya 3% dari pengeluaran tahunan pendidikan secara global disalurkan ke pos teknologi. Tentunya jauh lebih rendah dibanding belanja sektor/industri lain, di mana teknologi membawa dampak yang besar. Akibatnya, sering dijumpai sekolah-sekolah dengan komputer rusak atau jadul, bahkan belum memiliki komputer sama sekali.
Selain itu, berbagai tantangan juga menunggu di depan jika ingin meraih manfaat penuh dari inovasi di bidang teknologi pendidikan, seperti kurang atau terbatasnya awareness dari masyarakat, program yang belum terprioritaskan, hambatan kultural, serta kurangnya pembiayaan dan sumber daya yang bisa mengoperasikan inovasi teknologi tersebut.
Untuk mengatasi hal ini memerlukan kolaborasi dan kerja sama dari stakeholders di bidang pendidikan, terutama guru dan orang tua yang mempunyai peran penting karena berhubungan langsung dengan peserta didik. Sebab, inovasi di bidang teknologi pendidikan mulai menunjukkan potensinya untuk mengatasi kesenjangan keterampilan (skills gap).
Teknologi ini dapat menurunkan biaya-biaya yang sering kali muncul dari pertemuan fisik. Teknologi meningkatkan peluang individu untuk belajar dengan siapa, di mana dan kapan pun—mengeliminasi variabel lokasi yang selama ini membatasi akses seseorang terhadap pendidikan. Teknologi juga memberikan seseorang pengalaman guru terbaik, yang kebanyakan mengajar pada institusi-institusi besar tertentu (sekolah atau universitas ternama).
Dengan itu, every student can now have access to the world every student can now have access to the worlds best teachers. Menurut para peneliti, personalisasi telah lama menjadi standar emas dalam pendidikan. Itulah sebabnya orang-orang berpendapatan tinggi mampu menyewa tutor atau guru privat untuk anak-anak mereka.
Kini dengan teknologi, seseorang bisa mengatur sendiri (personalisasi) apa yang ingin dipelajari, ditambah lagi beberapa platform juga memberikan feedback terhadap penggunanya. Inovasi di bidang teknologi pendidikan melengkapi pendekatan konvensional yang ada saat ini, baik berupa fasilitasi pembelajaran di dalam maupun luar sekolah. Keberadaan dan pengembangannya perlu didukung sehingga harapannya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
HATFAN HIZRIYAN SYAIDAN
Mahasiswa Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 18 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar