Langsung ke konten utama

"Optimis" Kunci Berinovasi

Optimis, merupakan kata yang sering diucapkan dan digunakan seseorang untuk mencapai cita-cita yang tinggi. Sikap optimis akan selalu melekat pada diri seseorang yang berpandangan baik dalam segala hal.

Membahas inovasi seharusnya memang tidak boleh terlepas dari kata optimis. Sebab, inovasi hakikatnya menunjukkan dan mewujudkan sesuatu yang baru. Artinya, ketika kita mencita-citakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang lainnya, tentu untuk mewujudkan cita-cita itu harus memiliki sikap optimis yang tinggi.

Cita-cita itu tentunya bersifat positif. Berbicara inovasi di Indonesia, pertama kita harus mengakui bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah. Sumber daya alam yang dimaksud seperti pertambangan, pertanian serta perikanan, gas alam, minyak bumi, dan lain-lain. Konsep "berdikari dalam ekonomi" yang digagas oleh Bung Karno harus dijadikan landasan dalam membangun inovasi di negeri sendiri.

Sebab, dengan kekayaan alam yang begitu besar, Indonesia harus bisa mewujudkan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Untuk mewujudkan itu semua harus memiliki sikap optimis yang tinggi. Kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia sering menjadi sorotan negara-negara lain. Salah satunya kekayaan lautnya yang melimpah, selalu menjadi perhatian negara-negara tetangga.

Di sini, sikap optimis untuk terus berinovasi membangun ekonomi negeri harus semakin ditingkatkan. Sikap optimis itu dimulai dari kehidupan diri sendiri hingga menular di kehidupan kolektif. Bentuk-bentuk optimis yang harus ditingkatkan seperti selalu bersyukur, memaafkan, jadi pendengar yang baik, hilangkan kecemburuan, berpikir positif, yakin punya masa depan yang lebih baik, berhenti menyalahkan orang lain, serta kurangi pikiran negatif yang berlebihan.

Bentuk-bentuk sikap optimis yang sederhana itu sering dilupakan. Padahal, itu sangat berpengaruh untuk mewujudkan cita-cita. Apa lagi, optimis untuk mewujudkan inovasi. Masyarakat Indonesia di era modern ini, harus siap bersaing dalam hal inovasi yang bersifat positif. Tidak memandang masyarakat perkotaan maupun perdesaan, inovasi bisa diwujudkan asal ada niat serta sikap optimis yang tinggi.

Pemerintah dalam hal ini, diharapkan terus untuk mendukung segala bentuk peningkatan inovasi positif. Terutama peningkatan inovasi dalam hal ekonomi. Jika pemerintah terus mendukung inovasi yang positif, maka sikap optimis masyarakat dalam berinovasi semakin lama akan semakin kuat dan meningkat. Membangun budaya inovasi dalam sektor ekonomi, diharapkan bukan hanya bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Akan tetapi lebih dari itu, inovasi tersebut bisa bersaing di kancah internasional. Apalagi dengan adanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau AEC (ASEAN Economic Community) kita harus bersikap optimis bahwa Indonesia bisa bersaing dalam hal ekonomi. Sekali lagi, dengan meningkatkan dan memperkuat bentuk-bentuk sikap optimis maka inovasi bisa diwujudkan. Sikap optimis menjadi salah satu kata kunci untuk mewujudkan cita-cita berinovasi guna membangun negeri.

SANTOSO
Mahasiswa Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 12 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...