Seberapa majukah teknologi sekarang? Thomas Alva Edison (1847), penemu
bola lampu, mungkin bisa dikatakan ilmuwan yang membuka kran
penemuan-penemuan yang memakai lampu sesudahnya, sebut saja komputer,
televisi, dan lainnya.
Sebelumnya, Michel Faraday (1791) menemukan listrik. Tentunya jika diurut dari awal, sebelum Edison menemukan bola lampu, penemuan Faraday lah yang men jadi cikal-bakal penemuan yang memakai listrik sesudahnya. Benda lain yang sangat dekat dengan kita berupa gawai yang kita pegang, tentunya merupakan hasil dari ide-ide yang sudah diperas sebelumnya. Inilah contoh inovasi. Dalam beberapa definisi, seperti yang telah dikatakan oleh Stephen Robbins, inovasi merupakan gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa. Usaha yang dilakukan Thomas Alva Edison untuk menemukan bola lampu tentunya tidak berdiri sendiri.
Mesti ada pundak ilmuwan yang menjadi tempat menemukan sesuatu yang baru. Lewat proses trial and error, dia mampu menemukan sesuatu yang baru. Meskipun sebelum bola lampu lahir, listrik sudah lebih dahulu mewarnai peradaban manusia saat itu. Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini, kenapa langkah-langkah bangsa kita terkesan lebih lambat daripada negara-negara tetangga? Bahkan boleh dikatakan, bangsa kita masih langka dalam hal inovasi. Spekulatif yang masih mewarnai perdebatan. Bangsa ini masih saja bertahan dengan kenyamanannya.
Namun, apakah hal-hal serupa tersebut menghambat proses inovasi di bangsa ini? Maka dari itu, ada beberapa hal yang dianggap perlu untuk dikemukakan dalam tulisan ini. Renald Kasali yang memang getol mengadakan inovasi dan menentang adanya stagnasi dalam proses berpikirnya para pemuda mengomentari terkait hambatan inovasi di bangsa ini. Adalah Jepang negara yang membuka dirinya terhadap gagasan dan perubahan dari luar serta menyadari bahwa keadaan dirinya masih kalah jauh dibandingkan dengan negara lain.
Perubahan yang ada ditanggapi dengan semangat pembaharuan. Uniknya, negara ini tidak lantas melupakan akar sejarahnya. Kemajuan Barat dan nilai-nilai Timur tradisional benar-benar dipadukan. Belajar dari Jepang dalam konteks berinovasi, tentu dirasa cukup baik ketimbang hanya berkutat pada masalah sepele terus. Dengan demikian, perlu untuk membuka diri terhadap gagasan lain dan menggabungkannya dengan gagasan yang sudah ada. Bukankah penemuan Edison tak luput dari ide sebelumnya? Jepang yang dirasa sudah mengalami kemunduran, akhirnya maju melesat. Bangsa ini kiranya lebih baik berbenah.
Berinovasi dan berguru kepada Jepang dirasa lebih baik daripada hanya terfokus pada kekuasaan. Karena itu, marilah berharap dan mulai menyadari keadaan bangsa ini. Melangkah ke arah yang lebih baik dan berani mengambil risiko yang solutif demi kemajuan bangsa ini.
Ahmad Ansori Alfan
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 5 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Sebelumnya, Michel Faraday (1791) menemukan listrik. Tentunya jika diurut dari awal, sebelum Edison menemukan bola lampu, penemuan Faraday lah yang men jadi cikal-bakal penemuan yang memakai listrik sesudahnya. Benda lain yang sangat dekat dengan kita berupa gawai yang kita pegang, tentunya merupakan hasil dari ide-ide yang sudah diperas sebelumnya. Inilah contoh inovasi. Dalam beberapa definisi, seperti yang telah dikatakan oleh Stephen Robbins, inovasi merupakan gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa. Usaha yang dilakukan Thomas Alva Edison untuk menemukan bola lampu tentunya tidak berdiri sendiri.
Mesti ada pundak ilmuwan yang menjadi tempat menemukan sesuatu yang baru. Lewat proses trial and error, dia mampu menemukan sesuatu yang baru. Meskipun sebelum bola lampu lahir, listrik sudah lebih dahulu mewarnai peradaban manusia saat itu. Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini, kenapa langkah-langkah bangsa kita terkesan lebih lambat daripada negara-negara tetangga? Bahkan boleh dikatakan, bangsa kita masih langka dalam hal inovasi. Spekulatif yang masih mewarnai perdebatan. Bangsa ini masih saja bertahan dengan kenyamanannya.
Namun, apakah hal-hal serupa tersebut menghambat proses inovasi di bangsa ini? Maka dari itu, ada beberapa hal yang dianggap perlu untuk dikemukakan dalam tulisan ini. Renald Kasali yang memang getol mengadakan inovasi dan menentang adanya stagnasi dalam proses berpikirnya para pemuda mengomentari terkait hambatan inovasi di bangsa ini. Adalah Jepang negara yang membuka dirinya terhadap gagasan dan perubahan dari luar serta menyadari bahwa keadaan dirinya masih kalah jauh dibandingkan dengan negara lain.
Perubahan yang ada ditanggapi dengan semangat pembaharuan. Uniknya, negara ini tidak lantas melupakan akar sejarahnya. Kemajuan Barat dan nilai-nilai Timur tradisional benar-benar dipadukan. Belajar dari Jepang dalam konteks berinovasi, tentu dirasa cukup baik ketimbang hanya berkutat pada masalah sepele terus. Dengan demikian, perlu untuk membuka diri terhadap gagasan lain dan menggabungkannya dengan gagasan yang sudah ada. Bukankah penemuan Edison tak luput dari ide sebelumnya? Jepang yang dirasa sudah mengalami kemunduran, akhirnya maju melesat. Bangsa ini kiranya lebih baik berbenah.
Berinovasi dan berguru kepada Jepang dirasa lebih baik daripada hanya terfokus pada kekuasaan. Karena itu, marilah berharap dan mulai menyadari keadaan bangsa ini. Melangkah ke arah yang lebih baik dan berani mengambil risiko yang solutif demi kemajuan bangsa ini.
Ahmad Ansori Alfan
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan
(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Rabu 5 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo
Komentar
Posting Komentar