”Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Kutipan kalimat pidato dari Bung Karno tersebut cukup dikenal di seluruh kalangan, baik pemuda maupun orang tua. Jika merenung dan merefleksikan kalimat pidato itu, hakikatnya jumlah yang banyak belum tentu dapat membangun bangsa yang berkemajuan dan disegani di ranah dunia. Sebab, bukan hanya mutlak kekuatan fisik sebuah bangsa dapat dibangun. Ada yang lebih dari itu, yakni kecerdasan berpikir dan keuletan dalam berproses.
Dalam hal ini, sangat berpengaruh dalam membangun bangsa adalah pemuda. Pemuda merupakan kekuatan inti dari kalangan masyarakat. Pemuda sudah selayaknya memanfaatkan kecerdasannya untuk berpikir menjadi agent of change (agen perubahan) dalam memajukan negeri. Jangan sampai pemuda terhanyut dalam kehidupan negatif yang dapat merusak moral dan eksistensinya. Pergaulan bebas yang merusak pemuda harus dijauhi. Pemuda yang sejatinya adalah kalangan yang menjadi garda terdepan di negeri ini, harus berbuat positif untuk kemajuan. Tidak ada kata terlambat jika ingin berbuat untuk kemaslahatan.
Idealnya, pemuda harus bisa menjadi pelopor dalam membangun negeri. Yang sangat diharapkan dalam mewujudkan pembangunan sebuah negeri adalah hadirnya pemuda-pemuda inovatif yang dapat menciptakan karya-karya bermanfaat. Karya-karya yang dihasilkan tersebut dapat membantu negeri ini dalam menyejahterakan masyarakat. Misalnya berinovasi dengan bentuk wirausaha. Wirausaha yang bisa dijalankan oleh pemuda sangat bermacam-macam, seperti keterampilan menulis, keterampilan berdagang, dan keterampilan membuat produk kerajinan tangan. Semua itu bisa dilakukan apabila didasari dengan keinginan yang kuat untuk menjadi pemuda yang inovatif.
Pada era modern ini, persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan cukup berat. Dengan berbekal ijazah formal tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah seharusnya selaku pemuda harus bisa membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Menjadi pemuda inovatif setidaknya bisa membantu perekonomian pribadi dan keluarga. Pengangguran yang menjadi persoalan inti di negeri ini harus dijadikan bahan renungan oleh kalangan pemuda yang enggan untuk berinovasi. Tidak ada kata ”malas” untuk berpikir dan berbuat untuk menciptakan inovasi baru dalam membangun negeri.
Pemuda inovatif adalah pemuda yang tidak lagi berpangku tangan, apalagi meminta-minta. Banyak sekali ditemui di jalan-jalan raya pemuda yang masih mengamen. Pada era modern ini, harapan pertama yang diinginkan, yaitu tidak ada lagi pemuda-pemuda yang harus meminta-minta, padahal masih kuat untuk berusaha dan bekerja menjadi wirausaha. Kedua, pemerintah di negeri ini diharapkan terus memberikan motivasi kepada para pemuda untuk berinovasi membangun negeri.
Santoso
Mahasiswa Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 5 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Kutipan kalimat pidato dari Bung Karno tersebut cukup dikenal di seluruh kalangan, baik pemuda maupun orang tua. Jika merenung dan merefleksikan kalimat pidato itu, hakikatnya jumlah yang banyak belum tentu dapat membangun bangsa yang berkemajuan dan disegani di ranah dunia. Sebab, bukan hanya mutlak kekuatan fisik sebuah bangsa dapat dibangun. Ada yang lebih dari itu, yakni kecerdasan berpikir dan keuletan dalam berproses.
Dalam hal ini, sangat berpengaruh dalam membangun bangsa adalah pemuda. Pemuda merupakan kekuatan inti dari kalangan masyarakat. Pemuda sudah selayaknya memanfaatkan kecerdasannya untuk berpikir menjadi agent of change (agen perubahan) dalam memajukan negeri. Jangan sampai pemuda terhanyut dalam kehidupan negatif yang dapat merusak moral dan eksistensinya. Pergaulan bebas yang merusak pemuda harus dijauhi. Pemuda yang sejatinya adalah kalangan yang menjadi garda terdepan di negeri ini, harus berbuat positif untuk kemajuan. Tidak ada kata terlambat jika ingin berbuat untuk kemaslahatan.
Idealnya, pemuda harus bisa menjadi pelopor dalam membangun negeri. Yang sangat diharapkan dalam mewujudkan pembangunan sebuah negeri adalah hadirnya pemuda-pemuda inovatif yang dapat menciptakan karya-karya bermanfaat. Karya-karya yang dihasilkan tersebut dapat membantu negeri ini dalam menyejahterakan masyarakat. Misalnya berinovasi dengan bentuk wirausaha. Wirausaha yang bisa dijalankan oleh pemuda sangat bermacam-macam, seperti keterampilan menulis, keterampilan berdagang, dan keterampilan membuat produk kerajinan tangan. Semua itu bisa dilakukan apabila didasari dengan keinginan yang kuat untuk menjadi pemuda yang inovatif.
Pada era modern ini, persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan cukup berat. Dengan berbekal ijazah formal tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan. Sudah seharusnya selaku pemuda harus bisa membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Menjadi pemuda inovatif setidaknya bisa membantu perekonomian pribadi dan keluarga. Pengangguran yang menjadi persoalan inti di negeri ini harus dijadikan bahan renungan oleh kalangan pemuda yang enggan untuk berinovasi. Tidak ada kata ”malas” untuk berpikir dan berbuat untuk menciptakan inovasi baru dalam membangun negeri.
Pemuda inovatif adalah pemuda yang tidak lagi berpangku tangan, apalagi meminta-minta. Banyak sekali ditemui di jalan-jalan raya pemuda yang masih mengamen. Pada era modern ini, harapan pertama yang diinginkan, yaitu tidak ada lagi pemuda-pemuda yang harus meminta-minta, padahal masih kuat untuk berusaha dan bekerja menjadi wirausaha. Kedua, pemerintah di negeri ini diharapkan terus memberikan motivasi kepada para pemuda untuk berinovasi membangun negeri.
Santoso
Mahasiswa Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 5 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar