Langsung ke konten utama

Rindu Sosok Negarawan

Nelson Mandela telah pergi. Ia berpulang 3 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 5 Desember 2013. Ia pergi bersama kenangan atas peradaban damai.

Ia dikenang karena telah mentransformasi dirinya dari seorang pelawan menjadi pemaaf, dari seorang yang gelisah atas rasisme menjadi pribadi yang mengedepankan humanitas. Mandela telah berhasil menjadi seorang pemimpin transformasi sosial pada bangsanya yang telah mampu menghilangkan rasisme.

Selain Nelson Mandela, sosok lainnya yang dapat dicontoh adalah Mahatma Gandhi, tokoh revolusioner kemerdekaan dari India yang telah berhasil membebaskan India dari penjajahan Inggris.

Empat ajaran Gandhi menginspirasi rakyat India untuk melakukan perlawanan. Pertama satyagraha, jalan kebenaran. Gerakan ini mengajari rakyat India untuk berdiri dengan prinsip kebenaran, keadilan, dan peri kemanusiaan.

Kedua ahimsa, nonkekerasan. Gerakan ahimsa adalah gerakan tidak melakukan apa-apa atau berdiam diri. Gerakan ini sebagai bentuk protes untuk tidak mengerjakan sesuatu yang diperintah oleh musuh dan dengan sendirinya musuh akan kalah.

Ketiga hartal, ajaran kepada rakyat India untuk melakukan protes atas peraturan yang dianggap kurang adil atau sebagai tanda berkabung untuk memperingati kejadian menyedihkan.

Terakhir swadesi yang mengajari rakyat India agar mampu mencukupi kebutuhan sendiri dengan hasil dan usaha sendiri. Motivasi yang diberikan Gandhi membuat rakyat India mampu mengalahkan dan mengusir Inggris dari tanah India.

Selain dua tokoh dari Afrika dan India tersebut, Indonesia juga punya sosok negarawan yang menurut penulis merupakan seorang revolusioner yang mampu membawa sejumlah perbedaan, yaitu Soekarno dan Muhammad Hatta.

Dua sosok tersebut menjadi tokoh revolusioner kemerdekaan yang berhasil menginspirasi rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda dan melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Pancasila sebagai petunjuk hidup bernegara dan berbangsa Tokoh-tokoh di atas penulis pilih karena dengan dedikasinya mampu menjadi orang yang berbeda dari yang lain.

Mereka menciptakan sesuatu yang dapat dikenang sepanjang massa. Tapi bukan berarti tokoh-tokoh lain tidak memberikan sesuatu, melainkan keempat tokoh di atas menjadi representasi di antara tokoh-tokoh dunia lainnya yang berperan mewujudkan semangat nasionalisme untuk bangsa dan negaranya Di era sekarang, sosok negarawan seperti itulah yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di dunia ini.

Mereka punya prinsip bahwa jabatan yang diraih seseorang bukan pemberian manusia, tetapi yakin bahwa pemberian itu datang dari Tuhan sehingga mereka bekerja dan bekerja untuk bangsa dan negara sehingga melahirkan sosok negarawan. Oleh karena itu melalui artikel ini penulis mengungkapkan keinginan akan kehadiran sosok negarawan di Indonesia.

MUHAMMAD SYAFITRA
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegraan (PPKn)
Ketua Bidang Penulisan dan Penerbitan Forum Lingkar Pena
Universitas Negeri Makassar

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Jumat 7 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Pendidikan Berorientasi Lingkungan

Baru-baru ini, Jenna Jambeck, profesor teknik lingkungan dari University of Georgia, AS, mengemukakan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat dua dunia dalam pencemaran pembuangan sampah plastik ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton. Sedangkan Tiongkok di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. Karena itu, tidak mengherankan jika sampah menjadi salah satu penyebab bencana di negeri ini. Banjir, pencemaran lingkungan, dan timbunan longsor adalah sederet persoalan klasik yang diakibatkan sampah. Karena itu, tindakan preventif sangatlah dibutuhkan agar kita tidak lelah dalam membenahi beragam persoalan yang diakibatkan sampah. Tindakan-tindakan yang selama ini sering kali dilakukan hanyalah upaya berfokus jangka pendek. Tindakan yang bisa dianalogikan dengan pepatah ”gali lubang, tutup lubang” dan dilakukan berulang bagaikan tiada arti. Memang memitigasi banjir dengan perbaikan drainase dan menambah kedalaman sungai wajib menjadi prioritas mengatasi banjir ya...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...