Langsung ke konten utama

Pemuda dan Pembangunan Negeri

Fenomena kemiskinan dan pengangguran masih menjadi momok menakutkan di negeri yang kaya akan hasil alam ini. Paradoks inilah, yang lucunya, dianggap oleh sebagian orang merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Akibatnya, dengan sumber daya alam yang melimpah, menjadi kuli di negeri sendiri seolah adalah pilihan yang tepat. Ada banyak faktor mengapa kondisi Indonesia saat ini masih begitu-begitu saja. Satu hal dan faktor tersebut adalah tidak adanya inovasi dan kreativitas dari seluruh elemen masyarakat, terkhusus para pemuda. Inovasi dan kreativitas dalam segala bidang akan berbanding lurus pada pengentasan kemiskinan karena ketersediaan lapangan, serta kelincahan akan menyulap segala sesuatu menjadi bernilai ekonomis.

Nah, dalam pada konteks inilah, pemuda mempunyai peran signifikan dalam pembangunan bangsa. Oleh sebab itu, dalam proses pembangunan bangsa ke depan, kaum muda harus memiliki kesadaran akan eksistensinya sebagai subjek pembangunan bangsa, bukan objeknya. Dengan demikian, menjadi sebuah kewajiban bagi pemuda untuk menyiapkan dirinya menjadi kelompok sosial yang mampu menanamkan nilai-nilai profesionalisme dan kemandirian dalam diri pemuda maupun bangsa secara luas melalui berbagai inovasi dan kreasi yang mereka miliki.

Sayangnya hingga saat ini para pencari kerja dari kaum muda jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi menyebutkan bahwa pengangguran atau pencari kerja yang semakin tinggi di kalangan kaum muda tersebut selain adanya kesalahan paradigma kaum muda, juga akibat kurangnya pembekalan kaum muda dalam memasuki pasar kerja.

Hingga sekarang terdapat 11,1 juta pengangguran terbuka, 376.000 di antaranya bertitel sarjana. Bahkan kalau dibandingkan, jumlah angkatan muda yang menganggur jauh lebih tinggi daripada dengan negara- negara tetangga seperti Malaysia maupun Filipina. Kedua negara itu angkatan kerja muda yang menganggur relatif kecil dan terbatas, sehingga kedua negara ini mampu menciptakan 4% dari masyarakatnya yang bergerak dalam sektor entrepreneurship.

Sementara di Indonesia, dari 240 juta penduduknya, baru mencapai sekitar 0,51% yang bergerak di dunia usaha. Padahal untuk menjadi negara maju, setidaknya memiliki 2% dari jumlah penduduk bergerak di dunia usaha. Tentu ironis sekali, apalagi yang menjadi problem bangsa tersebut berada dalam ranah lingkungan pemuda. Oleh karena itu, sebagai jawaban atas problem ini maka ke depan segenap pemuda Indonesia harus mampu mengubah paradigma atau pola berpikirnya.

Bahwa sebagai kaum muda khususnya mereka yang mendapatkan pendidikan, bukan lagi sebagai pencari kerja, melainkan sebagai kelompok yang akan membuka lapangan kerja, sehingga ke depan akan ada puluhan ribu hingga jutaan penganggur yang akan mendapatkan akses pekerjaan. Bahkan, jika hal ini dapat berjalan secara kontinu maka kaum muda Indonesia akan menjadi pelopor bagi kemajuan bangsa.

Karena itu, ke depan para pemuda Indonesia diharapkan bisa menjadi solusi pembangunan bangsa. Jika dahulu pemuda berjuang merebut kemerdekaan, tugas pemuda sekarang adalah menjadi kreator dan inovator kebangkitan nasional dengan ikut serta menjadi pelopor solusi pembangunan dan kemandirian bangsa Indonesia tercinta. Mengubah pengangguran menjadi pembuka lapangan kerja sehingga bisa memupus kemiskinan di negeri ini.

MALIHATIN NAZIYAH
Mahasiswi Fakultas Ushuluddin
UIN Walisongo Semarang

(Poros Mahasiswa Koran Sindo, Selasa 18 Juli 2017)
Sumber: Koran Sindo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadan, Idul Fitri, dan Toleransi

Hari Raya Idul Fitri yang akan dilaksanakan umat Islam setelah puncak ibadah puasa Ramadan selama sebulan sekaligus sarana untuk memupuk persaudaraan sebangsa dan sesama muslim seluruh belahan dunia. Kata ” ied ” berarti ”hari raya”, sedangkan fitr artinya ”kesucian”, penggabungan dua makna tersebut membuahkan makna kesuksesan, keagungan, dan kesucian. Idul Fitri selain sebagai momentum mengumandangkan kalimat takbir dan salat Idul Fitri berjamaah di masjid, juga sebagai aktivitas solidaritas yang berbarengan dengan aktivitas berbagi makan-makanan, silaturahmi, dan saling memaafkan sehingga kesalahan yang lusa yang telah dilakukan bisa kembali menjadi suci kembali. Itu semua sudah cocok dengan budaya Indonesia yakni, ”gotong-royong” dan Bineka Tunggal Ika. Nilai sosial Idul Fitri pun menuai titik temu dengan nilai-nilai kebersamaan, kebebasan dan kesejahteraan. Namun itu semua masih jauh panggang dari api. Di mana akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan agama sebaga...

Bersatu Berantas Korupsi

Korupsi di negeri ini seperti sudah menjadi penyakit kronis. Sakitnya sudah mencapai level membahayakan. Sudah waktunya diobati supaya tidak menular dan menjangkiti yang lain. Kasus e- KTP yang saat ini ramai diperbincangkan menjadi salah satu bukti nyata. Kasus yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu memunculkan nama-nama besar yang diduga terlibat. Hal tersebut sontak mengejutkan publik. Publik pun seakan dibuat penasaran dengan hasil pengusutan kasus ini. Persidangan yang terkesan tertutup maupun dugaan adanya intervensi dari berbagai pihak semakin menggelitik benak masyarakat dan menanti akhir dari kasus ini. Keadilan dan keberanian lembaga berwenang tentu dinantikan dalam mengusut kasus ini hingga tuntas. Sudah cukup rasanya publik lelah menyaksikan ketidakadilan sehingga muncul berbagai dugaan seperti adanya intervensi. Jika hal tersebut terus berlangsung, yang dikhawatirkan adalah rasa tak acuh terhadap permasalahan negara. Kekecewaan yang menumpuk terhadap pe...

Kontrol Korupsi sejak Dini

Korupsi bermula dari ihwal kecil yang tanpa kita sadari akan menjadi besar. Mulai dari kata ” ah tidak apa-apa toh cuma dikit ini ” yang tanpa kita sadari mengantarkan kita ke penjara. Mengapa korupsi? Karena, ada ketidakpuasan dari diri sendiri yang menyebabkan ingin mengambil langkah lain untuk memuaskan hasrat tersebut. Jika di Negara Tirai Bambu koruptor di hukum mati, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuktikan bahwa Indonesia mempunyai banyak problem mengenai korupsi karena institusi hukum ini dikhususkan untuk memberantas korupsi. Berdasarkan data Transparency International, Indonesia pada 2016 menempati peringkat ke-90 dari negara terbersih di dunia. Negara-negara di Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia menempati peringkat teratas. Sedangkan negara paling korup diperoleh oleh Korea Utara, Sudan Selatan, dan Somalia. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki kinerjanya dalam memberantas...